PENJURU.ID | OPINI – Jam menunjukkan pukul 10 pagi. Di sebuah ruang guru Madrasah Ibtidaiyah, beberapa guru duduk berdampingan sambil menatap layar telepon genggam masing-masing. Sebagian membalas pesan dari grup sekolah, sebagian memeriksa laporan administrasi daring, seperti pengisian absensi, dan sebagian lainnya menelusuri berbagai notifikasi yang terus berdatangan. Pemandangan seperti ini semakin umum ditemukan di sekolah-sekolah Indonesia. Smartphone yang awalnya hadir sebagai alat bantu kerja kini menjadi perangkat yang hampir tidak pernah lepas dari aktivitas guru. Di tengah semangat transformasi digital dan Merdeka Belajar, muncul pertanyaan yang layak diajukan: apakah guru benar-benar menikmati kemerdekaan dalam bekerja, atau justru terjebak dalam budaya “merdeka scroll”?
Transformasi digital memang membawa banyak kemudahan bagi dunia pendidikan. Berbagai aplikasi komunikasi memungkinkan koordinasi berlangsung lebih cepat tanpa dibatasi ruang dan waktu. Guru dapat mengirim nilai, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti rapat daring, serta berkomunikasi dengan orang tua siswa hanya melalui satu perangkat. Sosok seperti Bu Sari, seorang guru sekolah dasar di Tangerang, misalnya, mengaku hampir seluruh aktivitas administrasi hariannya kini bergantung pada telepon genggam. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul konsekuensi yang kerap luput dari perhatian. Batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi semakin kabur karena pekerjaan dapat hadir kapan saja melalui notifikasi yang muncul di layar ponsel.
Fenomena tersebut berkaitan erat dengan konsep Quality of Work Life (QWL) atau kualitas kehidupan kerja. QWL tidak hanya berbicara tentang gaji atau fasilitas kerja, tetapi juga mencakup kepuasan kerja, kesejahteraan psikologis, keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan, serta tingkat stres yang dialami pekerja. Penelitian mengenai QWL pada guru menunjukkan bahwa kualitas kehidupan kerja dipengaruhi oleh beban kerja, kenyamanan lingkungan kerja, kesejahteraan, dan kemampuan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ketika guru terus-menerus terhubung dengan pekerjaan melalui smartphone, risiko kelelahan digital (digital burnout), gangguan konsentrasi, dan meningkatnya tekanan kerja menjadi semakin besar. Pada titik inilah pertanyaan “Merdeka Kerja atau Merdeka Scroll?” menjadi relevan untuk dikaji lebih jauh.
Kondisi tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan bagian dari perubahan sistem kerja yang semakin terdigitalisasi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi komunikasi yang berlebihan dapat meningkatkan beban kognitif (cognitive load) dan tekanan psikologis pekerja. Dalam konteks pendidikan, guru tidak hanya berhadapan dengan tugas mengajar, tetapi juga tuntutan administrasi, pelaporan, koordinasi antarguru, hingga komunikasi dengan orang tua siswa yang sebagian besar dilakukan melalui aplikasi pesan instan. Akibatnya, notifikasi pekerjaan dapat muncul kapan saja, bahkan di luar jam kerja formal. Situasi ini menyebabkan guru kesulitan memisahkan kehidupan profesional dari kehidupan pribadinya. Ketika waktu istirahat terus terganggu oleh urusan pekerjaan, kualitas pemulihan fisik dan mental menjadi menurun, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas kehidupan kerja guru secara keseluruhan.
Oleh karena itu, diperlukan langkah yang lebih sistematis untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kesejahteraan guru. Pertama, sekolah perlu menerapkan kebijakan komunikasi digital yang jelas, misalnya membatasi pengiriman pesan pekerjaan di luar jam kerja kecuali untuk kondisi yang benar-benar mendesak. Kedua, program digital detox hour dapat diterapkan pada waktu-waktu tertentu agar guru memiliki kesempatan untuk bekerja dan berinteraksi tanpa gangguan notifikasi yang terus-menerus. Ketiga, pemanfaatan teknologi harus diarahkan untuk mendukung produktivitas, bukan menciptakan ketergantungan baru yang memperpanjang jam kerja secara tidak langsung. Dengan demikian, semangat digitalisasi pendidikan tetap dapat berjalan tanpa mengorbankan Quality of Work Life guru. Merdeka Belajar seharusnya tidak hanya memberikan kebebasan bagi peserta didik untuk berkembang, tetapi juga menghadirkan lingkungan kerja yang sehat, manusiawi, dan berkelanjutan bagi para guru sebagai pelaksana utama pendidikan.
Penulis: Dinda Widiya Pitaloka, S.Pd.
Mahasiswa Program Pascasarjana, Manajemen Pendidikan S-2, Universitas Pamulang





