PENJURU.ID | Probolinggo – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur terus memperluas pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai langkah memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana.
Kali ini, program tersebut menyasar Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo dengan melibatkan 26 calon relawan dari berbagai unsur masyarakat.
Kegiatan berlangsung selama lima kali pertemuan, dimulai pada Rabu hingga Jumat (15-17/7/2026) dan dilanjutkan pada Senin hingga Selasa (20-21/7/2026). Selama pelatihan, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari Fasilitator BPBD Jawa Timur, Eko Yudha.
Pembentukan Destana tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan peserta mengenai kebencanaan, tetapi juga membangun sistem kesiapsiagaan yang dapat dijalankan secara mandiri oleh masyarakat di tingkat kelurahan.
Empat pertemuan awal difokuskan pada pemberian materi dasar yang meliputi penyusunan profil kelurahan, kajian risiko bencana secara partisipatif, sistem peringatan dini terpadu, pemetaan potensi bencana, penyusunan rencana kontijensi, hingga penyusunan rencana aksi sebagai pedoman penanggulangan bencana di lingkungan setempat.
Fasilitator BPBD Jawa Timur, Eko Yudha, mengatakan seluruh materi disusun agar masyarakat mampu memahami siklus penanggulangan bencana secara utuh, mulai dari tahap pencegahan hingga penanganan saat kondisi darurat.
“Program Destana menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengurangan risiko bencana. Kami ingin warga memiliki pengetahuan, keterampilan, sekaligus rasa tanggung jawab untuk menjaga keselamatan lingkungannya,” ujar Eko.
Menurutnya, penyusunan profil kelurahan dan kajian risiko menjadi langkah awal yang sangat penting karena setiap wilayah memiliki karakteristik ancaman yang berbeda.
“Dari hasil identifikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui titik-titik rawan, potensi yang dimiliki, serta langkah-langkah mitigasi yang paling tepat untuk diterapkan di wilayahnya,” katanya.
Ia menambahkan, sistem peringatan dini menjadi salah satu aspek yang harus dipahami seluruh peserta karena kecepatan penyampaian informasi akan sangat menentukan keberhasilan proses evakuasi.
“Ketika masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan setelah menerima informasi peringatan dini, maka risiko korban maupun kerugian dapat ditekan semaksimal mungkin,” jelasnya.
Pada pertemuan kelima yang dijadwalkan berlangsung Selasa (21/7/2026), peserta akan membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Jrebeng Kulon sebagai wadah koordinasi antara pemerintah kelurahan, relawan, dan masyarakat.
Selain pembentukan forum, peserta juga akan mengikuti simulasi penanganan banjir dan kebakaran sebagai bagian dari penguatan kemampuan teknis di lapangan
“Simulasi merupakan tahap penting karena peserta dapat mempraktikkan materi yang telah dipelajari. Mereka akan belajar membangun koordinasi, komunikasi, hingga mengambil keputusan secara cepat dalam situasi yang menyerupai kondisi sebenarnya,” ungkap Eko.
Ia berharap seluruh peserta dapat menjadi agen perubahan yang mampu menularkan pengetahuan kebencanaan kepada masyarakat di lingkungannya masing-masing.
“Keberhasilan Destana bukan diukur dari selesainya pelatihan, tetapi dari bagaimana masyarakat mampu menerapkan hasil pembelajaran ini dalam kehidupan sehari-hari. Ketangguhan terhadap bencana harus menjadi budaya bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah,” tegasnya.
Seluruh rangkaian pelatihan akan memberikan bekal sebanyak 28 jam pelajaran kepada 26 calon relawan sebelum kegiatan ditutup secara resmi oleh BPBD Kota Probolinggo pada Rabu (22/7/2026).
Melalui pembentukan Destana Jrebeng Kulon, BPBD Jawa Timur berharap lahir relawan-relawan yang mampu menjadi garda terdepan dalam edukasi kebencanaan, memperkuat koordinasi di tingkat kelurahan, serta membangun masyarakat yang lebih siap menghadapi berbagai ancaman bencana di masa mendatang.
(Prasojo)





