PLN Ungkap Alasan Pemadaman Bergilir di Jeneponto, Tambahan 125 MW Disebut Bantu Kurangi Durasi Padam
PENJURU. ID | JENEPONTO – PT PLN (Persero) ULP Jeneponto memberikan penjelasan terkait masih terjadinya pemadaman listrik bergilir di sejumlah wilayah Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
PLN menegaskan, pemadaman tersebut bukan dilakukan secara sengaja, melainkan terjadi akibat keterbatasan pasokan listrik pada sistem kelistrikan yang terinterkoneksi untuk wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat atau Sulselrabar.
Asisten Manajer Keuangan dan Umum sekaligus bagian komunikasi UP3 Bulukumba, Liza Rizki Fausiah, mengatakan tambahan pasokan listrik sebesar 125 megawatt (MW) dari PLN Jeneponto telah membantu mengurangi intensitas pemadaman.
“Dengan adanya bantuan dari PLN Jeneponto, kita sangat terbantu dengan pasokan tambahan 125 megawatt, sehingga pelaksanaan padam bergilir atau nyala bergilir itu bisa kita minimalisir,” jelasnya, Senin (07/09/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.
Meski durasi dan intensitas pemadaman disebut telah berkurang, PLN mengakui kondisi tersebut belum sepenuhnya dapat dihindari.
“Memang kita tidak bisa menghindari pemadaman itu terjadi di warga, karena kecukupan pasokan listrik ini untuk menerangi seluruh Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat,” ujarnya.
PLN juga menjelaskan keberadaan sejumlah pembangkit listrik di Jeneponto, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), bukan berarti seluruh energi yang dihasilkan diperuntukkan khusus bagi masyarakat Jeneponto.
Seluruh energi listrik yang dihasilkan pembangkit tersebut terlebih dahulu masuk ke sistem interkoneksi sebelum disalurkan kepada pelanggan di berbagai wilayah.
“Semua energi yang dibangkitkan oleh PLTB dan PLTU kita gabung dulu secara interkoneksi, kemudian kita sebarkan ke seluruh pelanggan yang ada,” jelasnya.
Menurut PLN, sistem tersebut membuat pasokan dari pembangkit yang berada di Jeneponto tidak dapat dipisahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat setempat.
“Ada pembangkit listrik di Jeneponto, tetapi pembangkit listrik itu masuk dalam sistem untuk seluruh wilayah Sulselbar,” tegasnya.
Di tengah keterbatasan pasokan, PLN mengajak masyarakat ikut membantu menjaga keseimbangan sistem kelistrikan dengan mengurangi penggunaan listrik yang tidak diperlukan.
PLN menilai penghematan energi secara bersama-sama dapat membantu menekan beban listrik yang harus disuplai ke pelanggan.
“Kami sangat berharap disosialisasikan untuk hemat energi. Kalau kita serentak semua bersama-sama melakukan efisiensi dan hemat energi, itu bisa membantu energi listrik yang perlu disuplai ke masyarakat,” katanya.
Masyarakat juga diminta melakukan langkah sederhana, seperti mematikan televisi dan lampu yang tidak digunakan serta mencabut charger dari stopkontak setelah selesai digunakan.
“Kalau sudah tidak digunakan, TV bisa kita matikan. Lampu di siang hari bisa kita matikan. Kemudian charger HP yang sudah tidak digunakan sebaiknya dicabut dari colokannya,” jelasnya.
Terkait waktu pemulihan kondisi kelistrikan, PLN menyatakan terus melakukan berbagai upaya agar pasokan listrik dapat kembali normal sepenuhnya.
“Kami usahakan secepatnya. PLN pasti berupaya supaya suplai energi listrik ini 100 persen kembali normal dan full secepatnya,” ujarnya.
Persoalan kompensasi bagi pelanggan yang terdampak pemadaman juga menjadi perhatian, terutama masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang aktivitasnya sangat bergantung pada listrik.
Pemadaman dalam waktu cukup lama dinilai berpotensi mengganggu kegiatan produksi dan pelayanan usaha masyarakat.
“Kalau terkait kompensasi, itu kan disampaikan oleh pemerintah. Selama ini masyarakat membayar tepat waktu, sementara pelayanan PLN saat ini belum 100 persen penuh,” ujar pihak yang membahas persoalan tersebut.
Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai pemberian kompensasi khusus bagi seluruh pelanggan terdampak di Jeneponto. Hal itu karena dampak pemadaman disebut tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi pelaku UMKM dan pengusaha kecil yang membutuhkan pasokan listrik untuk menjalankan aktivitas usahanya.
PLN menyatakan akan terus memantau kondisi sistem kelistrikan sekaligus mempercepat proses pemulihan pasokan.
Upaya tersebut dilakukan agar pelayanan listrik kepada masyarakat, khususnya di Kabupaten Jeneponto dan wilayah Sulselrabar, dapat kembali normal sepenuhnya.



