Di Tengah Laut, KM Lambelu Jadi Saksi Nyanyian Harapan Flobamora Sulsel untuk Flores

PENJURU. ID |MAKASSARFLORES – Lautan luas bukan penghalang bagi kepedulian. Di tengah perjalanan menuju Flores, Nusa Tenggara Timur, sebanyak 15 relawan Garda Flobamora Sulawesi Selatan bersama Forum Maumere Bersatu (Formab) Makassar membawa misi kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara yang terdampak bencana gempa.

Perjalanan menggunakan KM Lambelu itu pun berubah menjadi ruang solidaritas. Deru mesin kapal dan deburan ombak menjadi latar sebuah aksi penggalangan dana yang dilakukan secara spontan oleh para relawan bersama komunitas musik Flobamora All Talent.

“Perjalanan ini bukan sekadar menuju tanah kelahiran. Kami membawa semangat untuk berbagi dan memberikan sedikit harapan bagi saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah,” ujar Ketua Panitia Posko Peduli Flobamora Gempa Flores, Adrianus Tarore, Rabu (09/09/2026)

Tanpa panggung besar dan tata suara mewah, para musisi tampil dengan penuh ketulusan. Lagu-lagu daerah dan tembang populer mengalun di tengah kapal, dibawakan oleh Marius Mide Juang, Tommy Pandi, Yohanes Babo, Billy Asbar, dan Tyas Pandi.

Nyanyian tersebut perlahan mengubah suasana kapal. Para penumpang yang sebelumnya sibuk dengan aktivitas masing-masing ikut berkumpul, bernyanyi, hingga terhanyut dalam suasana haru.

“Musik menjadi bahasa yang menyatukan kita. Lewat lagu, kami ingin mengajak seluruh penumpang untuk ikut merasakan apa yang dirasakan saudara-saudara kita di Flores,” kata salah seorang musisi Flobamora All Talent.

Dari lantunan lagu itulah donasi mulai terkumpul. Penumpang KM Lambelu dengan sukarela menyisihkan sebagian rezekinya sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat Flores yang tengah menghadapi dampak bencana.

Bagi para relawan, setiap bantuan memiliki arti. Nilainya bukan hanya diukur dari jumlah yang diberikan, tetapi dari ketulusan dan rasa persaudaraan yang menyertainya.

Ketua Garda Flobamora Sulsel sekaligus Ketua Pengarah Panitia Posko Peduli, Marius Mide Juang, mengatakan aksi tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian tidak mengenal batas tempat.

“Di tengah laut pun kita masih bisa berbuat sesuatu untuk sesama. Ini adalah bukti bahwa rasa persaudaraan dan kepedulian tidak pernah dibatasi oleh jarak,” tegas Marius.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kru dan manajemen KM Lambelu yang memberikan ruang bagi para relawan untuk menggelar aksi kemanusiaan selama perjalanan.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada manajemen dan seluruh kru KM Lambelu yang telah memberikan ruang dan kepercayaan kepada kami untuk menggalang bantuan. Dukungan ini sangat berarti bagi misi kemanusiaan yang kami jalankan,” ungkapnya.

Respons penumpang pun begitu hangat. Sejumlah penumpang mengaku terharu melihat semangat para relawan dan musisi yang tetap bergerak membantu meski sedang berada jauh di tengah perjalanan laut.

“Ada rasa haru ketika melihat saudara-saudara kita masih mau peduli seperti ini. Semoga bantuan yang terkumpul bisa benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan,” tutur salah seorang penumpang.

Bagi Flobamora Sulsel dan Formab Makassar, aksi di atas KM Lambelu bukan sekadar penggalangan dana. Momen tersebut menjadi simbol bahwa diaspora Nusa Tenggara Timur tetap memiliki ikatan kuat dengan tanah kelahirannya.

“Ini bukan hanya tentang bantuan, tetapi tentang bagaimana kita menjaga rasa persaudaraan. Ketika Flores membutuhkan, kita semua terpanggil untuk hadir,” kata Adrianus.

Dana yang berhasil dihimpun dari aksi tersebut selanjutnya akan digabungkan dengan bantuan utama Posko Peduli Flobamora Gempa Flores untuk disalurkan kepada masyarakat terdampak di sejumlah wilayah di Flores.

Dari sebuah panggung sederhana di tengah samudra, pesan kemanusiaan itu pun berlayar menuju Flores. Membawa bantuan, doa, dan satu pesan kuat: jarak boleh membentang, tetapi persaudaraan tidak pernah terputus.

Pos terkait