PENJURU.ID | Cimahi – Sebuah rekaman sederhana di sudut jalan Kota Cimahi menghadirkan kisah haru tentang keteguhan seorang pelajar dan kepedulian yang lahir tanpa rencana. Seorang siswi SMA yang tetap mengenakan seragam sekolah terlihat menjajakan kacang demi membantu ekonomi keluarga.
Momen itu terjadi sekitar sepekan lalu, saat mantan Kapolres Jeneponto, Widi Setiawan, baru memulai tugas barunya di Bandung. Ketika sedang menikmati semangkuk bakso di pinggir jalan, pandangannya tertuju pada remaja putri yang tak malu berjualan di sela waktu sekolah.
Alih-alih menikmati masa remaja seperti kebanyakan teman seusianya, siswi tersebut memilih berdiri di tepi jalan, menawarkan dagangannya dengan penuh kesungguhan. Pemandangan itu menyentuh hati AKBP Widi. Ia pun merekamnya secara spontan.
“Niat saya hanya kirim ke anak saya untuk motivasi agar dia bersyukur dan semangat menuntut ilmu. Ternyata malah viral. Video itu saya ambil spontan pas lagi makan bakso, seminggu setelah saya pindah tugas ke Bandung,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (13/02/2026).
Tanpa disangka, video singkat itu menyebar luas di media sosial. Warganet tersentuh melihat perjuangan sang siswi yang berjualan tanpa gengsi. Gelombang empati itu akhirnya sampai ke telinga tokoh Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Merespons kisah tersebut, Kang Dedi Mulyadi bergerak cepat dan mengundang siswi itu untuk bertemu langsung. Bantuan pun diberikan sebagai bentuk dukungan agar ia dapat terus melanjutkan pendidikan dengan lebih tenang.
“Alhamdulillah, melalui video tersebut anak ini sekarang dibantu oleh Kang Dedi,” tulis AKBP Widi dengan nada haru.
Bagi masyarakat Jeneponto, kepedulian AKBP Widi bukanlah hal baru. Semasa memimpin Polres Jeneponto, ia dikenal dekat dengan warga kecil dan aktif dalam kegiatan sosial mulai dari bedah rumah, penyaluran sembako, hingga mendorong jajaran Bhabinkamtibmas peka terhadap warga yang sakit atau kesulitan ekonomi.
Kini, meski telah bertugas di Bandung, naluri kemanusiaannya tetap terasa. Kisah siswi penjual kacang ini menjadi pengingat bahwa kebaikan tak selalu direncanakan. Kadang, ia lahir dari momen sederhana dan mampu membuka jalan harapan.
Bagi sang siswi, perhatian dan dukungan yang diterimanya diharapkan menjadi pijakan baru untuk terus mengejar cita-cita. Di balik seragam sekolah dan dagangan kacang yang ia bawa, tersimpan tekad kuat untuk mengubah masa depan melalui pendidikan.





