PENJURU.ID | Jakarta – Pihak kepolisian telah menangkap 12 terangka kasus penembakan bos pelayaran, Sugianto, kejadian penembakan tesebut di Royal Square, Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Kamis 13 Agustus 2020 lalu.
Salah satu dari 12 tersangka itu berinisial DM (50), sebelum penembakan dimulai DM sempat menolak ajakan dari RS (45) dengan alasan sudah taubat, bahkan DM sempat melaksanakan salat istiqarah sebelum akhirnya melakukan eksekusi penembakan. Kemudian RS menyampaikan, ajakan tersebut datang dari MM (42) suami siri NL (34) si otak pelaku pembunuhan berencana terhadap Sugianto.
Hal tersebut terungkap berdasakan reka adegan kasus penembakan berencana terhadap Sugianto yang digelar di Polda Metro Jaya, Selasa (25/8/2020).
Hasil dari reka adegan diketahui, awalnya pada 10 Agustus 2020 tersangka RS menghubungi DM melalui sambungan telepon dengan menawarkan DM menjadi eksekutor pembunuh Sugianto.
“Pak DM mau nggak bunuh orang?” ujar RS saat reka adegan.
“Mohon maaf Pak saya sudah taubat,” jawab DM.
Kemudian RS menjelaskan tawaran tersebut merupakan perintah dari tersangka MM, selain itu RS membujuk DM dengan mengingatkan sosok MM merupakan penerus perjuangan ayah NL selaku guru spiritual mereka.
“Saya istikharah dulu Pak,” ujar DM.
“Oke silahkan istikharah, tapi saya pun akan konfirmasi ke Kakang (MM),” kata RS.
Ternyata motif dari pembunuhan berencana ini dinisiasi oleh NL sebagai karyawannya. Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jean Calvijn Simanjuntak menyatakan, alasan NL merencanakan pembunuhan terhadap Sugianto karena takut dilaporkan ke polisi terkait penggelapan uang perusahaan.
“Tersangka NL ini adalah salah satu karyawan korban. Motif terkait dua hal, hal pertama terkait amarah dan sakit hari NL pada korban dengan seringnya dimarahi dan seringnya pelecehan memaksa untuk melakukan hubungan intim walaupun tidak pernah terjadi,” ujar Calvijn, Selasa (25/8/2020).
“Kedua adalah kekhawatiran tersangka NL karena dengan korban mengajak hubungan intim ditolak, dengan diancam akan melaporkan ke petugas terkait dua hal juga. Pertama penggelapan uang perusahaan dan kedua kekhawatiran terkait dengan pengurusan pajak perusahaan yang tidak tertib. Kekhawatiran tersebut mengakibatkan akhirnya menghire beberapa aktor, beberapa tersangka lainnya,” sambungnya.
(Dina)





