Seba Baduy, ungkapan rasa syukur Suku Baduy terhadap hasil panen yang berlimpah

Seba Baduy, ungkapan rasa syukur Suku Baduy terhadap hasil panen yang berlimpah

PENJURU.ID | Budaya – Urang Kanekes atau yang biasa disebut orang Baduy merupakan salah satu suku tertua di Indonesia. Suku yang berada di Banten ini terbagi menjadi 2 yaitu Baduy luar dan Baduy dalam. Suku ini sangat tertutup dengan dunia luar dan sangat jarang mau untuk dipublikasikan ataupun didokumentasikan.

Salah satu momen atau waktu untuk seluruh masyarakat Baduy pergi meninggalkan kampung mereka adalah saat Seba Baduy, seluruh masyarakat Baduy baik Baduy dalam maupun Baduy luar akan berbondong-bondong pergi untuk bertemu dengan kepala pemerintah daerah atau yang biasa mereka sebut Panggede.

Bacaan Lainnya

Seba Baduy merupakan tradisi yang telah dijalankan oleh suku Baduy selama ratusan tahun sebagai ungkapan rasa syukur mereka karena hasil panen yang berlimpah. Suku Baduy luar dan suku Baduy dalam akan berbondong-bondong pergi sambil membawa hasil panen untuk diserahkan kepada Panggede atau kepala pemerintah daerah sekaligus melaporkan seluruh kejadian yang telah terjadi selama satu tahun terahir.

Tradisi Seba Baduy merupakan tradisi turun-temurun yang telah dilaksanakan selama berabad-abad oleh para leluhur suku Baduy sejak zaman kesultanan Banten dan harus dilakasanakan 1 tahun sekali. Tradisi ini biasanya dilakukan setelah musim panen ladang huma atau ladang pertanian yang hasil panennya akan dipersembahkan kepada para Panggede.

Saat Seba Baduy berlangsung masyarakat Baduy dalam biasanya akan mengenakan pakaian serba putih dan datang dengan berjalan kaki, sedangkan masyarakat Baduy luar datang menggunakan kendaraan seperti truk.

Tradisi Seba Baduy di Banten

Dalam pertemuan dengan Panggede ini lah suku Baduy akan menitipkan pesan kepada pemerintah agar tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan, karena masyarakat Baduy tinggal di kawasan hutan yang harus dijaga kelestariannya karena suku Baduy percaya bahwa hal tersebut akan menjauhkan mereka dari bencana.

Tradisi ini telah menarik banyak perhatian mulai dari wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara, tradisi ini juga telah masuk ke dalam 100 Calender Of Evet Kementerian Pariwisata Indonesia. Selain memperkenalkan budaya Indonesia, acara ini juga sekaligus melestarikan kearifan lokal serta memberikan dampak positif bagi kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

Pos terkait