PENJURU.ID | Probolinggo – Suasana penuh khidmat menyelimuti halaman Kantor Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Selasa (16/06/2026) malam. Masyarakat berkumpul mengikuti tradisi Jamasan Kentongan Lembu Suro yang menjadi salah satu rangkaian kegiatan Bersih Lahir dan Jiwa Masyarakat (Belah Jimat) Kelurahan Mangunharjo.
Dengan mengangkat tema “Winangun Kerta Kinaryo Japa” yang bermakna membangun kesejahteraan dan kedamaian melalui sarana doa, kegiatan tersebut menjadi bentuk ikhtiar masyarakat dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat nilai spiritual dan kebersamaan.
Tradisi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Mangunharjo bersama Pokmas Teja Arum ini turut dihadiri Sekretaris Camat Mayangan Taufik Hidayat, Lurah Mangunharjo Ikromi Wida Utama, Sekretaris Kelurahan Mangunharjo M. Isful Danuari, unsur Bhabinkamtibmas, Babinsa, Ketua RT dan RW se-Kelurahan Mangunharjo, serta masyarakat sekitar.
Rangkaian kegiatan diawali dengan istighosah bersama. Masyarakat memanjatkan doa untuk para leluhur dan tokoh pendahulu Mangunharjo yang telah memberikan jasa dalam perjalanan sejarah terbentuknya wilayah tersebut.
Setelah doa bersama, kegiatan dilanjutkan dengan penyajian sedekah bumi. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas berbagai keberkahan yang diterima sekaligus doa bersama agar Mangunharjo selalu diberikan keamanan, ketenteraman, kedamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Puncak kegiatan ditandai dengan prosesi Jamasan Kentongan Lembu Suro. Ritual pembersihan peninggalan budaya tersebut dilakukan oleh tokoh adat Kelurahan Mangunharjo sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Usai prosesi adat, Lurah Mangunharjo Ikromi Wida Utama turut melakukan jamasan terhadap Kentongan Lembu Suro. Ritual kemudian dilanjutkan secara estafet oleh Ketua RW dan masyarakat yang ingin ikut serta dalam prosesi tersebut.
Ketua LPM Kelurahan Mangunharjo, Rudi Purwanto menjelaskan, kegiatan Belah Jimat merupakan upaya masyarakat dalam menggali kembali sejarah dan melestarikan budaya yang ada di Kelurahan Mangunharjo.
“Awal mula Belah Jimat ini berangkat dari keinginan untuk menggali sejarah Mangunharjo sekaligus menjaga peninggalan budaya yang diwariskan oleh para pendahulu. Karena sebuah daerah memiliki perjalanan panjang yang harus diketahui oleh generasi penerus,” kata Rudi.
Ia menyampaikan, sebelum kegiatan Belah Jimat dilaksanakan, pihaknya melakukan penelusuran sejarah melalui kegiatan ziarah ke makam Kepala Desa Mangunharjo pertama hingga kelima.
“Ziarah ini menjadi bentuk penghormatan kepada para pemimpin terdahulu yang telah memiliki peran besar dalam perjalanan Mangunharjo. Termasuk mengenang perjuangan para kepala desa yang menjadi bagian dari sejarah wilayah ini,” jelasnya
Rudi menambahkan, salah satu peninggalan yang menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut adalah Kentongan Lembu Suro yang dibuat pada tahun 1918.
“Kentongan Lembu Suro merupakan peninggalan Kepala Desa Mangunharjo ke-2, Misrun yang bergelar Lembu Suro. Kentongan ini menjadi salah satu ikon budaya Mangunharjo,” ungkapnya.
Menurutnya, kentongan tersebut dibuat langsung oleh Mbah Misrun dengan cara memahat. Berdasarkan cerita turun-temurun masyarakat, alat pahat yang digunakan untuk membuat kentongan itu diperoleh dari Gunung Kelud setelah menjalani pertapaan selama 40 hari 40 malam.
Rudi menjelaskan, tradisi Jamasan Lembu Suro memiliki perjalanan panjang. Kegiatan tersebut terakhir kali dilaksanakan pada tahun 1972 saat terjadi perubahan status pemerintahan dari desa menjadi kelurahan.
“Setelah tahun 1972, tradisi ini sempat tidak dilaksanakan kembali selama kurang lebih 50 tahun. Kemudian pada tahun 2022, Kelurahan Mangunharjo kembali menghidupkan Jamasan Lembu Suro dan terus dilaksanakan sampai sekarang,” ujarnya.
Ia menerangkan, rangkaian Belah Jimat tidak hanya berfokus pada prosesi jamasan, tetapi juga diawali dengan ziarah ke makam Kepala Desa Mangunharjo pertama hingga kelima serta makam Bupati Probolinggo pertama dan kedua.
“Setelah ziarah, dilanjutkan dengan istighosah bersama masyarakat untuk mendoakan para arwah leluhur. Kemudian dilaksanakan ritual jamasan dengan memandikan Kentongan Lembu Suro sebagai simbol menjaga warisan budaya,” katanya.
Rudi berharap tradisi tersebut mampu menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai sejarah lokal dan perjuangan para leluhur.
“Pemeliharaan budaya adalah sebuah kekayaan yang dimiliki Mangunharjo. Dengan menjaga budaya, masyarakat bisa mengetahui asal-usul dan perjalanan peradaban yang tidak lepas dari perjuangan para pendahulu,” pesannya.
Selain sebagai pelestarian budaya, kegiatan Jamasan Lembu Suro juga menjadi momentum mempererat hubungan masyarakat melalui kebersamaan, gotong royong, dan doa bersama.
Sementara itu, Sekretaris Camat Mayangan Taufik Hidayat memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan Jamasan Kentongan Lembu Suro dalam rangkaian Belah Jimat Kelurahan Mangunharjo.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Kelurahan Mangunharjo bersama LPM, Pokmas, dan seluruh masyarakat. Ini merupakan langkah positif dalam menjaga budaya dan sejarah lokal yang memiliki nilai tinggi,” ujar Taufik.
Menurutnya, keberadaan tradisi seperti Jamasan Kentongan Lembu Suro menjadi bukti bahwa masyarakat masih memiliki kepedulian terhadap peninggalan budaya daerah.
“Kegiatan ini tidak hanya menjaga benda peninggalan sejarah, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan kepada para leluhur,” tuturnya.
Taufik berharap tradisi Belah Jimat dapat terus dilestarikan dan menjadi bagian dari identitas Kelurahan Mangunharjo.
“Semoga kegiatan ini terus berjalan, memberikan keberkahan bagi masyarakat, serta membawa Mangunharjo menjadi lingkungan yang semakin aman, damai, maju, dan sejahtera,” pungkasnya. (Pras)





