Membangun Percakapan di Era Virtualisasi

M. Fazwan Wasahua, SH Ketua DPW KPN Provinsi Maluku (sumber foto dari akun Facebook pribadinya)

PENJURU.ID | OPINI – Sebagian besar kita telah kehilangan sensitiftas kemanusiaannya. Alih-alih membela keberadaban, yang dilakukan justru menampilkan tabiat kebiadaban, buah dari jiwa
yang belum ber-evolusi dari jiwa hewaniah menuju jiwa manusia. Akhirnya yang terjadi
adalah lakon bakuhantam di sana-sini, saling unjuk taring siapa kuat siapa perkasa.
Dalam era virtualisasi seperti sekarang ini, tabiat kehewanan itu semakin menjadi-jadi,
membabi-buta tak terkendali. Akibatnya, tradisi percakapan antar manusia yang ber-akal telah hilang dan digantikan dengan adu otot dan kekuatan.

Padahal percakapan adalah tradisi manusia yang paling asasi dalam usahanya
membangun peradaban. Dengan percakapan, kita mampu menampilkan gagasan yang
cakap, tentu bukan dengan motif ingin saling menegasi pihak berbeda yang juga sama-
sama cakap. Tapi saling menyempurnakan kekurangan-kekurangan untuk
memantapkan bangunan peradaban yang sedang kita cita-citakan. Hal yang mustahil
kita temui dan atau dapat dilakukan oleh spesies lain di muka bumi, dan dalam semesta
yang multiverse ini.

Bacaan Lainnya

Semakin majunya teknologi, media informasi dan komunikasi, menjadikan era ini serba
virtualisasi. Artrinya hal-hal yang sebelumnya dianghap mustahil, saat ini dapat
menemukan ruangnya yang paling logis dengan alasan-alasan rasionalisasi. Hal itu
berdampak juga pada terdegradasinya legitimasi dan klaim keahlian oleh mereka yang
menyandang gelar ahli.

Hal itu dapat diamati secara faktual, betapa banyak argumentasi ahli telah dibantah
oleh mereka yang tak memiliki sama sekali sertifikat ahli. Akhirnya kondisi saling
berhadap-hadapan pun terjadi. Di mana krisis kepercayaan itu telah ditujukan secara
terbuka kepada semua pandangan yang telah disajikan dengan ragam data hasil
penelitian dan diskurusus para ahli itu.

Padahal, jika kita mau mengurai keadaan ini, maka sebenarnya para ahli menemukan
fakta baru dari apa yang mereka teliti secara parsial dan sepesifik mengenai suatu
dugaan yang dianggap penting untuk ditelusuri. Sementara dari sajian data-data parsial
dan partikular itu, kita mampu memproyeksi, atau setidaknya memprediksi masa depan
secara holisitik-komprehensif berdasarkan objektifitas faktual yang disajikan oleh para
ahli. Pada titik inilah sebenarnya kita harus memahami kerjasama yang erat antara
keduanya, yang tak perlu dihadap-hadapkan pada dua sisi yang saling menegasi.

Hal ini harus disadari, sebab dalam era virtualisasi, segala macam informasi;
pengetahuan, sejarah, hasil penelitian dan semacamnya yang bersifat partikal begitu
mudah diakses secara terbuka, oleh karena itu mudah untuk di dapatkan.
Sarjana hukum tidak bisa lagi menganggap mereka lebih paham soal bagaimana dan
seperti apa hukum. Orang ekonom tidak dapat lagi mengklaim diri sebagai yang paling ahli.

Begitupula semua tata disiplin keilmuan yang masih dipelajari sampai saat ini.
Sebab, dengan kemajuan media, dan dengan mudahnya akses informasi, semua orang
dapat mengetahui. Yang membedakannya hanyalah kemampuan memahami dan
mendalami persoalan partikularitas diberbagai tata disiplin tadi. Itupun masih terbuka
ruang yang sangat bebas agar dapat dipelajari, oleh siapa saja yang ingin mengetahui.
Dengan kata lain, sebagian orang dikatakan ahli hanyalah soal legitimisi normatif yang
diakui oleh otoritas Negara, atau Lembaga Internasional yang berusaha menjaga
standarisasi yang diakui dalam perguruan tinggi dengan ragam metodologi.

Nah, ketika hal-hal semacam ini telah disadari dan dipahami, maka percakapan lintas
ahli, dan juga masyarakat luas mestinya saling mengisi, bukan saling menegasi.
Artinya, metodologi itu hanya persoalan pakem yang lahir dari basis epistemologi, di
dalamnya juga masih terbuka ruang untuk di kritisi. Maka, metodologi di luar itu
mestinya tak mesti dianggap salah, atau bahkan ngawur, jika masih memeiliki kerangka
yang dapat di uji secara ilmiah dan filosofis.

Persoalannya adalah, karena ketidaksadaran ini, dan karena egoi metodologi, para ahli
begitupula sebaliknya sering saling menyalahkan dan menegasi, padahal yang di
persoalkan lahir dari pengamatan objek yang sama.
Kita sudah harus membuang model percakapan yang dominatif, hegemonik, apalagi
monopolistic. Kita sudah harus membangun tradisi percakapan yang saling mengisi.
Sebab tidak semua informasi yang kita pandang baru, aneh dan tak masuk akal itu
sama dengan salah, invalid, dan semacamnya. Karena bisa saja anggapan seperti itu
lahir dari perbedaan cara pandang dan fokus terhadap masalah dengan objek yang
sama.

Percakapan yang saling mengisi akan membuat peradaban kita bergerak maju,
dinamis, dan tidak statis, degradatif apalagi destruktif. Jadi model percakapan individualistik harus dirubah dengan model percakapan inter-individual. Percakapan yang ekslusif-informatif harus diganti dengan model percakapan
yang plural-informatif. Semua itu agar percakapan kita tidak diwarnai oleh obrolan yang
hanya ingin di dengar, ingin diakui, ingin di jadikan pusat kevalidan semua hal. Sebab
pada prinsipnya, sebagaimana dikaakan tadi, semua orang memiliki informasi,
setidaknya secara parsial dan particular. Oleh karenanya, kita hanya perlu merangkai
berbagai semua informasi itu menjadi satu gagasan yang komprehensif dan holisitik.

M. Fazwan Wasahua
Ketua DPW KPN Provinsi Maluku

Pos terkait