PENJURU.ID | Opini – Teror itu punya target, kita harus tahu target mereka, maka segala upaya menggagalkan target teror adalah ukuran kemenangan. Ini harus kita sepakati dulu.
Sifat teror itu akan meluas jika diterima dengan rasa takut yang disebarkan. Maka jika kita ikut ketakutan, maka kita bukan melawan teror tetapi jadi bagian agenda para teroris itu sendiri.
Ibarat teror yang pas adalah seperti virus corona. Kita harus bisa putus mata rantai teroris ini.
Sumber apa yang buat kita takut ?
1) ketidaktahuan manusia itu sumber ketakutannya.
Komitmen adanya negara sebagai penjamin ketenangan seluruh masyarakat yang bisa jadi tak tahu, cukup berpegang teguh dg komitmen pemerintah.
Virus Corona
(1) Pakai Masker
Pesan kita ke saudara kita jangan menyebar lebih besar ketakutan, tetapi diam isolasi diri, Bentuk tidak jadi medan virus terror.
(2) Cuci Tangan
Alias bersihkan hati ini dari kepentingan material, ambisi-ambisi, berbagi sesama, Tanamkan kasih sayang dan keperdulian, Bentuk pencegahan fitnah dan ancaman.
(3) Jaga Jarak
Jauhkan pendidikan di masjid-masjid, gereja-gereja, rumah ibadah dan sekolah-sekolah dari pesan kesadisan dan kebencian ditengah masyarakat
Soal adzan aneh dan akan keanehan begitu lagi
Adzan dengan redaksi begini tak pernah ada dizaman nabi dan setelahnya. Sesuatu yang mengada-ada. Setelah cross check itu hanya sensasi dari bahar smith yang tak berpendidikan
Jadi, besarnya karena viral kita.
Kedua, jika mereka mau jihad, jihad membangun yang buruk jadi baik, melindung yang takut kepada keamanan, mencerdaskan yang bodoh pada cahaya pengetahuan, dari perbudakan pada kemerdekaan.
Sedang cara-cara begini bukan jihad, itu teror yang bertopeng jihad solusinya ada dua :
a) tangkap penghasutnya
b) edukasi ke publik menjelaskan perbedaan antara jihad vs terror : cinta, kasih sayang vs kebencian.
Peran penangkap penghasut
Negara kita negara hukum, kita harus tetap menghormati hukum, apapun itu bentuknya. Karena pelanggaran atau semangat melanggar hukum, sama dengan merobek niat kita menjaga NKRI ini.
Jika ada praktek busuk, buruk dan membahayakan sesama, kita ingin Pemerintah Republik Indonesia ini bergerak. Jika gerak pemerintah itu perlu kita, maka saran saya, komunitas Agama Cinta menyiapkan diri untuk mendesak pemerintah bertindak.
Andai pemerintah jokowi seperti yang mereka tuduhkan, dzalim, thoghut dll – (pesan yang saya sendiri paham tak demikian) maka perlu dicatat, melawan pemerintah hingga robohnya pemerintah, alias ketiadaan pemerintah itu lebih dzalim dari pemerintah yang berdiri dengan kedzaliman karena faham bughot itu hanya ada dalam faham Bani Umayyah, dengan Muawiya yang pertama kali melakukannya.
Kritik ini populer oleh Gus Dur saat akan dilengserkan dizamannya. Bahwa Habaib, NU dan para ulama, akan tetap bersama NKRI ini, karena ajaran Rasulullah melarang bughot, sekaligus pembeda kita dengan mereka yang berteriak hayya alal jihad dengan mengubah nilai aslinya.
Edukasi Publik
Dua hal yang satu pena-pena ulama, lisan-lisan menjadi lumpuh, jika korupsi dibiarkan terjadi
Semangat menangkap koruptor harus sama atau bahkan lebih dengan sekedar kaum teroris ini, karena perkara korupsi ini karena faktor yang tak terlihat banyak orang. Sehingga pelakunya lebih sadis dan perlawanannya butuh kecerdasan lebih dari sekedar masalah melawan kelompok kelihatan mata.
Pendidikan baik, pejabat yang berprestasi, ulama atau ustad atau habaib yang baik, harus diberi reward.. Pendeta, Romo dan tokoh2 yang baik harus diberi reward.. Agar orang kemudian menjadikan mereka panutan dan acuan..
Negeri yang bangsanya memiliki panutan baik mengarah pada pembangunan sebenarnya.
Oleh : Habib Ali Assegaf – LPI BK (Lembaga Pemikiran Islam Bung Karno)





