PENJURU.ID | Jakarta – Dalam perkembangannya, Legenda Surattoma alias Ciung Wanara kemudian ditulis dalam kidung-kidung, atau pantun-pantun, berbentuk syair dalam bahasa Sunda Buhun, (Sunda Kuno),—-kemudian bergeser ke Sunda Bihari, (Sunda Masa Silam),—-lalu Sunda Kiwari, (Sunda Masa Kini), yang hidup secara turun-temurun dalam masyarakat pulau Jawa Bagian Barat, (Jawa Barat).
Karya sastra dalam bentuk satire (sindiran halus) ini, semula tidak diketahui penulisnya, (anonim), sebab pada masa itu bagi masyarakat Sunda sangat tabu (pantangan) menyebut nama seorang raja yang sedang berkuasa. Oleh karena itu dikenal istilah “Abdi Nte Kuasa”, mengandung arti saya tidak memiliki kekuatan, yang hingga kini masih berlaku di sebagian masyarakat Sunda.
Karya sastra, “Ciung Wanara”, mengisahkan terjadinya tragedi perebutan kekuasaan di kerajaan Galuh di era pemerintahan Raja Sanjaya yang menguasai tiga wilayah, yaitu : Kerajaan Sunda, (wilayah Bogor), kerajaan Galuh, (wilayah Ciamis), dan kerajaan Mdang (Mataram Kuno), yang diperkirakan berada di daerah Kedu dan sekitarnya. Sebab, mengacu sumber arkeologijawa.kemendikbud, (2020), Kadipaten Kedu dalam peradaban Jawa Kuno merupakan tempat berkembangnya dinasty Sanjaya dan Sailendra.
Dari keterangan di atas, kemudian muncul legenda Ciung Wanara dalam berbagai versi, cara pandang dan interpretasi., yang isinya mengisahkan manakala Prabu Adimulya Permana Dikusuma berkuasa di Galuh, (724-725 M), ia berkehendak untuk menjalani hidup sebagai pertapa, yakni menyepi dari hiruk-pikuknya kehidupan duniawi yang serba gemerlap.
Untuk mewujudkan keinginannya diserahkanlah segala urusan kerajaan Galuh kepada Patihnya “Bondan Sarati”. Berangkanlah Prabu Adimulya untuk memulai kehidupan sebagai pertapa, yang kemudian dikenal sebagai “Pandita Ajar Sukaresi”.
Ternyata kerajaan Galuh yang dipimpin Bondan Sarati tidak lagi makmur. Banyak rakyat menderita, karena kesewenang-wenangannya. Bahkan secara diam-diam Bondan Sarati ingin melenyapkan Pandita Ajar Sukaresi di pertapaannya, karena merasa tersaingi.
Di sisi lain, Pandita Ajar Sukaresi secara kontinyu tetap melatih kesaktiannya agar dapat membantu rakyatnya yang sedang susah sehingga namanya menjadi harum melebih nama raja yang sedang berkuasa.
Melihat keadaan seperti ini, Bondan Sarati merasa tidak senang. Maka dengan dalih ingin mengetahui kesaktian Ajar Sukaresi, Bondan Sarati meminta kepada Ajar Sukaresi untuk menebak isi kandungan Dewi Naganingrum, istri Ajar Sukaresi, yang sebenarnya tidak mengandung. Ajar Sukaresi tahu bahwa Dewi Naganingrum tidak mengandung, namun ia mengatakan bahwa Dewi Naganingrum mengandung bayi laki-laki yang kelak akan menyaingi Bondan Sarati.
Bondan Sarati gusar dan memerintahkan prajuritnya untuk membunuh Ajar Sukaresi. Tidak ada prajurit yang berhasil membunuhnya bahkan selalu mendapat celaka.
Kandungan Dewi Naganingrum semakin terlihat. Bondan Sarati semakin gusar. Untuk mencegah ramalan Ajar Sukaresi, Dewi Naganingrum dibuang di hutan. Raja berpesan kepada patihnya Bhatara Lengser, jika Dewi Naganingrum benar-benar melahirkan bayi laki-laki, maka bayi itu harus dibunuh.
Ketika saatnya Dewi Naganingrum melahirkan bayi laki-laki. Patih Bhatara Lengser (paman Dewi Naganingrum), tidak tega membunuhnya. Bayi itu kemudian dimasukkan ke dalam peti dengan dibekali telur dan keris. Setelah di rasa aman, sambil berdoa, kemudian dihanyutkanlah bayi tersebut ke Sungai Citanduy. Dipandangnya berkali-kali peti berisi bayi itu, hingga jauh dari pandangan matanya.
Untuk memberi bukti kepada raja, Patih Bhatara Lengser membunuh anak anjing dan darahnya diperlihatkan kepada raja. Bayi yang dihanyutkan ditemukan oleh nelayan bernama Aki Balangantrang dan kemudian dirawat dan diasuhnya. Telur ayam yang menyertainya juga dirawat yang kemudian menetas jadi ayam jantan. Selama dalam asuhan Aki Balangantrang bayi tersebut disembunyikan di Geger Sunten, Desa Sodong, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Anak yang diasuh Aki Balangantrang suatu saat diajak ke hutan untuk belajar berburu. Di hutan menjumpai burung ciung dan kera (wanara). Anak asuh Aki Balangantrang sangat terkesan dan meminta kepada Aki Balangantrang supaya dirinya diberi nama Ciung Wanara.
Berkat asuhan Aki Balangantrang, Ciung Wanara tumbuh menjadi seorang dewasa yang cerdas dan tangkas. Ketika itu di Galuh sedang marak perjudian sabung ayam. Ayam jantan yang menyertai Ciung Wanara juga tumbuh menjadi ayam aduan yang tangguh.
Kecerdasan Ciung Wanara dan ketangguhan ayam jantannya terdengar oleh Bondan Sarati. Raja Galuh ini lantas menjadi geram. Diperintahkanlah orang kepercayaannya untuk membunuh Ciung Wanara dengan siasat melalui sayembara sabung ayam.
Direncanakan pembunuhan terhadap Ciung Wanara itu dilaksanakan ketika berlangsungnya sabung ayam di arena yang telah disediakan. Sayembara sabung ayam yang diselenggarakan Bondan Sarati hadiahnya separuh wilayah kerajaan Galuh, bagi yang bisa mengalahkan ayam jantannya.
Mendengar berita itu, Ciung Wanara tidak segan-segan memanfaatkan kesempatan tersebut. Ketika terjadi pertarungan antara ayam Ciung Wanara dan ayam Bondan Sarati, Ciung Wanara selalu waspada terhadap gerakan dari orang-orang Bondan Sarati sehingga terhindar dari usaha pembunuhan.
Dalam adu laga ayam itu, akhirnya ayam Ciung Wanara dapat mengalahkan ayam Bondan Sarati. Atas kekalahannya dalam sabung ayam, Bondan Sarati ingkar janji untuk memberikan separoh wilayah kerajaan. Bahkan memerintahkan punggawanya membuat kerangkeng untuk menangkap Ciung Wanara. Ketika kerangkeng sudah siap Bondan Sarati memeriksanya. Ketika itu pula Ciung Wanara beraksi menutup kerangkeng. Prabu Bondan Sarati terjebak di dalamnya dan tidak bisa keluar selama-lamanya.
Melihat peristiwa ini seluruh rakyat Galuh bersuka cita. Kesengsaraan yang mereka derita selama ini terbalaskan. Ciung Wanara kemudian diangkat menjadi raja Galuh. Salam.
Jakarta, 15 September 2022.
Penulis : Joko Darmawan.
History Bagian – 2 (Selesai)
Foto : Pagar situs Pangcalikan atau Singgasana Raja, yang terletak di Desa Karangkamulyan, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.





