PLN Jelaskan Pemadaman Bergilir di Jeneponto, Tegaskan Bukan Kesengajaan

PENJURU. ID | JENEPONTO – Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, mendapat penjelasan dari pihak PT PLN (Persero) ULP PLN Jeneponto menegaskan, kondisi tersebut bukan merupakan kesengajaan maupun kebijakan sepihak dari unit pelayanan di daerah.

Manager PLN, H. Asmar Arief, menjelaskan bahwa pemadaman dilakukan sebagai bagian dari pengaturan beban akibat keterbatasan pasokan listrik dalam sistem interkoneksi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.

“Kami di sini hanya menerima perintah untuk menjaga kelancaran sistem. Kalau pasokan tidak mencukupi, pemakaian harus dikurangi. Jadi kami hanya mengeksekusi pengaturan beban tersebut, bukan menentukan secara sepihak wilayah mana yang harus dipadamkan,” jelas Asmar Arief.

Menurut Asmar, pengaturan beban merupakan langkah yang harus dilakukan untuk mencegah gangguan yang lebih besar terhadap sistem kelistrikan. PLN juga berupaya mengatur wilayah terdampak agar pemadaman tidak meluas.

“Tidak ada unsur kesengajaan untuk memadamkan listrik. Kami justru tidak ingin padam karena kami juga pasti berhadapan langsung dengan pelanggan dan masyarakat ketika terjadi pemadaman,” tegasnya, Senin (7/9/2026) sekitar pukul 14.00 Wita.

Sementara itu, Asisten Manajer Keuangan dan Umum sekaligus bagian komunikasi UP3 Bulukumba, Lisa Rizki Fausiah, menjelaskan bahwa wilayah kerja PLN UP3 Bulukumba mencakup lima kabupaten, yakni Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Kepulauan Selayar.

Lisa mengatakan, pemadaman akibat pengaturan beban juga dirasakan oleh internal PLN. Bahkan, sejumlah kantor PLN turut mengalami pemadaman ketika penyesuaian beban dilakukan.

“Kami sangat memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan masyarakat. Kami sebagai pegawai PLN juga turut merasakan pemadaman, termasuk kantor-kantor kami. Tentunya kami berharap listrik bisa menyala 100 persen selama 24 jam nonstop,” ujar Lisa.

Ia menjelaskan, kondisi kelistrikan di Jeneponto tidak dapat dipisahkan dari sistem interkoneksi Sulawesi. Ketika terjadi kekurangan daya, pengaturan beban dilakukan terhadap sistem secara keseluruhan.

“Ini satu sistem yang saling terinterkoneksi. Jadi yang terdampak bukan hanya Kabupaten Jeneponto, tetapi juga sejumlah kabupaten lainnya. Pembagian beban dilakukan dengan prinsip fairness atau keadilan agar pasokan yang tersedia dapat digunakan secara merata,” jelasnya.

Lisa menyebut pasokan listrik ke Jeneponto berasal dari sejumlah sumber pembangkit, di antaranya PLTU Jeneponto, PLTB Tolo, serta jaringan transmisi yang terhubung dalam sistem interkoneksi.

Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi proses pembenahan dan perbaikan infrastruktur pada sejumlah pembangkit yang berdampak terhadap ketersediaan daya listrik.

“Dari sisi pembangkit saat ini sedang dilakukan pembenahan infrastruktur. Kondisi tersebut menyebabkan pasokan energi listrik belum mencukupi kebutuhan seluruh wilayah Sulselrabar, sehingga dilakukan pengaturan nyala secara bergilir,” katanya.

Terkait informasi yang sebelumnya menyebut kondisi kelistrikan akan kembali normal pada 5 September, Lisa memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa tanggal tersebut merupakan prediksi sekaligus harapan PLN terkait selesainya proses pembenahan infrastruktur.

Pada 5 September, kata Lisa, PLTU Jeneponto mulai kembali memberikan tambahan pasokan sekitar 125 megawatt. Namun, tambahan daya tersebut tidak serta-merta membuat pembangkit langsung beroperasi maksimal karena mesin membutuhkan proses penyalaan dan pemanasan sebelum dapat menyuplai energi secara penuh.

“Kemarin dari PLTU Jeneponto sudah masuk tambahan sekitar 125 megawatt. Namun pembangkit membutuhkan waktu untuk proses penyalaan dan pemanasan mesin sebelum bisa kembali menyuplai energi secara maksimal,” jelas Lisa.

Masuknya tambahan daya tersebut disebut mulai membantu menekan pemadaman bergilir. Lisa mengatakan, jadwal pemadaman mulai berkurang setelah 6 September dibandingkan periode sebelumnya.

“Dengan adanya tambahan 125 megawatt dari PLTU Jeneponto, kami sangat terbantu. Pelaksanaan pemadaman bergilir bisa diminimalisir, meskipun belum sepenuhnya dapat dihindari karena masih ada kendala pada pembangkit lainnya,” ungkapnya.

Selain kondisi pembangkit, faktor cuaca dan ketersediaan sumber energi juga turut memengaruhi kemampuan sistem dalam memenuhi kebutuhan listrik. Kondisi pembangkit tenaga air hingga pembangkit berbahan bakar minyak menjadi bagian dari faktor yang diperhitungkan PLN.

“Ada berbagai jenis pembangkit, mulai dari tenaga air, tenaga angin, hingga diesel. Kondisi sumber energi dan ketersediaan bahan bakar juga sedikit banyak berpengaruh terhadap kemampuan pembangkit dalam menyuplai listrik,” ujarnya.

Menanggapi sorotan masyarakat Jeneponto yang mempertanyakan pemadaman meski daerah tersebut memiliki sejumlah pembangkit listrik, PLN menegaskan bahwa keberadaan pembangkit di suatu daerah tidak berarti seluruh energi yang dihasilkan hanya diperuntukkan bagi wilayah tersebut.

Sistem kelistrikan bekerja melalui jaringan interkoneksi. Energi yang dihasilkan pembangkit akan masuk ke dalam sistem untuk kemudian didistribusikan sesuai kebutuhan dan kondisi sistem secara keseluruhan.

PLN memastikan terus melakukan berbagai upaya untuk mengatur dan memulihkan pasokan listrik agar pemadaman bergilir dapat ditekan seminimal mungkin.

“Kami memahami keresahan masyarakat. Karena itu kami terus berupaya agar kondisi kelistrikan kembali normal dan pelayanan kepada pelanggan dapat berjalan sebaik mungkin,” pungkas Lisa.

Pos terkait