PENJURU.ID | Yogyakarta – Yogyakarta dikenal sebagai provinsi pendidikan, bahkan banyak peserta didik berbondong-bondong ingin mengejar ilmu sampai ke Yogyakarta, tidak hanya dari Indonesia saja bahkan banyak peserta didik dari luar negeri pun banyak yang ingin mengenyam pendidikan di Yogyakarta.
Yogyakarta terkenal akan destinasi wisata yang kental dengan sejarahnya dan keindahan alamnya, maka dari itu banyak para peserta didik ingin mengenyam pendidikan di Yogyakarta sekaligus menikmati keindahan destinasi wisatanya.

Saat ini Yogyakarta telah sepi, kenapa? Puluhan ribu mahasiswa perantauan yang kuliah di DIY saat ini pulang ke kampung halamannya, karena kondisi yang belum stabil untuk diadakan perkuliahan disebabkannya belum adanya perkembangan yang signifikan perihal pandemi Covid-19.
Ketua LLDIKTI Wilayah V, Prof. Didi Akhjari mengungkapkan tidak adanya pencatatan secara pasti para mahasiswa yang belum kembali ke DIY selama kuliah daring diberlakukan. “Pencatatan para mahasiswa yang belum kembali ke DIY dilakukan oleh masing-masing kampus,” ungkap Prof. Didi, sabtu (1/8/20).
Sementar, menurut Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) DIY pernah melakukan survei terhadap 51 PTS di DIY dengan 403 program studi yang disurvei sebanyak 142.219 mahasiswa aktif, 5.225 dosen dan 3.894 tenaga pendidik. “Survei ini diambil dari 51 PTS yang tersebar di provinsi DIY pada 1 juli 2020 belum terhitung pada surver dibulan agustus”. Menurut ketua APTISI DIY, Fathul Wahid.
Hasil dari itu, sebanyak 57.334 mahasiswa (40%) merupakan warga asli DIY dan 84 885 mahasiswa (60%) merupakan pendatang. Dari puluhan ribu pendatang tersebut APTISI DIY memperoleh hasil 27% atau 22.928 merupakan mahasiswa yang masih berada di DIY dan 73% atau sejumlah 61.957 mahasiswa telah pulang kekampung halamannya dan belum kembali ke DIY.
“Dengan asumsi pengeluaran mahasiswa yang pendatang sebesar Rp. 3.028.850 menurut data dari Bank Indonesia, maka penurunan uang beredar di provinsi DIY mencapai angka sungguh pantastis, yakni 187,7 miliar/bulannya atau mencapai angka Rp.6,3 miliar/hari,” ungkap Fathul Wahid.
Dengan banyaknya mahasiswa yang masih berada diluar DIY (masih dikampung halamannya), Ketua APTISI memprediksi bahwa calon mahasiswa baru akan ragu untuk mendaftar dikampus-kampus PTS di DIY, maka dari itu APTISI merancang satu domain khusus yang memungkinkan untuk para calon mahasiswa baru supaya tetap bisa mendaftar dikampus-kampus PTS tanpa perlu untuk datang langsung ke DIY yaitu melalui Jogjaversitas.id.
(ES)





