Hari pendidikan yang diperingati 2 Mei bukan hanya sekedar mengenang sosok Ki Hajar Dewantara, tapi alarm untuk kita semua bahwa dampak atau kekuatan tulisan bisa mengubah segalanya.
Lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat yang dikenal Ki Hajar Dewantara, salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Beliau bukan hanya seorang pendidik tetapi juga penulis. Salah satu tulisannya adalah “Seandainya Aku Seorang Belanda”. Ki Hajar Dewantara menulis bahwa jika dia menjadi orang Belanda, dia akan merasa malu merayakan kemerdekaan di depan bangsa yang hak kemerdekaannya dia injak-injak. Dia merasa sangat menghina jika orang Indonesia disuruh menyumbang untuk pesta kemerdekaan penjajahnya sendiri. Tulisannya gempar, mempengaruhi banyak orang. Ini adalah bukti bahwa tulisan beliau bukan hanya sekedar kata-kata tapi senjata yang bisa menggemparkan kekuasaan Belanda pada saat itu.
Tentu saja dampaknya tidak kecil, akibatnya beliau diasingkan oleh kolonial pemerintahan Belanda karena dianggap sebagai ancaman dan ditakuti oleh pihak yang berkuasa.
Di era sekarang, kesempatan menulis sangat terbuka lebar. Siapapun bisa menuangkan pikiran dimanapun, di buku, media sosial, atau platform lainnya. Namun, kesempatan ini tidak dimanfaatkan baik oleh sebagian orang karena menganggap tulisannya jelek dan tidak bernilai. Bahkan berhenti di tengah-tengah sebelum tulisannya selesai. Tidak cukup percaya diri, penuh keraguan, dan overthinking. Mereka berpikir tidak akan ada orang yang membaca tulisannya. Akhirnya yang ditulis di simpan sendiri dengan kata-kata yang tidak pernah selesai.
Jika dulu menulis membutuhkan resiko yang besar, hari ini justru banyak orang yang tidak menulis karena takut dinilai, dikritik, dan disalahpahami. Banyak kecemasan karena takut dianggap “bodoh dan salah” padahal, jika kita berkaca kepada Ki Hajar Dewantara tulisan itu lahir dari keberanian dan kejujuran.
Karena, sesuatu yang besar dimulai dari hal yang paling sederhana, menulis.
Seharusnya Hari Pendidikan Nasional bukan hanya sekedar seremonial setiap tahun. Tetapi, sebagai moment untuk mulai berani berpikir dan menuangkan ide ke dalam tulisan. Tidak harus langsung karya yang besar tapi dimulai dengan tulisan yang sederhana dan keberanian untuk menyampaikan.
Sudah saatnya generasi sekarang bukan hanya sebagai pembaca, tetapi juga penulis. Karena bisa jadi tulisan yang sederhana bisa lahir perubahan yang besar.
Dulu tulisan bisa melawan penjajah, hari ini masuk takut untuk menulis opini sendiri ?
Pertanyaannya bukan lagi bisa “menulis atau tidak” tetapi “berani atau tidak”***
-Anis Nurvita Dewi S.pd-
Seorang guru dan Leader Smartfren Community
Di hari pendidikan Nasional





