Yudhistira Menolak Surga

PENJURU- DENPASAR – Ditemani seekor Anjing yang tak lain penjelmaan Batara Darma, Raja Astina ini berhasil menginjakkan kaki di surga Indra tanpa melewati proses kematian tubuh. Tapi menyaksikan sanak keluarga, istri, dan adik-adik tersiksa kesakitan di naraka, Yudistira titisan dewa kebajikan itu memprotes dengan ucapan ketus.

“Mengapa Sakuni, Duryodana, Dursasana, dan adik-adiknya yang merupakan lambang kejahatan duduk enak di singasana surga? Kenapa pula Arjuna, Bima, Nakula Sahadewa, Bhisma dan sanak keluarga kami yang bijak budi harus menahan derita di naraka? Tidak….tidak, hamba tidak mau pahala surga, hamba menolak bila surga itu hanya untuk diri-sendiri. Biar hamba ikut di sini, di naraka bersama sanak keluarga,” protes Yudistira kepada penguasa surga.

“Kau terkecoh Yudistira, pahala surga itu memang untuk diri-sendiri. Engkau adalah lambang kebajikan dan ketulusan, kau berhak memperolehnya. Jangan hiraukan sanak saudaramu, mari ikut aku menikmati kebahagiaan surga, lupakan naraka itu.

“Tidak. Tidak ada artinya hamba menikmati surga untuk diri-sendiri. Kebaikan yang telah hamba upayakan di dunia sejatinya bukan untuk kebahagian pribadi. Bukan pula untuk memuaskan para dewa. Semua itu saya usahakan untuk kebahagian bersama. Biarkan saya di naraka, asalkan saya tetap berkumpul bersama sanak keluarga.”

“Kau memang keras hati Yudistira! Pendirianmu susah dibelokkan, kau terlalu kaku memegang prinsip. Bila begitu keinginanmu silakan, turunlah ke naraka, temui sanak keluargamu, ” anjur penguasa surga geram.

Dengan kaki gontai, hati disusupi rasa iba Yudistira melangkah menuju kawah naraka yang mengerikan itu. Penegak darma inipun tak luput dari hukuman Yama. Karena saat perang Bharatayuddha berlangsung di Kusuksetra ia pernah dipaksa Kresna mengolok-olok Guru Drona. Sebab itu, saat menginjak naraka kaki Yudistira ikut tersentuh kerak naraka, telapak kakinya ikut terbakar.

Nun beberapa saat usai Yudistira menebus dosa-dosa itu, tiba-tiba neraka berubah menjadi surga. Buah ajaib dari kebajikan dunia ditakdirkan memetik kebahagiaan abadi. Dewa-dewa menaburkan bunga-bunga, menyambut bahagia Yudistira.

“Selamat! Engkaulah raja darma itu, dewa-dewa dan para rsi hormat kepadamu. Semua makhluk di tiga dunia memujimu. Kau telah menyelematkan sanak keluargamu, silakan nikmatilah pahala surga ini,” sabda Dewa Indra ramah.
Demikianlah, di tangan seorang Yudistira, raja penegak darma, naraka berubah menjadi surga. Di tangan seorang bijak kekeruhan berubah jadi kebeningan. Rasa sedih dan derita bersalin bahagia. Lalu apa gerangan naraka itu? Benarkah naraka itu tempat penyiksaan buat si pendosa? Benarkah naraka itu begitu mengerikan, menjijikan, dijaga pasukan Yama menakutkan?

Menengok sejumlah kamus, baik Sansekerta maupun Jawa Kuna mengartikan naraka sebagai dunia bawah, dunia yang senantiasa dikuasai beban berat. Beban berat dimaksud dibayangkan sebagai dunia yang diliputi kesengsaraan, keganasan, panas, kelaparan, kesakitan, tangisan, luka, kehausan, kepiluan, kepapaan, dosa, kekumuhan, bau busuk, anyir, kepengapan, dan sebagainya.Tapi benarkah ada dunia bawah yang melulu dikuasai kesengsaraan dan derita? Bila ada di mana gerangan dunia itu?

Nun dalam kitab Bagawata Purana, Parikesit raja terakhir Astina Pura bertanya perihal naraka pada Rsi Sukadewa. “Maha rsi yang hamba hormati, di mana gerangan wilayah naraka itu, apakah naraka berada di luar, di dalam alam semesta, atau pun di tempat-tempat lain di planet ini?

Rsi Sukadewa menjawab, “Semua planet naraka terletak di angkasa pertengahan, di antara tiga dunia dan lautan Garbhodaka. Planet ini terletak di sebelah selatan alam semesta – berada di planet bawah, yakni: di antara planet patala-loka dan lautan garbhodaka.

Coba pembaca teks-teks yang menguraikan naraka, seperti Swargarohanaparwa, Kidung Bima Swarga, Geguritan Bagus Diarsa, Kakawin Aji Palayon, Geguritan Japatuan, jelas-jelas mengisahkan naraka itu sebagai tempat penyiksaan roh-roh yang pada waktu hidupnya berbuat jahat.

Geguritan Japatuan misalnya menarasikan, orang yang senantiasa linyok ring swadarma, alpa menunaikan kewajiban idup direbus pada kawah jambangan yang disebut tambra goh mukha, jambangan berkepala lembu, kawah itu berdampingan dengan batu bersepak (batu macepak), dengan terus-menerus disakiti kingkara bala, pasukan Yama yang ganas. Setelah roh-roh itu direbus, badannya kembali disakiti, dipotong-potong untuk dimasukkan pada batu masepak, kemudian batu itu terkatup menyebabkan roh-roh kesakitan.

Itulah gambaran neraka yang mengerikan. Teks-teks lainnya juga melukiskan suasana neraka tak jauh berbeda. Teks-teks ini bisa jadi bukan petunjuk ideal soal naraka, tapi lebih merujuk pada pendekatan edukatif, begitulah cara leluhur orang memperkenalkan naraka, begitu pula cara orang Bali melakukan pendidikan budi, berharap naraka itu dijauhi dengan hidup yang benar. Teks-teks ini kemudian dipresentasikan dalam lukisan-lukisan didaktis, sebagaimana bisa ditemui pada lukisan gaya Kamasan di Balai Kreta Gosa, Klungkung. Di situ akan ditemui beragam lukisan roh disiksa.

Namun selain penggambaran naraka yang lumrah dan naratif, orang Bali juga memiliki pengertian naraka “ideal filosofi”. Dijelaskan naraka itu tidak jauh dari badan, tan madoh maring awak, sumbernya ada pada pikiran. Kitab Utarakanda, Sarasamuscaya, Kakawin Sutasoma, Kakawin Ramayana, misalnya menyuratkan terang, bahwa baik surga maupun neraka seluruhnya bersumber pada nafsu indria yang terkendali: indriya ikang sinangguh swarga-neraka — indria itulah sesungguhnya disebut surga-neraka.

Soalnya kini, hendak ke mana aras hidup mau diarahkan, apakah orang hendak menemui surga, lebur di jalan cahaya atau masuk ke wilayah gelap kehidupan, semua tergantung pada sang penjalan hidup. Indria atau nafsu itu penghalang paling kuat. Maka mereka yang telah menguasai indria disebut: jayendria — yang jaya atas indria.

Lalu dari mana gerangan sumber nafsu itu? Baik kita mencarinya di kitab-kitab. Kitab Sarasamuccaya mencatatkan jelas, bahwa semua itu bersumber dari pikiran. Apan ikang manah ngarania, ya ika witning indriya. Sebab yang disebut nafsu itu, ialah yang menggerakkan perbuatan baik maupun buruk; oleh sebab itu pikiranlah yang patut diusahakan pengendaliannya. Sudah menjadi hakikat pikiran tidak berketentuan jalannya, terlalu banyak yang dicita-citakan, terlalu banyak yang diinginkan.

Bila pikiran dapat dikendalikan niscaya kebahagian dapat diproleh, baik sekarang maupun di dunia lain – sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh.

Kitab Saramuscaya memberi penjelasan pasti, bahwa soal naraka bukan semata menyangkut dunia setelah kematian, namun berkaitan juga dengan dunia nyata, saat orang menjalani kehidupan kini. Teks-teks Hindu di Bali memang cenderung menjabarkan pahala naraka setelah mati – sungguh jarang menguraikan pengertian naraka dalam hidup. Namun, bilapun teks-teks itu menyiratkan perihal pahala setelah kematian, dipastikan ia berawal dari bagaimana hidup itu dirawat.

Justru dalam konteks kepercayaan orang Bali, hidup harus dipahami dalam konteks kematian. Bahwa sebelum ajal menjeput, hidup mesti dirawat dengan benar, dengan begitu orang bisa mati dengan benar. Sebab itu teks-teks perihal surga-neraka di Bali mesti dipahami sebagai media merawat hidup, tak terkait dengan dunia setelah mati. Bukankah orang mati tak bisa melakukan apa-apa?

Seperti apa gerangan wujud naraka dalam hidup ini? Apakah kondisinya sama sebagaimana dijelaskan kakawin Aji Palayon dan kitab Swargarohanaparwa? Menurut para bijak, naraka nyata itu tak lain kondisi menderita yang dirasakan sebagai beban berat, senantiasa dirajam kesulitan hidup, senantiasa dalam kondisi sengsara, miskin terbuang, cacat, tersiksa sakit seumur-umur. Ini digambarkan sebagai kondisi neraka.

Namun ada kalanya naraka dirasakan masyarakat luas. Coba bayangkan kondisi apa yang muncul apabila dunia semakin rusak? Harga-harga melambung tinggi, penyakit sosial meruyak, bencana alam silih berganti, menyakit menular merebak, korupsi merejalela, kemiskinan meluas, kejahatan meningkat, pencurian menjadi-jadi, pemerintahan rapuh dan lain sebagainya. Benar sebagaimana disuratkan teks-teks susastra Bali, bahwa neraka yang nyata ada juga di bumi ini. Masing-masing individu memiliki potensi melahirkan naraka atau surga – justru dalam tautan inilah teks susastra Bali menyebut surga dan naraka itu tergenggam dalam diri masing- masing sorga naraka maring awak.(I Wayan Westa)

Pos terkait