PENJURU.ID | Jakarta – Pada saat ini Penulis Joko Darmawan akan menceritakan Tentang, ‘Serat Centhini’, yang penuh syarat dengan ilmu pengetahuan dan kebudayaan masyarakat Jawa. Salah satu isinya menggambarkan tentang, “Prosesi Midodareni” yakni, malam sakral bagi kedua calon pengantin sebelum hari pernikahan. (23/9/2022).
Tradisi yang berasal dari legenda, “Jaka Tarub”, dan “Dewi Nawang Wulan,” ini merupakan sebuah kisah klasik Dinasti Mataram yang menceritakan bahwa para Bidadari datang kebumi menyambangi calon mempelai pengantin wanita yang sedang berdiam diri di kamar menjelang acara pernikahannya.
Di malam Midodareni tersebut sang pangeran datang ke rumah calon pengantin-nya untuk pengakraban dengan keluarga besarnya, meskipun pasangan itu belum boleh bertemu.
Kedatipun demikian, dari banyaknya serat Centhini yang telah ditulis. Tampaknya yang agak menonjol adalah yang ditulis oleh, Elizabeth D. Inandiak, seorang wartawati asal Prancis, yang mendalami karya-karya sastra dan kebudyayaan masyarakat Jawa. Karya yang ditulisnya berjudul, “Empat Puluh Malam dan Satu Hari Hujan”.
Adapun isinya menggambarkan tentang, percakapan kedua pengantin anyar saat mereka bercumbu-rayu dalam peraduannya :
“Yayi Tembang Raras….adindaku sayang”.
Centhini yang tak jauh majikannya, “Niken Tembang Raras”, walaupun dibatasi oleh tirai kelambu, mendengar suara “Jayengresmi”, (Amongraga), dengan takjim, ketika memanggil isterinya. Suaranya begitu lembut dengan penuh rasa kasih sayang.
“Apakah engkau mengerti, jika kita masing-masing tak mengenakan baju, tanpa suatu apapun yang menghalanginya”.
Sambil memandangi isterinya, Amongraga berkata kembali.
“Kehormatan, kenikmatan pakaian yang kita kenakan justru membuat ketidak-jujuran dan ketidak-tulusan. Kalau kita menanggalkan semua pakaian, ketidak-jujuran dan ketidak-tulusan itu, akan tampaklah bahwa kita sama sekali tidak memiliki kehormatan itu. Jadi mereka yang sibuk membentengi dirinya, justru karena kekurangannya sebagai aib”.
“Kekurangan sesuatu yang buruk mendorong kita mencari agar dilebihkan. Orang seperti itu, tidak berani polos dan jujur….apa adanya, karena ia takut kekurangannya,…akan membuat dirinya tercemarkan”.
Malam merambah semakin dingin, dalam suasana hening itu, di malam ke-41, Amongraga dan isterinya Niken Tembang Raras melakukan hubungan itim dengan mesra disertai kasih sayangnya yang tulus.
Amongraga melaksanakan kewajibannya dengan mencium kening dan mata isterinya yang terpenjam, penuh rasa kasih sayang yang tinggi. Setelah melaksanakan tugas biologisnya, Amongraga kemudian berbisik :
“Wangi mungilku….maafkan kanda, tak lama lagi, aku pergi mengembara untuk mencari kedua adikku”.
Tembang Raras kemudian berkata perlahan.
“Pergilah….api cintaku…pergilah sayang… linggamu ku akan selalu membawa di ujung puspa guaku”.
Sambil menghela nafas dalam-dalam Amongraga kemudian berkata dengan penuh kasih sayang.
“Kekasihku….di jalan ada perjuangan yang bersua kembali. Tetapi kita berjalan sendiri-sendiri. Kubawa ragaku menempuh kemegahan suluk, dan kamullah “Tembang Raras, Suluk itu”. Kau mengira aku pergi, padahal aku mengembara bersama dalam dirimu”.
Namun, sebelum pergi, Amongraga yang hidup di sekitar tahun 1636 Masehi, atau masa akhir kerajaan Giri Kedathon dan belanjut pada kerajaan Mataram, meninggalkan sepucuk surat untuk isterinya. Semacam wejangan yang dilatari saling cinta dan mencintai, yakni saling asah (saling mengingatkan), saling asuh, (membimbing), dan saling asih, (mengasihi), sebagai kunci keberhasilan dalam hidup berumah tangga.
Tak lama kemudian, berangkatlah Amongraga dengan suasana haru yang mendalam untuk mencari kedua adiknya. Setelah melalui liku-liku perjalanan panjang yang memakan waktu hingga bertahun-tahun lamanya, akhirnya Amongraga bertemu dengan kedua adiknya.
Keturunan Sunan Giri itu, dapat berkumpul kembali bersama keluarga dan kawulanya, meskipun hal tersebut tak berlangsung lama karena Amongraga masih ingin mengembara dan mengembara lagi hingga akhir hayatnya. Sedangkan Tembang Raras terus dan terus mencari suaminya yang tidak diketahui rimbanya. Bahkan ia sampai tak tahu kalau suaminya telah meninggal dunia.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat, masih meyakini kalau jenazahnya Amongraga dimakamkan di Dusun Maliyan, Desa Amongraga, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Salam. (Red. Fiyan)
Penulis: Joko Darmawan.





