Ratusan Nelayan Tarowang Mengeluh, SPBU Tutup Pengisian Jerigen Selama Dua Hari

Oplus_131074

PENJURU. ID | Jeneponto – Ratusan nelayan di Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, menjerit akibat penutupan sementara pengisian bahan bakar menggunakan jerigen di SPBU Tarowang selama dua hari terakhir.

Kebijakan tersebut berdampak langsung pada terhentinya aktivitas melaut sekitar 150 unit perahu nelayan jenis jolloro karena kehabisan stok solar.

Berdasarkan pantauan dan konfirmasi media ini di lapangan, para nelayan mengaku tidak memiliki alternatif lain untuk memperoleh solar selain melalui SPBU Tarowang. Akibatnya, penghasilan harian nelayan terhenti dan kondisi ekonomi keluarga ikut terdampak.

Salah seorang warga Dusun Ga’dea, Desa Tarowang, Hj. Te’ne, seorang ibu rumah tangga (IRT) yang juga keluarga nelayan, menyampaikan bahwa perahu miliknya sudah dua hari tidak beroperasi karena kehabisan bahan bakar.

“Sudah dua hari perahu saya tidak jalan karena solar habis. Dari kemarin kami tidak bisa mengisi bahan bakar, sementara solar adalah kebutuhan utama untuk melaut,” ungkap Hj. Te’ne.

Menanggapi keluhan tersebut, Manager SPBU Tarowang, Wahab, memberikan klarifikasi terkait alasan penutupan sementara pengisian jerigen. Ia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diambil untuk menghindari kesalahpahaman dan berbagai tudingan dari sejumlah pihak.

Klarifikasi manager SPBU Tarowang

“Penutupan sementara pengisian jerigen ini dilakukan karena adanya kesalahpahaman terkait pengisian jerigen. Banyak sorotan dari penggiat sosial yang menganggap pengisian jerigen sebagai bentuk penyalahgunaan dan permainan mafia solar,” ujar Wahab.

Menurut Wahab, langkah penutupan sementara tersebut merupakan upaya pihak SPBU untuk menjaga kondusivitas serta menghindari tudingan negatif yang dapat merugikan pihak pengelola.

“Untuk menghindari tudingan-tudingan tersebut, kami mengambil langkah menutup sementara pengisian jerigen sambil menunggu kejelasan dan mekanisme yang lebih jelas,” tambahnya, Sabtu (27/12/2025)

Meski demikian, para nelayan berharap agar pemerintah daerah, instansi terkait, serta pihak Pertamina dapat segera memberikan kejelasan regulasi dan solusi konkret, sehingga distribusi solar bagi nelayan kecil dapat kembali berjalan normal tanpa menimbulkan polemik di tengah masyarakat.

Pos terkait