PENJURU. ID | Jeneponto – Momentum Iduladha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan semata, tetapi juga menjadi ruang perenungan tentang arti pengorbanan, keikhlasan, dan pengabdian dalam kehidupan manusia.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Humas dan IKP Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jeneponto, Doddy A. Baso, dalam refleksinya menyambut Hari Raya Iduladha sekaligus Dirgahayu Badan Kepegawaian Negara (BKN) ke-78.
Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pelajaran besar tentang ketundukan hati kepada kehendak Allah SWT. Pengorbanan sejati, kata dia, bukan hanya tentang memberi, tetapi juga tentang kemampuan manusia mengikhlaskan kepentingan pribadi dan ego diri.
“Dalam kehidupan, yang paling berat sering kali bukan memberi, tetapi mengikhlaskan,” tulis Doddy dalam refleksinya, Rabu (28/05/2026)
Ia menilai, nilai-nilai Iduladha sangat relevan dalam kehidupan aparatur sipil negara (ASN). ASN disebut bukan sekadar bagian dari sistem birokrasi, melainkan pelayan masyarakat yang memikul amanah negara.
Karena itu, pengabdian seorang ASN tidak cukup hanya dengan kemampuan administratif, tetapi juga memerlukan hati yang bersih, niat yang lurus, dan ketulusan dalam melayani masyarakat.
Doddy juga menyoroti pentingnya menjaga integritas dan disiplin dalam birokrasi. Menurutnya, banyak ASN yang bekerja dengan penuh dedikasi meski pengabdiannya tidak selalu terlihat di ruang publik.
“Dari pengabdian seperti itulah pemerintahan dapat berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menambahkan, Iduladha mengajarkan bahwa jabatan sejatinya adalah amanah, bukan simbol untuk meninggikan diri. Semakin besar tanggung jawab yang diemban, maka semakin besar pula tuntutan menjaga kerendahan hati dan keikhlasan dalam bekerja.
Nilai pengabdian tersebut, lanjutnya, selama ini terus dijaga oleh Badan Kepegawaian Negara sebagai salah satu institusi penting dalam menopang manajemen aparatur negara di Indonesia.
Pada momentum Dirgahayu BKN ke-78, Doddy berharap lembaga tersebut tetap menjadi rumah besar bagi lahirnya ASN yang berintegritas, rendah hati dalam kewenangan, serta bijaksana dalam melayani masyarakat.
“Pengabdian sejati tumbuh dari kesediaan melayani tanpa selalu berharap pujian. Sebab yang paling abadi dari sebuah pekerjaan bukanlah jabatan, tetapi manfaat yang ditinggalkan bagi masyarakat dan bangsa,” ungkapnya.
Di akhir refleksinya, ia menegaskan bahwa Iduladha mengajarkan hidup yang bernilai bukan hanya tentang apa yang berhasil dimiliki, tetapi seberapa besar manfaat yang mampu dihadirkan bagi sesama.
“Dalam pengabdian, ketulusan sering kali menjadi bentuk ibadah yang paling sunyi, namun paling bermakna,” tutupnya.




