Pandemi Covid-19 Jadi Pengaruh Tingginya Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

  • Whatsapp
Ilustrasi Kekerasan Terhadap Perempuan

PENJURU.ID | Tangerang – Kondisi pandemi Covid-19 ternyata menjadi salah satu faktor atas maraknya kasus kekerasan pada perempuan dan anak. Hal ini setidaknya tercermin dari data kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Tangerang.

Dinas Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PT2TP2A) Kota Tangerang mengungkapkan pada periode Januari hingga September 2021 terdapat 90 kasus kekerasan perempuan dan anak dengan korban mencapai 100 orang baik perempuan dan anak. Angka tersebut meningkat dibanding periode yang sama tahun 2020 yang mencatat 88 kasus dengan 98 korban.

“Kalau dilihat dari kasusnya dalam periode yang sama yakni di bulan Januari hingga September 2021, ada kenaikan sedikit jumlah kasus dan korbannya dibanding tahun lalu. Tahun 2020, ada 88 kasus dengan 98 korban, sementara di periode yang sama tahun ini ada 90 kasus dengan 100 korban baik itu perempuan maupun anak,” ungkap anggota Satgas PPT2TP2A Kota Tangerang, Tuti Subarti saat dihubungi media, Rabu (22/9/2021).

Selain itu di masa pandemi ini, kata Tuti, anak-anak menjadi lebih sering mengakses gawai. Hal tersebut juga menjadi salah satu faktor lain dalam kasus serupa.

“Mungkin karena gadget juga, ya. Gampang lah untuk mengakses itu. Itu juga mempengaruhi, jadi banyak pengaruhnya, bisa berkembang terus tiap tahun pengaruhnya. Memang salah satunya pandemi, karena mungkin di rumah enggak ada kegiatan,” tuturnya.

Tuti menduga pandemi Covid-19 yang mempengaruhi sektor ekonomi menjadi salah satu penyebab meningkatnya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dugaan ini muncul lantaran kasus kekerasan terhadap anak sebagian besar dilakukan oleh suami atau orang tua.

“Kami menduga peningkatan jumlah korban dan juga kasus kekerasan disebabkan kondisi masyarakat yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah selama pandemi Covid-19 sehingga perekonomiannya terganggu. Sehingga ketika ada gesekan kecil biasanya suami atau orang tua melakukan kekerasan,” katanya.

Tuti mengungkapkan angka kekerasan pada perempuan dan anak jauh lebih tinggi dibanding yang dilaporkan pada Dinas PT2TP2A. Hal ini lantaran banyak perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan takut untuk melaporkan kasus kekerasan yang mereka alami.

Angka yang kita rilis ini sebenarnya masih jauh dari angka real-nya karena banyak perempuan atau anak yang masih takut melaporkan kasus kekerasan yang menimpanya,” kata Tuti menambahkan.

Tuti menambahkan pihaknya terus menyosialisasikan agar para korban tak takut untuk melaporkan kekeraan yang mereka alami. Tak hanya kepada Dinas PT2TP2A, Tuti mengatakan, para korban juga diminta berani melapor kepada aparat kepolisian.

“Kita juga sejauh ini sudah membentuk satgas pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak hingga tingkat Kecamatan dan itu yang nanti bisa digunakan masyarakat untuk melaporkan diri bila mendapatkan kekerasan. Masing-masing Kecamatan punya posko pelaporan,” tutupnya.

Pos terkait