PENJURU. ID | Jeneponto – Di penghujung masa pengabdiannya di Kabupaten Jeneponto, Kapolres Jeneponto AKBP Widi Setiawan, memilih menutup perjalanan tugasnya dengan cara sederhana namun sarat makna.
Ia menyambangi Pondok Pesantren (Ponpes) Alfatah di Kecamatan Bangkala Barat, menyapa para santri dan pengasuh dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan, Selasa (30/12/2025)
Kedatangan AKBP Widi Setiawan disambut senyum tulus para santri yang berbaris rapi menyambut tamu istimewa mereka. Tidak ada jarak yang terasa, suasana berlangsung cair, seolah pertemuan antara keluarga lama yang saling merindukan.

Silaturahmi ini menjadi pengingat bahwa keamanan dan ketenteraman tumbuh dari kedekatan hati, bukan semata kewenangan.
Dalam kesempatan tersebut, AKBP Widi Setiawan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kebersamaan yang terjalin selama ia bertugas di Jeneponto. Baginya, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berakhlak dan mencintai kedamaian.
“Di akhir masa tugas saya, saya ingin kembali bertemu adik-adik santri. Melihat senyum mereka memberi kekuatan dan ketenangan tersendiri. Ponpes adalah tempat lahirnya nilai-nilai kebaikan yang sangat kita butuhkan untuk masa depan,” ungkapnya dengan penuh ketulusan.
Ia pun berpesan agar para santri terus menjaga semangat belajar, menanamkan nilai kejujuran, serta menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, pengasuh Ponpes Alfatah, Ustadz Arham, menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan kepedulian Kapolres Jeneponto yang dinilainya konsisten membangun hubungan baik dengan pesantren.

“Kami tidak hanya menerima kunjungan seorang pejabat, tetapi kehadiran seorang sahabat. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi, menyehatkan, dan memudahkan setiap langkah Bapak Kapolres dalam pengabdian berikutnya,” tuturnya.
Bagi keluarga besar Ponpes Alfatah, kepergian AKBP Widi Setiawan meninggalkan kesan mendalam. Sosoknya dikenang sebagai pemimpin yang hadir dengan hati, mendengarkan, dan menghormati nilai-nilai keagamaan.
Kunjungan ini pun menjadi penutup yang indah sebuah pesan bahwa pengabdian sejati selalu berakar pada kemanusiaan, kepedulian, dan silaturahmi.





