PENJURU.ID | Internasional – Pemerintahan Amerika Serikat (AS) terus berupaya untuk menekan laju pertumbuhan kasus Covid-19 dengan melakukan sejumlah pengujian vaksin. Kini, tantangan AS tidak hanya menemukan penawar bagi virus mematikan tersebut tetapi juga melakukan test cepat kepada jutaan penduduk yang dipimpin oleh Donald Trumpt itu.
Sayangnya, test cepat yang dilakukan menimbulkan permasalahan yang baru. Muncul pertanyaan, apakah setiap test yang dilakukan sudah dilaporkan ke Badan Kesehatan Masyarakat (Public Health Agencies)?
Pejabat Kesehatan Negara AS (State Health Officials) mengeluhkan bahwa banyak pihak yang tidak melaporkan hasil test, sehingga terjadi ketimpangan data yang menimbulkan keterlambatan dalam mengantisipasi kasus-kasus baru. Berdasarkan aturan dari negara, semua pihak atau lembaga yang melakukan test cepat diwajibkan untuk melaporkan hasil dari test cepat baik positif maupun negatif.
Perlu diketahui, tes cepat bertujuan untuk deteksi dini kasus Covid-19 sehingga Pemerintah dapat melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mencegah penyebaran virus.
Merespon lonjakan angka Corona di AS, Pemerintah Federal setiap hari mengirimkan 100 juta lebih Rapid Test ke Sekolah-sekolah, Rumah Bantuan dan beberapa lembaga atau institusi untuk melakukan test cepat.
Dewan Ahli Epidemologi dan Teritorial Negara, Dr. Jeffrey Engel menganggap Sekolah tidak memiliki kapasitas untuk melaporkan hasil dari tes cepat dikarenakan lembaga tersebut belum memiliki teknologi yang canggih, masih menggunakan kertas sehingga akan terjadi penundaan pelaporan hasil tes.
“Sekolah pasti tidak memiliki kapasitas untuk melaporkan tes ini,” ungkap Dr. Jeffrey Engel.
“Jika dilakukan sama sekali, kemungkinan besar akan berbasis kertas, sangat lambat dan tidak lengkap.” tambahnya.
Di negara bagian Amerika, seperti Minessotta para pejabat membentuk tim khusus untuk mencoba mendapatkan data pengujian dari Panti-panti Jompo, Sekolah maupun lembaga yang melakukan test cepat lainnya.
Kristen Ehresmann selaku pihak dari Departemen Kesehatan Minnesota, mengatakan, keterbatasan beberapa lembaga untuk melaporkan hasil test cepat menjadi tantangan yang lebih berat bagi Departemen Kesehatan Minessota, pasalnya keterbatasan pelaporan secara elektronik masih harus dilakukan secara manual.
“Ini benar-benar sebuah tantangan karena sekarang kami harus melakukan lebih banyak hal secara manual dibandingkan dengan pelaporan elektronik,” kata Kristen Ehresmann, dari Departemen Kesehatan Minnesota.
Awal kemunculan wabah, test dilakukan dengan pengujian test genetik yang hanya dapat diidentifikasi di laboratorium berteknologi tinggi. Setelah melakukan test, setiap orang akan menunggu satu hingga tiga hari untuk mendapatkan hasil. Yang perlu dipahami tes cepat hanya untuk orang berisiko, yaitu yang pernah berkontak erat dengan orang sakit Covid-19 atau pernah berada di negara/wilayah yang dengan penularan lokal dan memiliki gejala seperti demam atau gangguan sistem pernapasan (pilek/sakit tenggorokan/batuk).
(ANS)




