KEMBALIKAN BALIKU

KEMBALIKAN BALIKU

PENJURU.ID | DENPASAR – Hyang adalah kata yang menunjukan pengertian pemahaman tentang yang Maha Mutlak adanya ”
Tuhan (Tuhan Yang Maha Esa),Hyang Widhi Tunggal. Ajaran asli Nusantara bukan Animisme/Dinamisme tapi sudah berkeyakinan dan menganut faham satu Tuhan sebelum ajaran pendatang masuk :

Tuhan dalam ajaran Kaharingan disebut “Yustu Ha Latalla”, sedangkan di Kotawaringin Barat disebut “Sanghyang Dewata”

Ajaran Tolotang menyebut Tuhan Yang Maha Esa, “Dewata SeuwaE”.
Parmalim Batak menyebut,”Mulajadi Na Bolon”
Budaya Marapu menyebut,Mawulu Tau-Majii Tau ,Pencipta dan Pembuat Manusia atau Tuhan Yang Maha Esa.

Budaya Asmat mengenal “Tuhan” juga “Surga” ,Ow Capinmi alam sekarang,Dampu ow Capinmi alam persinggahan ,Safar (surga).

Bali menyebut “Acintya”/Atintya (Dia yang tidak bisa dibayangkan) Yang tak terpikirkan,Yang tak terbayangkan Ida Sang Hyang Widhi Waça.

Dan prosesi beribadahnya ini ter indentifikasi dengan literasi kata “Sembahyang”,literasi kata itu terbentuk dari 2 suku kata Sembah dan kata Hyang.

Hyang adalah kata yang menunjukan pengertian pemahaman tentang yg Maha Mutlak adanya Tuhan .Tuhan Yang Maha Esa, Hyang Widhi Tunggal.

Di Bali leluhur kita mengajarkan untuk sembah hyang di Pura alam terbuka Tri Hita Karana bukan di Ashram berdoa dengan Tri Sandhya,Panca Sembah tidak dengan “maha mantra hare krishna hare rama” dan bukan menjadi pelayan abadi “Tuhan Kṛiṣṇa” di alam “Vaikuntha” nanti.

Karena Dewa bagi kami adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi atau Brahman.

Leluhur kita mengajarkan untuk menganggap pentingnya enghormatan terhadap leluhur Upakara di Sanggah.

Pedharman,,KaHyangan tiga Sad Khayangan dan ritual nya dari Rong tiga ato Sanggah Kemulan, Sanggah dari kata Sang Melinggih atau munggah naik seperti putaran Suastika,symbol ini yang di pakai dan di salah artikan Hitler.

Om Swastiastu,Ong Awighnam astu namo siddham.

Semoga di beri kemudahan dan berhasil
Pranamyam sira dewam,bhuktimuktiitarttaya, prawaksyatwa wijneyah,brahmanam ksatriyadih,patayeswarah.

Bebas dari segala kesalahan dan kekeliruan,karena kurang pahamnya kami terhadap Purana Tatwa ,dalam upaya menyusun kembali catatan sejarah,untuk mengingatkan para keluarga dan anak cucu kita,tidak buta melangkah karena sejarah nya telah tertulis terbalik.

Studi akademik menunjukan bahwa Hindu merujuk pada Agama di india baru ada sekitar tahun 1830,di Nusantara Belanda telah berperan meng “india” kan Bali,mendatangkan orang india ke Bali,meng”Kasta”kan Bali thn 1910 karena pengaruh inilah banyak orang Bali thn 1930 belajar ke india,Intelektual dan akademisi Bali berkesimpulan Bali lebih Sempurna ,Begitu juga Pilosof Rabindranath Tagore.

Agama di Bali pada awalnya bernama Agama Tirta kemudian menjadi Hindu Bali,nama ini baru di “Tempel” tahun 1950,disinilah kelak pintu gerbang kem BALI nya kejayaan Nusantara lama.

Rshi Mārkaṇḍeya adalah putra Nusantara diantara nama leluhur nya terdahulu adalah :
Dharmadasa 700-620 SM
Dharmapala 670-580 SM
Suvarnadvipa Dharmakirti 610 SM – 520 SM
Kumarila Bhatta I 618-540 SM
Adi Sankara 569-537 SM
Çhri Janaýasã abad 6 Masehi

Rsi Mārkaṇḍeya berada di Bali pada sekitar abad ke 9 M,sedangkan Mpu Gnijaya tertulis dalam “Babad Pasek”adalah salah satu dari 5 pendeta bersaudara yang dikenal sebagai “Panca Tirtha” yaitu Mpu Gnijaya,Mpu Semeru,Mpu Gana,Mpu Kuturan dan Mpu Bhradah,keberadaan Mpu Kuturan dan Mpu Bhradah di Bali sekitar abad ke 11 M,Beliau semua para Rshi diatas adalah asli putra Nusantara.

Rsi Mārkaṇḍeya,tertulis dalam sloka Bhwana Tatwa:
Sang Ayati mwang Sang Niata pada pada sira apekik listu paripurna,wicaksaneng aji,wibuhing sastra utama.”

Sang Ayati melanjutkan jejak leluhurnya menjadi seorang pertapa,beliau berputra Sang Prana,demikian pula adiknya yang bernama Sang Niata,berputra Sang Mrakanda,setelah dewasa Sang Mrakanda beristrikan Dewi Manaswini, berputra Maharsi Mārkaṇḍeya.

Selanjutnya Maharsi Mārkaṇḍeya beristrikan Dewi Dumara,menurunkan Maharsi Dewa Sirah yang beristrikan Dewi Wipari yang kemudian menurunkan banyak putera.

Adakah nama nama diatas itu nama india..?
Atau adakah sumber india yang menyebut silsilah lengkap nama Maharsi Mārkaṇḍeya siapa ayah ibu serta anak istrinya,lengkap seperti di Nusantara ini….?

Jadi,benar adanya Rshi Mārkaṇḍeya adalah putra Nusantara,bukan hanya nama nya,juga kunci bukti beliau adalah orang Nusantara adalah karena Reshi Mārkaṇḍeya melakukan penanaman “Panca Dhatu” di Pura Penataran Besakih.

Juga Rshi Agastya melakukan banyak ritual Agama Tirtha di Bali,Ini adalah bukti perilaku dan tatacara Nusantara karena hal ini tidak terdapat di India,di tambah ada peraturan di sana yang tidak tertulis bahwa “Orang Suci” tidak umum membawa ajaran nya ke luar wilayah.

Rshi Mārkaṇḍeya menciptakan sistem irigasi ”
Subak di Bali,adakah ini di india…?

Tidak benar para Rshi Majapahit lari ke Bali,Tapi berupaya menyimpan ajaran leluhur di Bali,Çhri Janaýasã melakukan “Siddhayatra”/perjalanan suci membawa “Dharma” ke Bali,Kerajaan Nusantara Srivijaya,Majapahit,Padjajaran melarang memungut pajak di Bali,di sini Dharmic Original tersimpan sempurna.

Çhri Janaýasã / “Dapuntha Hyang” abad ke 6 tahun ke 4 hari ke 11 melakukan “Siddhayatra” yaitu ‘Perjalanan Suci’ membawa “Dharma” juga Para alumni wisudawan dari Universitas “Dharmapala”,ini lokasi yang di lihat I-Thsing abad 7 M…Çhri Janaýasã pergi menyebar kearah Utara juga ke Barat bersama 2.213 orang,hal ini pula yang di lakukan Rshi Mārkaṇḍeya sampai ke Bali,disinilah “Dharmic Original” tersimpan sempurna.

Leluhur Nusantara terdahulu telah memahami akan konsep pengertian dan pemahaman “Dharma/Dhamma”… “Lebih dahulu”.. sebelum lahir nya Tokoh Agung Luhur Mulia yang hidup pada tahun 560 – 480 SM di India,Di Nusantara pada abad 4 M sampai dengan 7 M, “Peziarah Tiongkok” yang datang ke Nusantara adalah untuk “Belajar” dan mencatat,bukan membawa ajaran dari negrinya lalu di sebarkan ke Nusantara.

Nalanda Copperpalate,ditemukan di Vihara I Nalanda di India,Tertulis Raja Phala keturunan Syailendra bernama Balaputradewa dari Svarnadvipa ,Nalanda di Bihar India didirikan pada tahun 427 M di bangun oleh dan atas prakarsa Sailendra Srivijaya dari Sumatra,beliau membangun Nalanda demi kepentingan pengembangan yang pusat nya pendidikan itu ada di Nusantara.

Di area Universitas Nalanda di Bihar India,tepat nya di situs Kuil no.3 disebut dengan nama
Stupa Sariputta panel relief terpahat di atas menara,”Sariputra”adalah putra dari ibunya Śāri karena nama ibunya itulah ia disebut Sariputra Ayah nya Māṭhara,nama ibu dan anak nya jelas nama Nusantara.

Penggalian yang paling penting oleh para sarjana Buddhis Indonesia adalah konsep Ketuhanan dalam Buddhism yang diadopsi dari berbagai penelitian teks-teks kuno dalam buku Sanghyang Kamahayanikan,ajaran leluhur bangsa Indonesia yaitu konsep Hyang Widhi Tunggal dan atas dasar salah satu inilah negara memasukan Buddha menjadi salah satu Agama resmi negara.

Mahāyāna di Indonesia terpublikasi ada setelah 1955,Ketika Ashin Jinarakkhita kembali ke Indonesia dan juga saat negara mengizinkan upacara Waisak Nasional di Borobudur.

Bahwa Pra Islam di Nusantara adalah bukan Hindu atau Buddha,Raja dan Kerajaan nya menganut ajaran Dharmic Original ajaran leluhur bangsa Nusantara yang di sebut dengan Dharma/Dhamma,ajaran inilah yang di masa awal jauh sebelum 500 SM di pelajari di Svarnadvipa,tergambar di Borobudur dan tersimpan sempurna di Bali yang mendasari lahir nya ajaran di tanah india.Catatan sejarah negri ini tertulis Terbalik sejatinya kitalah yang mewarnai india.

Semoga Sang Hyang Widhi Tunggal melimpahkan segala sifat kebaikan dalam penulisan babad sejarah bangsa ini yang telah di tulis terbalik.

ikuti nya di zoominar Manajemen True Back History bekerjasama dengan Sutan Adil Institute,diskusi santai dengan tema BALI BUKAN INDIA, dengan narasumber :

1. Santo Saba Piliang, Peneliti Senior True Back History of Indonesia.

2. Jala Sathya Girinatha, Seorang Pengamat dan Praktisi Ajaran Asli Nusantara di Bali.

3. Nayaka Pidada, seorang milenial Bali

Dengan Moderator :
HG Sutan Adil

Dialog Rakyat ini ditayangkan secara LIVE via Zoom, pada : Sabtu,(21/08/2021)
Pukul : 20.00 s/d 22.00 Wib,tanpa niatan menistakan atau menyudutkan suatu agama, dialog ini adalah telaah dan wacana kajian akademik seorang peneliti sejarah nusantara.

Untuk registrasi via WA : 📞0813 8720 5109

Ada kesempatan dengan harga khusus E-Book atau Buku Elektronik berjudul “BALI BUKAN INDIA” bagi yang mendaftar khusus di Link Registrasi :https://forms.gle/HwVA2PdWvkpCQKaX8.

Om Swastiastu,
Om Awighnamastu Namo Siddham…
Ong Hrang Hring Sah Parama
Siwaditya ya Namah Swaha.
Sadhu,Shadu,Shadu.
Aamiin.
Namo Aryātara.
RahayuNusantara.
(Nayaka Pidada/SantoSaba)

Pos terkait