PENJURU.ID | DENPASAR – Ageman Bali, yang kemudian menjadi Agama Hindu Bali, tempat sucinya namanya Pura, Pejenengan, Merajan ataupun Sanggah. Lingga Ida Betara Betari ditempat suci semua dalam wujud daksina lingga.
Kalaupun ada dalam wujud batu atau patung, pasti dalam ukuran kecil, dan dilinggihang dalam pelinggih. Sehingga selalu pelinggih pelinggih ini yang menonjol kalau kita masuk kedalam Pura. Seperti Gegedongan, Gegaduhan, Meru, Padma.
Saat ini, banyak sastra India masa kini masuk ke Indonesia, dan ada orang belajar ke India, ataupun kedatangan ajaran dari India ke Indonesia, seperti yang dibawa para Sampradaya luar Nusantara.
Maka mulailah beberapa orang Bali membuat Arca Besar versi India dan dibuat sebagai Dewa Dewi yang dilinggihang di Merajan atau Pura yg dibuatnya.
Misal ada arca Siwa yg mirip Siwa di film India, ada Arca Ganesya, Saraswati dll, tapi ada yg unik juga, membuat arca spt pedanda sebagai perwujudan Betara Kawitannya.
Apakah ini salah??? Tentu tidak seorangpun yang bisa dan boleh mengatakan benar salah.
Tapi kalau kita mengikuti Ageman Bali, mari kita kembali kesujatian jati diri sebagai Ageman Bali yang diwariskan luluhur Nusantara di Bali.
Ajaran Siwa Budha yang diwariskan ini adalah ajaran kebenaran abadi/langgeng, yg dalam bahasa Sansekerta di sebut dg istilah Sanatana Dharma.
Makna dari kebenaran abadi adalah bahwa ajaran itu dari awal diturunkan Ida Sang Hyang Widhi tidak mengalami kelekangan oleh waktu. Begitu pula wujud-wujud prelingga/lingga Betara Betari di Pura atau Merajan atau Pejenengan yang diyakini (Shraddha) adalah hasil kontemplasi batin leluhur yang sudah mencapai ke Siddhi an, ataupun atmanastuti leluhur tersebut sejatinya adalah sama dengan Sang Hyang Widhi, maka artinya lingga tersebut adalah abadi juga, yang maknanya tidak perlu dirubah mengikuti ageman orang lain, yang tentunya beda dengan apa yang diwariskan leluhur kita.
Keyakinan adalah warisan. Baik itu keyakinan orang bali, orang India dan yg lainnya didunia ini.
Logika sederhana, apakah itu suatu kebenaran, kalau kita meninggalkan warisan leluhur sendiri, kemudian beralih kewarisan leluhur orang lain.
Apakah masih bisa dikatakan sebagai orang Hindu Bali/Nusantara, bila kita sudah mengikuti ageman orang lain???
Ingat bahwa Agama dan Beragama adalah ada di ranah keyakinan atau Shraddha. Hanya dengan Shraddha yg kuat yang memungkinkan masuk ke ranah spiritual untuk mencapai Moksartham Jagadithaya Ca Iti Dharma.
Bila Shraddhanya tidak lagi memakai warisan yg sudah diwariskan leluhur, tapi menyatakan diri sabagai orang yang beragama Hindu Bali/Nusantara, maka seperti bikin lawar dg bumbu kare dari India, yang tidak mungkin menghasilkan lawar yang enak.
Begitulah orang yang memakai keyakinan orang lain, menyatakan diri beragama Hindu Bali/Nusantara, maka mereka tidak akan mencapai kesempurnaan.
Penulis : Surya Anom





