PENJURU.ID | BULELENG – Pihak keluarga Kapten Laut (P) I Gede Kartika menggelar ritual “Ngedetin Atman” di perairan Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng setelah Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyatakan seluruh awak kapal Selam KRI Nanggala-402 gugur, Senin kemarin (26/04).
Keluarga besar almarhum tiba di Celukan Bawang sekitar pukul 07.30 WITA dan langsung menggelar prosesi upacara.
“Kami masih melaksanakan upacara nebusin (ritual mengembalikkan roh, menukar atma dengan upakara) di perairan Celukan Bawang,”kata paman almarhum, I Wayan Darmanta saat di konfirmasi penjuru.id, Selasa (27/04).
Pihak keluarga mengaku kaget begitu mengetahui informasi Kapten I Gede Kartika berada di kapal selam KRI Nanggala-402. Sebelum dinyatakan hilang kontak pada 21 April 2021 di perairan utara Bali, keluarga sudah mendapat firasat melalui mimpi.
Keluarga juga sempat nunas baos (minta petunjuk penekun spritual) dan disampaikan ada ikan besar menabrak kapal. “Kembali lagi ini adalah kepercayaan secara niskala,”ujarnya.
Setelah nunas baos, pihak keluarga juga menggelar upacara guru piduka di Pantai Watuklotok Klungkung pada Jumat 23 April dengan tujuan untuk memohon maaf kepada Ida Bhatara Baruna sekaligus memohon doa agar seluruh kru kapal selamat.
“Kami menghaturkan banten pejati di pura segara dan di pantai. Apapun hasilnya, itu yang terbaik,” katanya.
Rencananya, pihak keluarga menggelar upacara ngaben di rumah almarhum di Banjar Dinas Lebu Gede, Desa Lokasari, Kecamatan Sidemen, Karangasem. Hanya, pelaksanaannya belum dipastikan karena masih menunggu informasi lebih lanjut dari pihak TNI.
I Gede Kartika lahir dan tinggal di Gorontalo. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan I Nengah Renes dengan Ni Wayan Sudarmi yang sudah 30 tahun transmigran di Gotontalo.
Kapten Gede Kartika terakhir pulang ke Bali dan bertemu pamannya tahun 2018. Sejak kecil, almarhum memang bercita-cita menjadi TNI Angkatan Laut.
“Almarhum menikah dengan perempuan asal Manado dan dikaruniai satu anak laki-laki. Sedihnya, sang istri saat ini tengah hamil 7 bulan. Meski tinggal berjauhan, Darmanta menuturkan bahwa almarhum sering memberi kabar kepada keluarganya di Bali ketika hendak menjalankan tugas militer,” pungkasnya. (Nayaka/Red)




