PENJURU.ID|Mojokerto – Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada hari ini, tanggal 28 Oktober 2022 merupakan momentum untuk membangkitkan semangat persatuan dan jiwa patriotisme bagi kalangan pemuda.
Semangat patriotisme dan nasionalisme harus ditumbuhkan juga untuk kalangan para siswa siswi SMP Negeri 3 Kota Mojokerto, agar kelak mereka sebagai generasi penerus bisa memperkuat persatuan bangsa Indonesia.
Sebagai sebuah lembaga pendidikan, SMP Negeri 3 Kota Mojokerto berusaha membangun generasi muda baik itu dalam urusan akademik maupun non akademik, agar dalam mengarungi masa depan anak didik SMP Negeri 3 Kota Mojokerto memiliki bakat dan motivasi dalam berperan serta membangun bangsa Indonesia sesuai dengan kompetensi yang dimiliki masing-masing anak.
Dalam memperingati hari Sumpah Pemuda kali ini, SMP Negeri 3 Kota Mojokerto juga menggelar Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra (PBBS) tahun 2022, dengan mengadakan serangkaian kegiatan yang diikuti oleh para pendidik dan peserta didik yang bertajuk “Bersatu Bangun Bangsa Melalui Sekolah”.

Menurut Kepala SMP Negeri 3 Kota Mojokerto, Rejo, SPd.,M.Pd., kegiatan yang dilakukan di lembaganya bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat, mencari bibit-bibit serta meningkatkan motivasi siswa agar lebih berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademik.
“Kegiatan ini kami lakukan dengan serangkaian lomba meliputi pemilihan duta baca, mendongeng Bahasa Jawa, Pidato Bahasa Indonesia, Storytelling Bahasa Inggris, Penulisan Antologi Pantun Berbahasa Jawa, antologi pentigraf berbahasa Indonesia, antologi short story berbahasa Inggris,” ujar Rejo, Jumat (28/10/2022).
Lebih lanjut Rejo menjelaskan, setelah rangkaian lomba selesai diadakan acara gegap gempita sumpah pemuda berupa pameran hasil kreatifitas siswa dan panggung kreativitas.
“Sekarang ini kita gelar puncaknya kegiatan, yaitu Berbangsa Satu Bangsa Indonesia, berupa pameran dan panggung untuk ajang siswa dan guru mengekspresikan bakat-bakat mereka,” pungkas Rejo.
Perlu diketahui, untuk menyemarakan acara puncak tersebut seluruh pendidik, siswa-siswi dan tenaga kependidikan mengenakan bermacam warna pakaian adat yang ada di Indonesia, sehingga para guru dan siswa hari ini tampak tampil beda dengan busana adat yang dikenakannya.
Nanang Haryana.





