Film Black Widow Dukung Isu Feminisme

Scarlett Johanson menjadi Black Widow (Sumber: blok-a.com)

PENJURU.ID | Tangerang Selatan – Pemeran utama film Black Widow, Scarlett Johansson, mengatakan bahwa film yang akan dibintanginya itu akan mengangkat isu feminisme, diantaranya adalah gerakan #MeToo dan Time’s Up yang ada dari tahun 2017 lalu.

Gerakan #MeToo adalah sebuah gerakan untuk melawan kekerasan dan pelecehan seksual. Gerakan ini pertama kali popular di Hollywood sejak kasus pelecehan seksual yang dilakukan Harvey Weinstein yang terkuak pada Oktober 2017 lalu. Tagar #MeToo mulai popular di media social karena banyak korban pelecehan yang ikut menyuarakan pengalamannya menggunakan tagar tersebut. sedangkan Time’s Up adalah gerakan perlawanan untuk kekerasan seksual yang didukung oleh para selebriti Hollywood sebagai respon terhadap kasus Weinstein.

“Akan menjadi sebuah kesalahan jika kami tidak membahas hal itu, jika film ini tidak membahasnya secara langsung,” ungkap Johansson dalam wawancara terbaru dengan majalan Empire.

Sutradara Black Widow, Cate Shorland menganggap bahwa sangat penting untuk membuat film tentang perempuan yang membantu perempuan lainnya. Ia juga menganggap bahwa penting bagi Sineas untuk menggarap film yang menggambarkan upaya perempuan keluar dari situasi yang amat sulit.

Scarlett Johansson juga meyakinkan bahwa peran yang ia mainkan, Natasha Romanoff atau Black Widow adalah sosok yang menjunjung tinggi ideology feminism dan ingin mencapai kesetaraan gender.

“Seseorang bertanya kepada saya ‘Apakah Natasha adalah seorang yang feminis?’ Tentu saja dia, itu jelas. Itu pertanyaan yang agak konyol,” katanya, dikutip dari Aceshowbiz.

Film solo Black Widow ini masih akan dijadwalkan rilis pada 6 November 2020, film ini adalah prekuel yang terjadi antara Captain America: Civil War (2016) dan Avengers: Infinity War (2018). Film Black Widow tentu saja akan menceritakan tentang asal-usul Natasha termasuk keluarga angkatnya.

Pos terkait