PENJURU.ID | Probolinggo – Membangun kesiapsiagaan bencana tidak cukup hanya mengandalkan respons ketika peristiwa terjadi. Kesiapan sumber daya manusia yang berada paling dekat dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ketangguhan sebuah wilayah.
Semangat tersebut menjadi fokus Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, saat menggelar kegiatan peningkatan kapasitas relawan, Minggu (23/8/2026) siang.
Puluhan relawan FPRB Kelurahan Mangunharjo berkumpul di rumah Ketua FPRB Kelurahan Mangunharjo untuk mengikuti forum pembinaan dan penguatan organisasi.
Pertemuan tersebut diarahkan untuk membangun kesamaan pemahaman di antara relawan, memperkuat komunikasi serta menyiapkan pola koordinasi yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana di wilayah kelurahan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Fasilitator Rumah Zakat dan FPRB Kota Probolinggo Eko Yudha, Lurah Mangunharjo Ikromi Wida Utama, Ketua FPRB Kelurahan Mangunharjo Rudi Purwanto serta puluhan relawan.
Bagi FPRB Mangunharjo, peningkatan kapasitas menjadi bagian dari investasi jangka panjang. Relawan yang memiliki pengetahuan dan kesiapan dinilai akan lebih mampu mengambil peran ketika masyarakat membutuhkan bantuan.
Fasilitator Rumah Zakat dan FPRB Kota Probolinggo Eko Yudha menegaskan, kekuatan utama organisasi kebencanaan tidak hanya terletak pada jumlah personel, tetapi juga pada kemampuan setiap relawan dalam menjalankan tugasnya.
“Relawan harus terus meningkatkan kapasitas. Ketika kita berbicara tentang kebencanaan, yang dibutuhkan bukan hanya keberanian, tetapi juga pengetahuan, kesiapan dan kemampuan berkoordinasi,” ujar Eko.
Ia menjelaskan, situasi bencana sering kali menuntut keputusan cepat. Karena itu, relawan perlu memiliki pemahaman yang baik agar langkah yang diambil tidak justru menimbulkan persoalan baru.
“Dalam kondisi darurat, relawan harus mampu membaca situasi. Informasi yang diterima harus dikomunikasikan dengan baik, kemudian setiap tindakan dilakukan berdasarkan koordinasi,” jelasnya.
Menurut Eko, forum peningkatan kapasitas juga penting untuk mempertemukan pengalaman para relawan. Setiap anggota memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda sehingga dapat saling melengkapi.
“Pertemuan seperti ini menjadi tempat untuk belajar bersama. Relawan bisa berbagi pengalaman, menyampaikan kendala dan mencari solusi bersama,” katanya.
Eko berharap pembinaan tersebut mampu membentuk pola kerja FPRB yang semakin sistematis. Dengan pola kerja yang jelas, setiap relawan dapat memahami posisi dan tanggung jawabnya ketika menghadapi situasi kebencanaan.

“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan individu, tetapi juga kemampuan tim. Karena dalam penanggulangan bencana, kerja bersama jauh lebih penting,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tugas relawan tidak dimulai saat bencana terjadi. Sebelum bencana, relawan memiliki peran dalam mengedukasi masyarakat dan mendorong berbagai langkah pengurangan risiko.
“Relawan harus hadir sebelum bencana. Edukasi, sosialisasi dan kesiapsiagaan adalah bagian dari tugas yang tidak kalah penting,” ungkap Eko.
Selain membahas penguatan kapasitas, pertemuan tersebut turut digunakan untuk menyusun program kerja FPRB Mangunharjo. Salah satu rencana yang dibahas adalah penanaman tanaman kelor.
Rencana tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan sekaligus mendukung ketahanan pangan masyarakat. Namun, program tersebut tetap ditempatkan sebagai bagian dari pengembangan kegiatan FPRB secara lebih luas.
Lurah Mangunharjo Ikromi Wida Utama menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, relawan yang terus meningkatkan kemampuan akan menjadi kekuatan tambahan bagi kelurahan dalam menghadapi berbagai risiko.
“Peningkatan kapasitas ini sangat penting. Kami ingin relawan Mangunharjo memiliki kesiapan dan kemampuan yang semakin baik sehingga dapat membantu masyarakat ketika menghadapi kondisi darurat,” tutur Ikromi.
Ia mengatakan, pemerintah kelurahan akan terus mendorong terciptanya komunikasi yang baik antara FPRB dan masyarakat.
“Pemerintah kelurahan tentu tidak bisa berjalan sendiri. Relawan menjadi mitra penting dalam membangun kesiapsiagaan, terutama karena mereka berada langsung di lingkungan masyarakat,” katanya.
Ikromi juga menilai kekompakan menjadi salah satu modal utama dalam menjalankan tugas kebencanaan.
“Kalau komunikasi dan kekompakan sudah terbangun, koordinasi di lapangan akan jauh lebih mudah. Karena itu, kami berharap kegiatan pembinaan seperti ini terus dilaksanakan,” ujarnya.
Ia menambahkan, rencana penanaman kelor juga memiliki nilai positif karena mengarah pada pemanfaatan lahan dan ketahanan pangan.
“Program itu bagus untuk dikembangkan. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana seluruh program bisa dilaksanakan bersama dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” imbuhnya.
Ketua FPRB Kelurahan Mangunharjo Rudi Purwanto menyebut peningkatan kapasitas merupakan bagian dari evaluasi dan penguatan internal organisasi.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan relawan semakin memahami peran masing-masing. Kami juga ingin membangun pola koordinasi yang lebih baik di antara anggota,” ujar Rudi.
Ia mengatakan, FPRB Mangunharjo membutuhkan relawan yang tidak hanya aktif, tetapi juga mampu bekerja secara terukur ketika berada di lapangan.
“Relawan harus siap secara mental, pengetahuan dan komunikasi. Semua itu perlu terus dilatih dan diperkuat melalui kegiatan bersama,” katanya.
Rudi berharap kegiatan peningkatan kapasitas dapat menjadi agenda yang dilakukan secara berkala. Dengan begitu, kemampuan relawan tidak berhenti pada teori, tetapi terus berkembang melalui pengalaman dan evaluasi.
“Kami akan berusaha menjaga kegiatan pembinaan ini tetap berlanjut. Semakin sering berkomunikasi dan berlatih, kami berharap semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, program penanaman kelor yang turut dibahas merupakan bentuk upaya FPRB mengembangkan kegiatan produktif di tengah masyarakat.
“Kelor menjadi salah satu program yang kami rencanakan. Harapannya, kegiatan tersebut dapat berjalan bersama dengan upaya membangun ketahanan masyarakat,” pungkas Rudi.
Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut sekaligus menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus dibangun jauh sebelum keadaan darurat terjadi.
Dengan memperkuat pengetahuan, komunikasi, koordinasi dan kekompakan relawan, FPRB Kelurahan Mangunharjo berupaya membentuk sumber daya manusia kebencanaan yang lebih siap menghadapi berbagai risiko.
Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat FPRB sebagai organisasi relawan, tetapi juga mendorong terbentuknya masyarakat Mangunharjo yang semakin sadar terhadap risiko dan mampu mengambil langkah tepat dalam menghadapi bencana.
(Prasojo)





