PHDI dan Penghancuran Dharma Asli Nusantara

PENJURU.ID|DENPASAR – Terinspirasi oleh gugatan tentang beragama yang ruwet dan mahal, terutama dalam pemakaian banten untuk Yadnya.

Dimana mereka yg melempar isu ruwet dan mahal ini justru mereka tidak memahami Hindu Bali adalah agama dari Dharma asli Nusantara.

Nusantara adalah negeri yang subur dan ada diiklim tropis yang sepanjang tahun disinari matahari dg curah hujan yang cukup.
Tidak ada hari yg karena faktor iklim yg rutin, shg tidak memungkinkan untuk mengadakan aktifitas.

Nah dari hal itulah diturunkan ajaran Dharma melalui para orang Siddhi di Nusantara ribuan tahun sebelum Masehi, dan para orang Siddhi membuat aplikasi ajaran ini untuk bisa dilaksanakan oleh semua masyarakat.

Dari sinilah muncul apa yang disebut Banten, yang bahannya dari bahan alam yang subur ini. Dari yang berkembang biak dengan anak, telur dan biji buah. Wujud yang dimasak (diproses dengan proses masak memasak), yanh mentah (tidak diproses masak memasa maupun buah yang belum matang) dan yang sudah matang (buah-buahan).

Dan banten ini bukan persembahan untuk Tuhan atau mahluk gaib lainnya, tapi banten adalah metha linguistic, artinya alat komunikasi dari sekala (dunia fana) ke niskala (luar dunia fana) dengan bahasa diatas bahasa biasa. Setelah selesai acara barulah banten di makan oleh yang “matur” (dibali sering dikatakan maturan).

Banten memiliki pakem yang jelas dan pasti. Dan itu sangat dipahami terutama oleh Sulinggih dan Tapeni. Dan bahan banten dari hasil bumi di Nusantara, tidak perlu import. Lantas dimana letak ruwet dan mahalnya?

Kita membeli mobil bikinan Jepang, negara Eropa atau Amerika atau negara luar lainnya untuk alat transportasi, tidak pernah dikatakan ruwet dan mahal karena kita butuh.

Nah begitu juga banten, umat-umat yang memahami dan menjalankan Agama Hindu Bali sangat membutuhkan banten ini. Sehingga tidak pernah mengatakan itu ruwet dan mahal. Apalagi mereka tahu dengan banten yang tepat guna. Artinya bila untuk mebanten tiap hari, paling dia butuh canang sari secukupnya saja.

Para penganut ajaran Sampradaya tidak membutuhkan banten ini, dan yang pasti tidak memahami apa itu banten. Karena bagi mereka mejapa saja sudah cukup. Bila mereka melihat atau ditawari, tentulah mereka teriak bahwa banten ini ruwet dan mahal.

Jadi siapa sejatinya yg merasakan banten itu ruwet dan mahal, apakah umat Hindu Bali?
Jawabnya tidak!

Lalu siapa?

Yang mengatakan ruwet dan mahal adalah mereka yang meyakini ajaran Sampradaya luar nusantara, baik mereka sebagai penganut ajaran sampradaya maupun tidak.

Dan konyolnya, ajaran sampradaya ini masih dikatakan sebagai bagian Hindu di Indonesia oleh beberapa orang yg mengaku atau mendapat label tokoh agama Hindu di Indonesia, beberapa akademisi dan juga mayoritas dari pengurus PHDI Pusat.

Untuk pengurus PHDI Pusat, saba Pandita telah mengeluarkan rekomendasi mencabut pengayoman terhadap Sampradaya, tapi PH PHDI Pusat hanya mengeluarkan surat pencabutan surat pengayoman Hare Krisna yang ditandatangani PH PHDI Pusat sebelumnya.

Padahal bukan itu hal yang crucial dan urgent yang terkandung dalam rekomendasi tersebut. Dimana rekomendasi tersebut mengandung pernyataan bahwa sampradaya luar nusantara itu bukanlah Hindu yang ada di Indonesia.
Dan ini dijelaskan tegas oleh Wakil Dharma Adyaksa, Ida Mpu Acharya Nanda disuatu kesempatan yang direkam lewat video dan diposting di YouTube.

“Nah semestinya PH PHDI Pusat menindak lanjuti rekomendasi tersebut, dengan membuat surat untuk umum, instansi pemerintah dan jajaran PHDI Provinsi, agar semua memahami bahwa Sampradaya luar nusantara itu bukan Hindu di Indonesia. Sehingga juga Dirjen Bimas Hindu tidak bisa berlindung lagi untuk tidak mencabut TDP Sampradaya-Sampradaya tersebut.” kata Surya Anom Praktisi Hindu Bali saat di konfirmasi penjuru.id, Senin (13/09) melalui sambungan telepon.

“Dengan sikap gabeng PH PHDI Pusat ini, maka ajaran Sampradaya masih terus mengintervensi umat Hindu, membuat umat Hindu tersesat, dan yang sudah tersesat merasa nyaman untuk ikut menyebarkan ajaran sampradaya untuk bersama sama tersesat atau masuk kedunia sesat.” tegasnya.

“Ini semua adalah penghancuran Dharma Asli Nusantara.”pungkasnya. (Nayaka Penjuru)

Pos terkait