Peziarah Pertapaan Pringgodani Gunung Lawu di Himbau Mengikuti Protokol Kesehatan

PENJURU.ID|TAWANGMANGU – Pertapaan Pringgondani, sebuah lokasi religi yang dihormati penduduk setempat. Sudah sejak lama Pringgondani dikenal sebagai tempat yang wingit. Sebuah kompleks pertapaan yang dipercaya sebagai salah satu petilasan Raja Majapahit yang terakhir, Prabu Brawijaya V. Ia disebut melarikan diri dari musuh-musuhnya sampai kemudian meninggal atau disebut moksa di sana.

Terletak di Kelurahan Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar Gunung Lawu, yang secara administrasi berada di perbatasan antara Jawa Tengah dengan Jawa Timur, Pringgondani berasal dari kata “pring” (bambu), “nggon” (tempat), dan “dani” (memperbaiki).

Secara sederhana bisa diartikan sebagai “tempat yang digunakan untuk memperbaiki diri”. Dalam nama yang lain Pringgondani juga disebut “Eyang Panembahan Koconegoro”,

Dalam kompleks pertapaan terdapat Pertapaan Koconegoro; sebuah tempat yang dituakan (dikeramatkan) yang digunakan untuk tempat bercerminnya kerajaan.

Mitos yang kemudian berkembang menjadi kepercayaan bahwa seorang pemimpin (dari) Jawa harus melakukannya agar negara dan kedudukannya aman sentosa.

Menyambut 1 Suro 1955 Tahun Saka Jawa yang jatuh pada Selasa 10 Agustus 2021 Paguyuban Putra Wayah Pringgodani sudah melaksanakan pembersihan di sekitar Pertapaan Pringgodani baik pengecatan dan perbaikan untuk kenyamanan para peziarah.

” Untuk peziarah dihimbau untuk mentaati protokol kesehatan saat hendak naik ke pertapaan Pringgodani dan mengunakan masker, untuk masuk ke pertapaan Pringgodani maksimal hanya 10 orang dengan menjaga jarak aman, serta waktu bersembahyang 10-15 menit.” kata Agus Sriyanto saat di konfirmasi penjuru.id, Sabtu (7/8) di Blumbang RT 01/03 Tawangmangu Karanganyar.

” Diharap para peziarah mematuhi prokes dan berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenal, tidak ada juru kunci di Pertapaan Pringgodani.” tegasnya.

” Mohon menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya, dilarang mencorat-coret tembok dalam bentuk apapun.” imbuhnya.

“Mari kita saling menjaga lingkungan dan mentaati protokol kesehatan , dalam keheningan bermunajat sesuai agama dan kepercayaan masing-masing untuk bumi nusantara yang sedang mengalami Pagembluk.” pungkasnya. (Adi Penjuru)

Pos terkait