PENJURU.ID | TAWANGMANGU – Upacara Peringatan Hari Lahirnya Dusun Pancot Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, inilah salah satu warisan budaya leluhur yang sampai hari ini masih terjaga dengan baik.
Upacara peringatan hari lahirnya Dusun Pancot ini memang asyik untuk disimak.Keunikan tatacaranya mungkin hanya dimiliki oleh warga dusun Pancot.
Berikut Tokoh Masyarakat Dusun Pancot Ki Dalang Sulardianto Pringgocarito memaparkan cerita tentang Modhosio saat di konfirmasi penjuru.id, Sabtu,(01/05).
Konon pada jaman dahulu kala bertahtalah seorang raja raksasa yang sangat arif dan bijaksana,bernama Prabu Baka.
Dia memeruntah di negara besar bernama Medhang Kamulan.Sang raja memerintah dengan dengan bijak,sehingga negara Medhang Kamulan menjadi negara besar yang gemah ripah loh jinawi karta raharja.
Negara yang dikagumi oleh bangsa lain.Prabu Baka disegani oleh sesama raja karena kewibawaan dan kesaktiannya.
Pada suatu hari,di dapur istana para juru masak sedang menyiapkan makanan untuk disajikan kepada Sang Prabu dan keluarga kerajaan.Terceritalah jari kelingking salah satu abdi juru memasak tersayat pisau,sehingga sedikit daging dan darahya masuk dalam makanan tersebut.
Dengan perasaan yang sangat takut dia menghidangkan makanan untum Prabu Baka.
Ketakutan semakin menjadi ketika sang abdi ditanya oleh Sang Prabu.
” Biyung emban,,masakan hari ini sangat istimewa,berbeda dengan masakan hari hari kemari.Kau kasih apa masakan ini sehingga rasanya menjadi lezat yang luar biasa”.
Dalam ketakutan yang luar biasa,disertai keringat dingin bercucuran,akhirnya si emban pun menceritakan yang terjadi di dapur istana.
“Anu sang Prabu,,, anu…. maaf beribu maaf Gusti,,ampunilah kesalahan hamba, pada waktu hamba memasak jari kelingking saya tersayat pisau,sehingga sedikit daging dan darah saya masuk di dalam masakan Gusti.
Sekali lagi hamba mohon ampun Gusti..Hukuman apapun hamba siap menerimanya..”
Mendengar cerita tersebut alangkah kagetnya Prabu Baka.Dia termenung sambil menghela nafas.Dalam hatinya dia berujar “Hemmmmmmm daging manusia sungguh nikmat luar biasa.Sayatan daging dan darah yang hanya sedikit membuat masakan ini lezat tiada tara…hmmmm”
Setiap saat hati Prabu Baka gundah gulana,selalu membayangkan lezatnya daging dan darah manusia.Perasaan dan nafsunya semakin menjadi.
Dan kejadian itulah yang mengilhami Prabu Baka menjadi manusia KANIBAL.
Tak tanggung tanggung dia membuat peraturan setiap 35 hari sekali dia meminta upeti berupa manusia.
Kondisi ini menjadikan warga ketakutan.Negara Medhang Kamulan yang terkenal damai kini berubah menjadi negara yang mencekam dan mengerikan.Banyak warga yang melarikan diri ke tempat tempat sepi demi menghindar dari santapan Prabu Baka.
Terceritalah setelah sekian banyak dia memakan mangsa manusia,giliran berikutnya adalah keluarga Mbok Randha Dhadapan.
Dia seorang janda tua yang ditinggal mati suaminya dan dikaruniai seorang putri.
Begitu sedih dan susahnya Mbok Randha karena pada hari yang telah ditentukan,anak semata wayangnya harus diserahkan kepada Prabu Baka sebagai upeti.
Tangispun tak terbendung.Warga sekitar hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat banyak dengan keberingasan Prabu Baka.
Dikala kesedihan yang semakin memuncak,turunlah seorang kesatria dari Pertapan Pringgondani bernama Puthut Tetuka.
Dalam perjalanan pengembaraanya dia selalu mendengar tangisan Mbok Randa Dadapan yang begitu menyayat hati.Akhirnya diputuskan untuk singgah di rumah Mbok Randha.
Seluruh isi rumah dan para tetangga menangis sejadi jadinya untuk meminta pertolongan Puthut Tetuka.
Akhirnya Puthut Tetuka menyanggupi diri menghadapi Prabu Baka sebagai ganti putri Mbok Randha Dadapan.
Hari yang telah ditentukan pun tiba,dengan langkah yang tenang tapi pasti Puthut Tetuka dengan diarak oleh para warga menuju tempat yang telah ditentukan.
Prabu Baka dengan sabar menanti upeti yang telah ditetapkan.Begitu melihat kedatangan Puthut Tetuka,Prabu Baka mlompat dari kursi menuju alun alun.Syahwat kanibalpun menjadi,ingin secepatnya memangsa satriya muda yang tampan n gagah perkasa.
Prabu Baka tak menggubris kata demi kata yang disampaikan Puthut Tetuka.Nafsu membunuhnya kian tak terbendung.Akhirnya terjadilah peperangan yang begitu sengit antara Prabu Baka dan Puthut Tetuka.
Keduannya sama sama sakti,hingga perangpun terjadi berhari hari.
Prabu Baka tidak menyangka mangsanya begitu tangguh dan sakti.Tidak mempan semua senjata,bahkan gigitan Prabu Baka yang beracunpun kandas dibuatnya.
Prabu Baka semakin marah dan membabi buta,Puthut Tetuka dimakan masuk perut/ diuntal.Di dalam perutpun Puthut Tetuka juga tidak mati.Akhirnya dihempaskan dari perut.
Begitu kencangnya hempasan Prabu Baka,sampai Puthut Tetuka terhempas sampai Samudra Kidul.
Puthut Tetuka tidak patah semangat.Dalam benaknya dia memohon pertolongan Hyang Widi agar diberi petunjuk.Dalam diamnya dia mendapatkan petunjuk untuk membawa Batu Gilang dadi samudra kidul.
Perangpun masih terus berlanjut.Warga harap harap cemas dengan situasi ini.
Saling menghantam,saling menendang,adu kesaktianpu terjadi hingga bumi ini seakan bergoncang.
Akhirnya Dieeees…. Kepala Prabu Baka dibenturkan Batu Gilang pusaka Puthut Tetuka.Merontalah Prabu Baka sejadinya.Rambut dijambak,pundhak “DIPANCAT” ke Watu Gilang,hingga hancurlah tubuh Prabu Baka.
Sorak soraipun membahana di alun alun Medhang Kamulan. Tangis gembirapun tak terbendung lagi.Pecahan tubuh Prabu Baka ini dipercaya warga masyarakat menjadi beberapa bentuk.
Gigi taring Prabu Baka menjelma menjadi BAWANG PUTIH yang sampai saat ini menjadi komoditas andalan warga masyarakat.Mata Prabu Baka menjelma menjadi BAWANG MERAH.
Otak Prabu Baka menjelma menjadi GUNUNG KAPUR yang sekarang berada di Dusun Gamping Desa Bandardawung.
Peristiwa ini konon dipercaya terjadi pada hari Selasa Kliwon, Wuku Modhosio. Kata Pancat akhirnya bergeser menjadi Pancot.
“Sehingga hari itu ditetapkan sebagai Hari Lahirnya Dusun Pancot dan diperingati dengan Upacara adat sebagai bentuk rasa syukur kembalinya kedamaian dan sirnanya angkara murka Prabu baka.”ujarnya.
MODHOSIO pada tahun ini jatuh Hari Selasa Kliwon, 4 mei 2021.
Rangkaian prosesi sudah dimulai sejak hari Kamis Kliwon sampai Selasa Kliwon yang akan datang.
“Ada acara pembuatan tape ketan yang akan diambil airnya untuk menyiram Watu Gilang.Pada hari Minggu Pon ada acara Cebukan, Senin Wage Pembuatan sesaji dan Gandhik makanan khas Modhosio.
Malam Selasa Kliwon Upacara Nabuh Bendhe di 9 tempat keramat,Selasa kliwon pagi penyembelihan hewan korban Wedus Kendhit lanjut Selasa siang Kirab Reyog, nyiram Batu Gilang, Abur- aburan Ayam Nazhar dengan diiringi gamelan Keramat Kyai Thok Prol yang melantunkan gending-gending pujian.”pungkas Ki Dalang Sulardianto Pringgocarito.(Adi Penjuru)





