PENJURU.ID | OPINI – Indonesia sedang berada pada titik kritis dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, sebuah visi ambisius yang diharapkan akan membawa negara ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Untuk mewujudkan visi ini, pendidikan menjadi salah satu faktor kunci yang harus diperhatikan secara serius oleh pemerintah. Bertepatan dengan penetapan Presiden terpilih, Prabowo Subianto, banyak harapan digantungkan pada kebijakan-kebijakan pendidikan yang akan diimplementasikan selama masa kepemimpinannya.
Salah satu program prioritas yang telah diumumkan oleh Prabowo Subianto adalah pemberian makan siang dan susu gratis di sekolah serta bantuan gizi untuk anak balita dan ibu hamil. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak tetapi juga untuk memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini. Bonus demografi ini harus dimanfaatkan dengan baik agar generasi muda dapat bertransformasi menjadi kekuatan besar bagi bangsa, terutama dalam upaya mencapai Indonesia Emas 2045.
Namun, jika program pendidikan tidak dikelola dengan baik, Indonesia berisiko terjebak dalam jebakan pendapatan menengah, yang akan menyulitkan pencapaian target jangka panjang tersebut. Saat populasi menua dan proporsi penduduk lanjut usia meningkat, tantangan demografi akan semakin besar. Oleh karena itu, program makan siang gratis di sekolah harus dilihat sebagai investasi jangka panjang yang penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Kajian World Food Program (WFP) menunjukkan bahwa program makan di sekolah yang diimplementasikan di 76 negara telah memberikan dampak positif yang signifikan. Program ini mampu menciptakan jutaan lapangan kerja dan memastikan bahwa siswa mendapatkan nutrisi yang cukup untuk mendukung proses belajar mereka. Namun, kapasitas fiskal negara dan rantai distribusi pangan menjadi faktor kritis dalam keberhasilan program ini. Oleh karena itu, Indonesia perlu mengadopsi pendekatan yang cermat dalam implementasinya, belajar dari pilot project yang sudah dilakukan di beberapa daerah.
Selain program makan gratis, perhatian juga harus diberikan pada infrastruktur dasar sekolah. Data menunjukkan bahwa masih banyak sekolah di Indonesia yang belum memiliki toilet dan sanitasi yang layak. Hal ini tidak hanya mempengaruhi kenyamanan belajar siswa tetapi juga berdampak pada kesehatan dan kehadiran mereka di sekolah. Terutama bagi remaja putri, ketiadaan fasilitas sanitasi yang memadai dapat menjadi hambatan besar dalam pendidikan mereka.
Pemerintah harus mengambil langkah afirmatif untuk memastikan bahwa semua remaja putri tetap bersekolah dan menyelesaikan pendidikan hingga tingkat atas. Upaya ini penting untuk memutus siklus perkawinan anak yang berkontribusi pada tingginya angka stunting dan kematian ibu dan anak di Indonesia. Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan bahwa perkawinan anak masih menjadi masalah serius di Indonesia, dengan jutaan kejadian setiap tahunnya.
Investasi dalam pendidikan dan kesehatan anak tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek tetapi juga keuntungan jangka panjang bagi negara. Kajian menunjukkan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) dan sanitasi dapat memberikan return of investment yang signifikan. Oleh karena itu, pemerintah harus memastikan bahwa anggaran pendidikan dikelola dengan efektif dan efisien, termasuk melakukan analisis biaya-manfaat dari setiap program yang dijalankan.
Memperingati Hari Pendidikan Nasional bukan hanya tentang mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, tetapi juga tentang mengevaluasi pencapaian dan investasi kita di sektor pendidikan. Program makan siang gratis di sekolah harus menjadi bagian dari upaya yang lebih besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia. Dengan demikian, kita dapat mewujudkan perjuangan Ki Hajar Dewantara dan membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.
- Oleh : Nurfaizal Rosyid
- Mahasiswa FKIP PPKn Universitas Pamulang
- Kelas 06 PPKE 002





