PENJURU.ID | SEMARANG – Berbeda dengan Millenial kebanyakan Maming Hermawan lebih suka memakai sepeda tua populer disebut sepeda onthel dalam bahasa jawa berati kayu. Ibu 2 anak dalam keseharianya untuk belanja ke pasar dan berkegiatan yang jaraknya dekat memilih moda sepeda selain sehat, ramah lingkungan .
“Sensasinya berbeda ketika naik sepeda onthel apalagi jika bertemu orang ada roso tersendiri yang gak bisa diungkapkan apalagi sekarang di kota di tunjang dengan jalur sepeda.” kata Maming Hermawan saat dikonfirmasi penjuru.id, Jumat (03/09/2021) melalui sambungan telepon.
“Sudah lama saya menyukai sepeda onthel dari kecil dulu sering sama eyang ke pasar diboncengin, dulu sepeda pernah menjadi simbol kemakmuran pemiliknya namun seiring berjalanya waktu, ada history tersendiri ketika menaiki sepeda onthel.” jelas Founder KUMPUL GAYENG SENI & BUDAYA .
“Sejarah onthel sendiri dulu banyak dipake para pahlawan dan menjadi budaya sendiri bagi masyarakat indonesia nilai ini yang tidak ada di sepeda yang lain selain berolah raga juga melestarikan budaya dan merawat sejarah tidak hanya itu Onthelis lebih nyawiji dan guyub tidak ada sekat harga maupun mahal murahnya sepeda serta tidak adu cepat dijalan santai guyub rukun lan nyawiji.” tegasnya.
Pengiat kesenian, ibu dari para seniman seniwati semarang mengoleksi beberapa sepeda onthel yang paling di sukai dari pabikan belanda dan masih tertarik untuk menambah koleksi sepeda onthel serta mengajak para masyarakat untuk bersepeda onthel.
“Melalui sepeda harapanya para millenial bisa menggali lagi sejarah serta menjaga warisan adiluhung bangsa dagar tidak punah dimakan teknologi yang semakin pesat.” pungkasnya. (Gun/Nugie).





