Fenomena internet 100 Mbps dengan harga Rp100.000 ini memang sedang hangat karena adanya inisiatif pemerintah (lewat lelang frekuensi 1,4 GHz yang baru saja dimenangkan oleh provider seperti Surge/WIFI dan MyRepublic) untuk menyediakan “Internet Rakyat”.
Namun, sebagai konsumen yang cerdas, kamu harus sangat kritis sebelum tergiur. Ada perbedaan teknologi mendasar antara internet “murah” ini dengan internet fiber optik (seperti IndiHome, Biznet, CBN dll) yang biasa kamu bayar Rp300rb++.
Berikut adalah bedah kritisnya:
1. Beda Teknologi: Kabel vs. Wireless (Jebakan Utama)
Ini adalah poin paling krusial yang sering tidak dijelaskan dalam marketing.
• Internet 300rb++ (Fiber Optic/FTTH): Menggunakan kabel kaca fisik yang ditarik langsung ke rumahmu. Sinyal stabil, minim gangguan cuaca, dan latency (ping) rendah.
• Internet 100rb (FWA – Fixed Wireless Access): Layanan internet murah ini kemungkinan besar menggunakan teknologi FWA (seperti modem WiFi 5G/4G rumahan). Sinyalnya dikirim via udara (wireless) dari tower terdekat ke modem di rumahmu.
• Kritisnya: Karena lewat udara, stabilitasnya rentan. Hujan deras, angin kencang, atau terhalang bangunan tinggi bisa membuat kecepatan drop drastis. Jangan harap performanya sestabil kabel fiber.
2. Konsep “Up To” yang Lebih Brutal
Di dunia internet, kata “Up To 100 Mbps” adalah mantra keramat.
• Di Fiber Optic: Jika provider bilang up to 100 Mbps, biasanya kamu akan dapat minimal 80-90 Mbps stabil, karena jalurnya dedicated (khusus) ke rumahmu.
• Di Wireless (Internet Murah): Bandwidth di tower itu dibagi ramai-ramai (shared) dengan tetangga satu area.
• Kritisnya: Jam 2 pagi mungkin kamu dapat 100 Mbps. Tapi jam 7 malam saat semua orang pulang kerja dan streaming? Bisa jadi kecepatanmu anjlok ke 10 Mbps atau bahkan macet total karena jalur udaranya penuh (“traffic jam”).
3. FUP (Fair Usage Policy) yang Samar
Jarang ada provider seluler/wireless yang berani memberikan True Unlimited tanpa syarat dengan harga semurah itu.
• Biasanya ada batas pemakaian wajar. Misalnya, setelah pemakaian 300GB atau 500GB, kecepatan akan diturunkan drastis (throtling) menjadi sangat lambat (misal cuma 1 Mbps).
• Untuk rumah dengan 4-5 anggota keluarga yang aktif streaming TikTok, YouTube HD, dan download game, FUP ini bisa habis dalam waktu 2 minggu saja.
4. Strategi “Bakar Uang” (Predatory Pricing)
Harga Rp100.000 untuk 100 Mbps secara hitungan bisnis telekomunikasi sebenarnya tidak masuk akal untuk jangka panjang jika infrastrukturnya premium.
• Ada kemungkinan ini adalah strategi Customer Acquisition (bakar uang) untuk mematikan pesaing kecil atau mengumpulkan massa (data user).
• Risikonya: Setelah 6-12 bulan, harga bisa tiba-tiba naik, atau kualitas layanan diturunkan karena provider “kehabisan nafas” menanggung biaya operasional yang tidak tertutup oleh harga langganan.
5. After Sales & Support
Internet murah biasanya memangkas biaya di layanan pelanggan (Customer Service).
• Jika internet mati, apakah teknisi akan datang dalam 1×24 jam? Atau kamu hanya disuruh restart modem oleh bot WhatsApp?
• Provider premium mahal karena mereka punya pasukan teknisi dan SLA (Service Level Agreement) yang lebih jelas.
Kesimpulan Kritis (Verdict)
Pandangan saya: “Ada rupa, ada harga.”
• Ambil paket ini JIKA: Kamu tinggal sendirian/berdua, penggunaan internet ringan (hanya chat/sosmed/browsing), budget sangat ketat, atau di daerahmu belum masuk kabel fiber optik sama sekali.
• JANGAN ambil paket ini JIKA: Kamu gamer kompetitif (butuh ping kecil), work from home yang butuh Zoom stabil tanpa putus, atau keluarga besar yang sering streaming video 4K bersamaan.
Saran Langkah Selanjutnya:
Jika kamu penasaran ingin mencoba, tanyakan detail ini ke sales provider tersebut sebelum pasang:
“Apakah ini koneksinya Full Fiber Optic sampai ke modem, atau Wireless/FWA? Dan berapa batas FUP bulanannya secara spesifik?” Jawaban mereka akan menentukan apakah ini layak dibeli atau tidak.**





