Ratusan Warga Ramaikan Pawai Obor Malam 1 Muharam di Desa Sukapura

Oplus_131072

PENJURU.ID | Probolinggo – Langit Sukapura, Kabupaten Probolinggo, malam Senin 15 Juni 2026 terlihat lebih terang. Pemdes Sukapura menggelar Pawai Obor menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah.

Rute pawai dimulai dari Patung Kebonsengon. Barisan peserta berjalan kaki menyusuri jalan desa hingga finish di Rest Area Polsek Sukapura.

Kegiatan ini diikuti ratusan warga. Mulai dari perangkat desa, pemuda, ibu-ibu PKK, santri, sampai anak-anak. Semuanya membawa obor yang menyala.

Suasana religius terasa sejak awal. Peserta melantunkan shalawat dan takbir sepanjang perjalanan. Warga di tepi jalan ikut menyaksikan dengan antusias.

Pengamanan dilakukan ketat oleh jajaran Polsek Sukapura, Koramil Sukapura, dan Tagana. Mereka berjaga di titik simpul dan persimpangan demi kelancaran.

Polsek Sukapura memimpin pengawalan barisan depan dan belakang. Koramil membantu pengaturan arus warga. Tagana siaga mengantisipasi risiko dari api obor.

Sesampainya di Rest Area Polsek Sukapura, acara dilanjutkan dengan khidmat. Momen puncak pawai diisi pemberian santunan untuk anak yatim.

Anak-anak yatim menerima santunan langsung dari perangkat desa dan tokoh masyarakat. Wajah mereka sumringah mendapat perhatian di malam tahun baru Islam.

Untung Arsiadi, Kepala Desa Sukapura, menyebut pawai obor sebagai tradisi syukur. Menurutnya, 1 Muharram harus disambut dengan kebersamaan.

“Pawai obor ini simbol semangat baru di tahun Hijriah. Kita mulai dengan doa, kebersamaan, dan berbagi. Harapannya Desa Sukapura makin rukun, maju, dan berkah,” ujar Untung Arsiadi.

Ia menegaskan, Pemdes ingin menjadikan 1 Muharram momentum memperkuat silaturahmi. Kolaborasi warga, TNI, Polri, dan Tagana jadi bukti solidnya gotong royong.

“Ke depan kami ingin kegiatan seperti ini rutin. Ajak semua elemen. Karena membangun desa butuh sinergi, bukan jalan sendiri,” tambahnya.

Bunda Rin, salah satu peserta pawai, mengaku ikut sejak start di Kebonsengon. Baginya berjalan sambil membawa obor memberi rasa khidmat tersendiri.

“Merinding waktu shalawatan bareng-bareng malam-malam. Rasanya adem. Apalagi pas sampai finish langsung santuni anak yatim. Hati jadi tenang,” kata Bunda Rin.

Ia berharap tradisi pawai obor terus dilestarikan. Menurutnya, kegiatan ini menanamkan semangat hijrah dan kepedulian sosial sejak dini.

Acara ditutup dengan doa bersama. Dengan obor yang padam, warga Sukapura melangkah ke 1448 Hijriah membawa semangat baru, rukun, dan peduli sesama. (Pras)

Pos terkait