PENJURU.ID | Probolinggo – Selama enam hari penuh, puluhan warga Kelurahan Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo mengikuti pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo. Pelatihan tersebut menjadi tahapan utama sebelum resmi terbentuknya Kelurahan Tangguh Bencana (Keltana) di wilayah setempat.
Pelatihan berlangsung mulai Senin hingga Sabtu, 29 Juni sampai 4 Juli 2026, di Aula Kelurahan Kebonsari Wetan. Program tersebut bertujuan membentuk masyarakat yang memiliki kemampuan mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan awal apabila sewaktu-waktu terjadi bencana.
Prosesi penutupan pelatihan pada Sabtu (4/7/2026) pagi dihadiri Sekretaris BPBD Kota Probolinggo Dedy Ristantama, Fasilitator BPBD Kota Probolinggo Eko Yudha, Pendamping Fasilitator Amin Hasan, Lurah Kebonsari Wetan Ronny Kurniawan, Babinsa Peltu Suparman, Ketua TP PKK Kelurahan Kebonsari Wetan, beserta seluruh anggota Keltana yang telah menyelesaikan rangkaian pelatihan.
Pendamping Fasilitator BPBD Kota Probolinggo Amin Hasan mengatakan pembentukan Keltana bukan hanya sebatas pembentukan organisasi, melainkan membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi berbagai kondisi kedaruratan.
“Selama pelatihan, peserta menerima materi mulai dari konsep dasar kebencanaan, identifikasi ancaman yang berpotensi terjadi di lingkungan sekitar, hingga langkah-langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana,” ujar Amin Hasan.
Ia menjelaskan setiap materi disampaikan secara bertahap agar mudah dipahami peserta. Selain teori, peserta juga diajak berdiskusi mengenai pengalaman kebencanaan yang pernah terjadi sehingga solusi yang dibahas sesuai dengan kondisi wilayah.
Menurutnya, salah satu materi penting adalah penyusunan rencana penanggulangan bencana di tingkat kelurahan. Peserta dilatih mengenali jalur evakuasi, titik kumpul, pembagian tugas relawan, hingga mekanisme koordinasi ketika terjadi keadaan darurat.
“Kami ingin masyarakat tidak bingung ketika menghadapi bencana. Semua harus memahami siapa berbuat apa sehingga proses penyelamatan bisa berjalan cepat dan terkoordinasi,” katanya.
Amin Hasan menambahkan peserta juga memperoleh materi tentang pengelolaan dapur umum sebagai bagian dari pelayanan kepada masyarakat terdampak bencana.
“Mulai dari persiapan lokasi, pengelolaan logistik, distribusi makanan, hingga menjaga kebersihan dapur umum menjadi materi yang kami berikan. Hal ini penting karena kebutuhan konsumsi merupakan prioritas saat masa tanggap darurat,” jelasnya.
Ia berharap seluruh peserta terus mengembangkan kemampuan yang telah diperoleh serta mampu menjadi penggerak edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.
Fasilitator BPBD Kota Probolinggo Eko Yudha menyampaikan bahwa pelatihan tidak hanya berisi materi di dalam ruangan, tetapi juga praktik lapangan agar peserta memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi kondisi darurat.
“Salah satu praktik yang kami lakukan adalah penanganan kebakaran menggunakan Alat Pemadam Api Ringan atau APAR. Peserta kami ajarkan mulai dari mengenali jenis APAR hingga teknik penggunaannya secara aman dan efektif,” katanya.
Menurut Eko, keterampilan menggunakan APAR merupakan kemampuan dasar yang sangat dibutuhkan masyarakat karena kebakaran sering kali bermula dari peristiwa kecil yang masih bisa dikendalikan.
Selain menggunakan APAR, peserta juga mempraktikkan cara memadamkan api dengan kain basah. Simulasi tersebut diberikan sebagai alternatif penanganan awal apabila peralatan pemadam belum tersedia.
“Teknik sederhana seperti menggunakan kain basah harus dilakukan dengan benar. Karena itu kami memberikan praktik langsung agar peserta memahami langkah yang aman tanpa membahayakan diri sendiri,” ujarnya.
Seluruh simulasi dilakukan dengan pendampingan instruktur serta mengedepankan standar keselamatan sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan dengan baik.
Ia menambahkan kemampuan teknis tersebut diharapkan menjadi bekal awal bagi anggota Keltana dalam memberikan pertolongan pertama sebelum petugas datang ke lokasi kejadian.
“Kami ingin setelah pelatihan ini masyarakat lebih percaya diri menghadapi situasi darurat, tetapi tetap mengutamakan keselamatan diri dan bekerja sesuai prosedur,” tutur Eko.
Lurah Kebonsari Wetan Ronny Kurniawan mengaku bangga karena warganya menunjukkan antusiasme tinggi selama mengikuti seluruh rangkaian pelatihan yang difasilitasi BPBD Kota Probolinggo.
“Atas nama Pemerintah Kelurahan Kebonsari Wetan, kami menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada BPBD Kota Probolinggo beserta seluruh narasumber yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi masyarakat kami,” katanya.
Ia berharap anggota Keltana dapat menjadi pelopor dalam membangun budaya siaga bencana dan terus mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap keselamatan lingkungan.
“Dengan terbentuknya Keltana, kami optimistis Kebonsari Wetan memiliki sumber daya masyarakat yang lebih siap, lebih tanggap, dan mampu bekerja sama ketika menghadapi berbagai potensi bencana,” ujarnya.
Sekretaris BPBD Kota Probolinggo Dedy Ristantama menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan pelatihan sekaligus resmi menjadi bagian dari Kelurahan Tangguh Bencana Kebonsari Wetan.
“Selamat atas terbentuknya Kelurahan Tangguh Bencana Kebonsari Wetan. Semoga keberadaan Keltana menjadi kekuatan baru dalam membangun masyarakat yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana,” ucap Dedy.
Menurutnya, keberadaan Keltana harus terus dijaga melalui koordinasi, latihan berkala, dan sinergi dengan seluruh unsur di tingkat kelurahan agar kemampuan yang dimiliki tetap terpelihara.
“Kami berharap Keltana Kebonsari Wetan dapat menjadi contoh bagi kelurahan lain di Kota Probolinggo. Semakin banyak masyarakat yang memahami mitigasi bencana, maka semakin kecil pula risiko yang ditimbulkan ketika bencana terjadi,” pungkasnya.
(Prasojo)





