PENJURU.ID | Probolinggo – Restorasi Sungai Kalibron di RW 6 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Sabtu (4/7/2026), tidak sekadar menjadi agenda kerja bakti membersihkan sungai. Rumah Zakat ingin menghadirkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap sungai sebagai ruang kehidupan, ruang edukasi, sekaligus bagian penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.
Hal itu disampaikan Fasilitator Rumah Zakat, Eko Yudha, di sela pelaksanaan Aksi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang melibatkan anggota Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kelurahan Mangunharjo bersama relawan dan masyarakat setempat.
Menurut Eko, selama ini sungai lebih sering dipandang sebagai tempat membuang limbah dan sampah rumah tangga. Padahal, apabila dirawat dengan baik, sungai mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, hingga edukatif bagi masyarakat.
“Harapan kami sederhana, masyarakat mulai melihat sungai sebagai aset lingkungan yang harus dijaga bersama. Sungai tidak boleh lagi identik dengan sampah, tetapi harus menjadi ruang belajar tentang pentingnya menjaga alam,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta memulai aksi dengan membersihkan aliran Sungai Kalibron dari berbagai jenis sampah yang menghambat aliran air. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan pengecatan tembok penahan tanah (TPT) untuk memperindah kawasan bantaran sungai.
Eko menilai kegiatan fisik seperti membersihkan sungai hanyalah langkah awal. Tantangan yang lebih besar adalah menumbuhkan kesadaran masyarakat agar memiliki kepedulian menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
“Kalau hanya membersihkan hari ini, mungkin besok sungainya bisa kembali kotor. Karena itu, yang paling penting adalah membangun kesadaran masyarakat agar kebiasaan menjaga sungai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Rumah Zakat melalui Program Pengurangan Risiko Bencana terus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, mitigasi bencana akan lebih efektif apabila dilakukan dari tingkat komunitas melalui aksi nyata yang melibatkan warga secara langsung.
“Risiko bencana tidak selalu disebabkan faktor alam. Banyak bencana terjadi akibat perilaku manusia yang mengabaikan lingkungan. Karena itu, perubahan perilaku menjadi investasi paling penting dalam membangun masyarakat yang tangguh,” ungkapnya.
Eko mengungkapkan, setelah proses restorasi selesai, Rumah Zakat berencana melakukan penebaran ribuan benih ikan di Sungai Kalibron sebagai bagian dari pemulihan ekosistem. Program tersebut diharapkan menjadi indikator bahwa kualitas lingkungan sungai terus membaik.
“Ketika ikan dapat hidup dan berkembang, berarti ekosistem mulai pulih. Kami ingin masyarakat ikut menjaga agar sungai ini tetap menjadi habitat yang sehat bagi berbagai biota air,” jelasnya.
Lebih jauh, ia berharap Sungai Kalibron dapat berkembang menjadi laboratorium alam bagi para pelajar. Keberadaan ribuan ikan nantinya tidak hanya memperkaya ekosistem, tetapi juga menjadi media pembelajaran mengenai konservasi lingkungan, keanekaragaman hayati, serta pentingnya menjaga kualitas air.
“Anak-anak akan lebih mudah memahami pentingnya menjaga lingkungan ketika mereka melihat langsung sungai yang bersih dan kehidupan yang tumbuh di dalamnya. Edukasi seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan hanya melalui teori di dalam kelas,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga hasil restorasi yang telah dilakukan. Menurutnya, keberhasilan program tidak ditentukan oleh banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan oleh konsistensi masyarakat dalam merawat lingkungan.
“Kami berharap Sungai Kalibron menjadi contoh bahwa kolaborasi antara masyarakat, komunitas, dan lembaga sosial mampu menghadirkan perubahan nyata. Jika lingkungan terjaga, maka manfaatnya akan dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang,” tutup Eko.
Melalui aksi restorasi ini, Rumah Zakat tidak hanya menghadirkan kegiatan sosial, tetapi juga menanamkan semangat kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Ke depan, Sungai Kalibron diharapkan tumbuh menjadi kawasan hijau yang bersih, menjadi habitat berbagai biota air, sekaligus pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat dan pelajar di Kota Probolinggo. (Prasojo)





