PENJURU.ID|SEMARANG – Alhamdulillah mengucap syukur kita semua bisa melewati Ramadhan tahun ini dengan lancar dan waktunya kita menyambut hari kemenangan tiba. Kemenangan itu baru kita rasakan, setelah melaksanakan bulan puasa dengan penuh ketulusan dan mampu mengendalikan hawa nafsu dari berbagai ujian yang datang
Momen perayaan Idul Fitri patutlah dijadikan kesempatan guna merengkuh kemenangan bagi seluruh umat Islam di jagat raya ini melaksanakan perayaan Idul Fitri sebagai hari kemenangan, karena telah lulus ujian dengan predikat ”caum laude”.
Makna Idul Fitri secara metamorfosis ibarat suatu kelahiran kembali. Pendeknya, proses pencerahan batin dari segala kungkungan keakuan yang destruktif. Idul Fitri bukanlah pesta anti-klimaks untuk melepaskan nasfu-nafsu setelah sebulan lamanya dikekang dan dikendalikan. Idul Fitri adalah hari wisuda bagi mereka yang telah berhasil mencapai prestasi dalam upaya mengembalikan keseimbangan jiwa dengan memosisikan kekuatan hati nurani yang bening sebagai alat untuk memegang kendali kehidupan.
Di saat momen inilah umat muslim telah kembali kepada kesuciaan yang hakiki. ’Id al-Fitri, secara harfiah berarti kembali pada fitrah, kembali pada keadaan semula sebagaimana bayi yang baru lahir. Tidak heran bila Idul Fitri juga disebut sebagai ”Hari Kemenangan”. Tidak ayal bila umat Islam memanfaatkan betul anugerah dan rahmat ini guna meminta maaf kepada keluarga, tetangga, dan sesama muslim sendiri agar bisa hidup dengan damai dan rukun sampai ajal menjemputnya.
Perayaan Idul Fitri dengan menampilkan gaya dan modis yang baru bukanlah hakikat kemenangan yang sebenarnya, sehingga yang tampak dari perayaan Idul Fitri itu hanya sekdar bungkusnya saja. Sementara, mutu dan relevansi pada aspek-aspek fundamental kemanusiaan seringkali terabaikan. Akibatnya, perayaan Idul Fitri kehilangan makna dan nilai signifikansinya, yang mencerminkan spirit keagamaan, kebangsaan, perwujudan perdamaian, dan perbaikan tatanan kemanusiaan.
Idul Fitri juga tidak hanya bermakna peningkatan iman kepada Sang Pencipta, lebih daripada itu, ia mengandung spirit keagamaan untuk membangun solidaritas kemanusiaan kepada sesama. Peningkatan keimanan juga tidak terbatas pada hubungan kita pada Tuhan, melainkan tumbuhnya kesalehan sosial yang teraktualisasi dalam realitas kehidupan.
Hari Idul Fitri adalah hari istimewa bagi umat Islam, yang berakar dari semangat kepedulian. Kepedulian harus diimplementasikan melalui solidaritas terhadap yang lemah, miskin, dan terbelakang. Biasanya dengan mengeluarkan sebagian rezeki kita melalui jalan zakat yang bisa diberikan sebelum puncak kemenangan itu berlangsung. Bagi yang mampu, semangat solidaritas kepada sesama harus terus dipupuk dan dikembangkan secara berkelanjutan. Itulah sebabnya, kita harus menghindari perayaan Idul Fitri dengan cara ucapan yang bersifat formalistik. Tidak heran, bila ekspresinya terkadang melenceng dari semangat dasar tersebut, bahkan tidak jarang jadi barang dagangan.
Ucapan ”Ucapan Selamat Idul Fitri”, seringkali menjadi komersial dan bisnis. Dengan begitu, kepedulian kepada yang lemah tergantikan oleh naluri pragmatisme hedonis dan kapitalis. Dengan demikian, kepedulian harus ditunjukkan dengan semangat kebersamaan dan tepo seliro (tenggang rasa) terhadap penderitaan orang lain dan berupa merefleksikan diri atas berbagai musibah yang menimpa bangsa kita akhir-akhir ini.
Semoga kita mampu meresapi dan menjalankan makna Idul Fitri yang sesungguhnya tidak sekedar merayakan uforianya semata. (Maming Hermawan)





