PENJURU.ID | Probolinggo – Delapan hari mengikuti pembekalan intensif akhirnya tuntas dijalani puluhan Relawan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan kini menjadi modal awal untuk membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
Penutupan Pembentukan Destana berlangsung pada Rabu (22/07/2026) pagi dan dipimpin Sekretaris BPBD Kota Probolinggo Dedy Ristantama yang mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo Boedi Harjanto.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Fasilitator Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Probolinggo Eko Yudha, Lurah Jrebeng Kulon Ulfa Purnamaratih, Sekretaris Lurah, serta puluhan relawan yang selama sepekan mengikuti seluruh rangkaian pembekalan.
Program tersebut tidak hanya menghasilkan relawan yang memahami dasar-dasar kebencanaan, tetapi juga membentuk Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) sebagai wadah koordinasi masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana di wilayahnya.
Dalam sambutannya, Dedy Ristantama menilai keberhasilan Destana baru akan terlihat apabila seluruh peserta mampu menerapkan ilmu yang diperoleh kepada masyarakat.
Ilmu kebencanaan yang telah diterima selama pelatihan diharapkan menjadi bekal untuk membangun lingkungan yang lebih siap, lebih cepat merespons, dan lebih tangguh menghadapi berbagai potensi bencana.
“Jangan berhenti setelah pelatihan ini selesai. Jadikan diri panjenengan semua sebagai penyambung informasi dan edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing. Masyarakat membutuhkan relawan yang siap hadir sebelum, saat, maupun setelah bencana terjadi,” ujar Dedy.
BPBD Kota Probolinggo, lanjutnya, akan terus membuka ruang koordinasi dengan masyarakat apabila sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat.
“Kalau terjadi pohon tumbang, banjir, atau kondisi kedaruratan lainnya, segera hubungi BPBD Kota Probolinggo. Kami siap bergerak bersama masyarakat dalam penanganan bencana,” katanya.
Menghadapi kondisi cuaca yang didominasi angin kencang, masyarakat juga diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
“Saya juga berpesan agar masyarakat tidak membakar sampah. Selain mencemari lingkungan, aktivitas itu sangat berisiko ketika angin bertiup kencang karena api dapat dengan mudah menyebar,” tegasnya.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, penutupan pembentukan Destana kemudian diumumkan secara resmi.
“Dengan mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Pembentukan Desa/Kelurahan Tangguh Bencana Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo secara resmi saya nyatakan ditutup,” ucap Dedy disambut tepuk tangan para peserta.
Lurah Jrebeng Kulon Ulfa Purnamaratih menyebut keberhasilan program tersebut menjadi tonggak baru dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat di tingkat kelurahan.
Seluruh proses pembentukan dan pembekalan yang berlangsung sejak Rabu (15/07/2026) hingga Rabu (22/07/2026) dinilai memberikan pengalaman berharga bagi para relawan.
“Alhamdulillah seluruh rangkaian kegiatan dapat kami selesaikan dengan baik. Ini merupakan langkah awal untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana,” ungkap Ulfa.
Menurutnya, keberhasilan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kota Probolinggo, dan para fasilitator yang mendampingi peserta selama pelatihan.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD Kota Probolinggo, dan seluruh fasilitator yang telah membimbing relawan kami dengan penuh dedikasi. Semoga ilmu yang diberikan menjadi bekal yang bermanfaat,” tuturnya.
Ke depan, Pemerintah Kelurahan Jrebeng Kulon berharap keberadaan relawan tidak hanya aktif saat terjadi bencana, tetapi juga menjadi pelopor edukasi kebencanaan di lingkungan masing-masing.
“Kami ingin Relawan Destana menjadi guru kebencanaan bagi masyarakat. Edukasi yang dilakukan secara terus-menerus akan membuat warga lebih siap dan mampu mengurangi risiko ketika bencana datang,” imbuh Ulfa.
Sementara itu, Ketua FPRB Kelurahan Jrebeng Kulon terpilih Haryono menegaskan pihaknya akan langsung bekerja menyusun langkah-langkah mitigasi di wilayah yang selama ini rawan banjir.
Tiga titik rawan banjir telah dipetakan sebagai prioritas penanganan, dengan fokus utama pada kawasan yang genangannya paling lama surut hingga mencapai dua hari.
“Kami siap mengemban amanah ini. Bersama relawan, kami akan menyusun langkah-langkah mitigasi agar dampak banjir dapat diminimalkan, terutama di lokasi yang selama ini menjadi titik terparah,” ujar Haryono.
Sebagai langkah awal, FPRB akan menggerakkan masyarakat untuk melaksanakan kerja bakti membersihkan saluran drainase melalui Program “Gotku Resik” yang akan dikoordinasikan bersama BPBD Kota Probolinggo.
“Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan. Karena itu kami akan mengajak warga bergotong royong membersihkan gorong-gorong sebelum musim penghujan tiba agar aliran air tetap lancar dan risiko banjir bisa ditekan,” pungkasnya.
Dengan berakhirnya pembentukan Destana tersebut, Kelurahan Jrebeng Kulon kini tidak hanya memiliki relawan terlatih, tetapi juga sebuah forum yang siap memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang tangguh terhadap bencana.
(Prasojo)





