Rani Sosok Perempuan Paraplegia Perjuangkan Penyandang Disabilitas agar Berdaya, Produktif dan Mandiri

PENJURU.ID I Kabupaten Bekasi – Keterbatasan fisik bukanlah suatu penghalang untuk bangkit dan maju serta sukses seperti orang pada umumnya. Inilah sosok perempuan yang berkursi roda (paraplegia) yang mengalami kelumpuhan dari bagian bawah tubuh, mulai dari pinggul hingga ke bawah,yang menyebabkan hilangnya fungsi gerak motorik. Penyebab yang di alami perempuan bernama lengkap Rani Mei Lestari, akibat kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu di tol Cipularang. Namun Ia tidak patah semangat, proses panjang akhirnya membuahkan hasil.

Perlahan, Rani perempuan yang lahir di Bandung 46 tahun yang lalu mampu memperjuangkan hak-hak para penyandang disabilitas agar berdaya dan produkif. selain Ia berjuang untuk keluarga. Setiap kegiatannya Rani selalu ditemani oleh Faizal, pria setia yang selalu menemaninya dalam setiap aktivitas kegiatannya, yang menikahinya pada tahun 2015.

Bacaan Lainnya

Di tahun 2022, Rani menjadi ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kabupaten Bekasi, dan mendirikan Yayasan Disabilitas Produktif dan Mandiri (Disproman) Indonesia.

“Banyak penyandang disabilitas yang mulai bergabung, saya membuka ruang untuk para penyandang disabilitas khususnya perempuan untuk bergabung  bersama saya dan teman-teman disabilitas lainnya,” ucap Rani, pada penjuru.id, Sabtu (27/12/2025).

Ia menjelaskan, banyak sudah jejaring, baik dari pihak swasta maupun pemerintahan, yang mana nantinya bisa bekerjasama, Saya juga sering diundang dalam acara skala nasional dan internasional sebagai pemateri atau narasumber. Bahkan saya pernah jadi delegasi Indonesia mewakili teman-teman disabilitas. Ia juga pernah beberapa kali menjuarai kompetisi bisnis.

“Saya melakukan hal ini bukan untuk saya sendiri, melainkan mewakilkan diri saya sendiri, bahwa saya mewakili teman-teman disabilitas, yang mana mereka seperti menitipkan harapan kepada saya. Dan saya akan melakukan apapun yang saya bisa, untuk mengajak mereka, untuk mengangkat potensi teman-teman disabilitas untuk menjadi berdaya, produktif dan mandiri,” terangnya.

Menurut Rani, disabilitas itu tidak harus menjadi objek sumbangan atau dikasihani. Kami tidak  menunggu untuk dibantu saja, tetapi kami itu harus mandiri, harus punya skill atau keterampilan, kemampuan,  potensi untuk menjadi seseorang yang produktif.

“Di mana kita produktif, pasti mandiri. Di mana mandiri kita pasti akan menuju sejahtera. Dan di mana kita sosoknya menjadi seseorang yang produktif dan mandiri punya potensi, semua kalangan atau semua orang dilingkungan kita akan memberikan respect dan penghormatan, bukan dengan belas kasihan,” ujarnya

Ia juga selalu menekankan kepada teman-teman disabilitas, tunjukkan kita bisa apa, potensi kita apa, sehingga orang itu memandang kita itu adalah orang yang mampu melakukan sesuatu dalam keterbatasan. Dan alhamdulillah cukup berhasil membuat teman-teman disabilitas yang ada di forum, lembaga, komunitas, organisasi dan yayasan saya. Mereka tervibrasi, tertular dengan apa yang saya sampaikan. Sehingga Ibu-ibu anak disabilitas yang kurang percaya diri, yang masih mengurung diri sekarang banyak sekali yang berubah. Mereka tampil di depan publik dengan percaya diri dengan potensi dan skill masing-masing.

“Saya sangat senang teman-teman menjadi lebih baik, menjadi lebih percaya diri, lebih mandiri dan lebih sejahtera. Karena kami juga memiliki banyak program pemberdayaan ekonomi, untuk membantu pengembangan ekonomi mereka, baik itu UMKM atau mengangkat bakat seni. Kami juga ada kegiatan konser musik bekerjasama sama dengan pihak Jepang, sehingga ada kesempatan untuk teman-teman disabilitas ikut tampil tunjukkan kebolehannya,” tutupnya.

Sebelum alami kecelakaan dan mengalami kelumpuhan dan harus menggunakan kursi roda, Rani adalah sosok perempuan karier yang sukses, dengan jadwal kesibukan yang padat dengan segala yang Ia miliki. Sampai akhirnya semua aset yang dimilikinya habis terjual untuk membiayai pengobatannya. Namun Ia tidak pernah putus asa. Sampai akhirnya Ia mampu bangkit dari keterpurukan, dan sampai sekarang tetap berproses.

Pos terkait