PENJURU.ID | Probolinggo – Serangan hama tikus mengintai lahan jagung di Desa Sumberkare. Selasa 16 Juni 2026, Polsek Wonomerto turun langsung ke sawah untuk mendampingi petani Kelompok Tani Sumber Makmur II.
Sasaran monitoring lahan milik Sutar seluas 10.000 meter persegi. Jagung di sana ditarget panen 7 September 2026.
Unit Binmas yang turun Aipda Adin Triyantoro. Ia tidak hanya mengecek tanaman, tapi juga berdialog langsung dengan petani.
Dari hasil pengecekan, potensi gangguan tikus mulai terlihat. Lubang-lubang kecil dan jejak gigitan di batang jagung muda jadi tanda awal.
Kapolsek Wonomerto AKP Bagus Purnama menegaskan, pendampingan petani bagian dari tugas Polri. Keamanan bukan hanya soal kriminal, tapi juga soal pangan.
“Polri hadir untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat, termasuk para petani. Kami ingin memastikan komunikasi antara petani, Bhabinkamtibmas dan penyuluh pertanian berjalan baik sehingga setiap kendala di lapangan dapat segera dicarikan solusi bersama,” kata AKP Bagus.
Ia menyebut ketahanan pangan nasional tidak bisa jalan tanpa petani kuat. Karena itu Bhabinkamtibmas didorong aktif ke demplot warga.
Dalam dialog, petani mengeluhkan serangan tikus yang datang malam hari. Satu malam bisa menghabisi puluhan batang jagung muda.
Menanggapi itu, AKP Bagus meminta warga tidak menanganinya sendiri. Koordinasi dengan Bhabinkamtibmas jadi jalur pertama.
“Jika ada kendala seperti serangan hama tikus maupun kebutuhan kegiatan gotong royong membersihkan rumput di area pertanian, silakan berkoordinasi dengan Bhabinkamtibmas. Nantinya kami akan menjembatani komunikasi dengan pihak terkait agar penanganan bisa dilakukan secara bersama-sama,” ujarnya.
Jalur koordinasi itu penting agar bantuan dari dinas pertanian bisa cepat masuk. Termasuk opsi pemasangan perangkap atau umpan ramah lingkungan.
Selain hama, pesan kamtibmas juga disampaikan. Petani diminta segera lapor jika ada gangguan keamanan di area persawahan.
Aipda Adin mencatat titik-titik rawan serangan tikus. Data itu nanti diteruskan ke penyuluh agar penanganan lebih tepat sasaran.
Petani Sumber Makmur II menyambut baik kunjungan ini. Mereka merasa ada pihak yang mendengarkan keluhan langsung di lapangan.
Warga sekitar yang melihat ikut bertanya soal cara tanam dan jarak lubang. Diskusi kecil itu jadi ajang tukar ilmu antarpeladang jagung.
Panen 7 September 2026 masih tiga bulan lagi. Tiga bulan itu masa kritis, karena tikus paling agresif saat bulir mulai mengisi.
Polsek Wonomerto berjanji akan rutin cek ke lokasi. Sinergi polisi, petani, dan penyuluh diharapkan menjaga hasil panen tetap aman.
Kegiatan ditutup dalam suasana kondusif. Harapannya satu: jagung Sumberkare tumbuh sampai panen tanpa gangguan berarti. (Pras)





