PENJURU.ID | MIMIKA – Di balik megahnya perputaran roda ekonomi dan eksplorasi emas di tanah Papua, ada harga mahal yang harus dibayar oleh para pekerja di lapangan: keselamatan jiwa dan trauma psikologis yang berkepanjangan. Penembakan konvoi bus operasional PT Freeport Indonesia oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di jalur Mile 50–60 Mimika sekali lagi mempertegas betapa tipisnya batas antara mencari nafkah dan menjemput bahaya.
Meski bodi antipeluru berhasil mencegah jatuhnya korban jiwa, insiden ini menyisakan luka tak kasatmata yang membekas mendalam bagi para pekerja.
Bodi Antipeluru Selamatkan Fisik, Bukan Mental
Penggunaan bus berbodi baja dan kaca tebal memang terbukti efektif menjadi ‘perisai’ dari dentuman peluru. Namun, berada di dalam kabin tertutup saat rentetan tembakan menghantam dinding kendaraan adalah pengalaman mencekam yang memicu kecemasan hebat (acute stress response). Dentuman peluru yang menghantam kaca bukan sekadar kerusakan material, melainkan teror nyata yang menghantui pikiran setiap kali mereka harus melintasi rute yang sama.
Ancaman Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) di Tempat Kerja
Bagi para buruh dan teknisi tambang, ancaman serangan mendadak menciptakan kondisi hypervigilance—kondisi di mana tubuh dan pikiran terus-menerus berada dalam mode siaga bahaya. Dampak jangka panjangnya jelas: penurunan fokus kerja, gangguan tidur, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Di lingkungan kerja industri berat berisiko tinggi seperti pertambangan, hilangnya konsentrasi akibat trauma psikologis justru bisa memicu kecelakaan kerja fatal lainnya.
Urgensi Pendampingan Trauma dan Evaluasi Protokol Keselamatan
Kondisi ini menuntut penanganan yang tidak lagi berfokus pada perbaikan fisik armada semata. Manajemen perusahaan dan pihak terkait didesak untuk menghadirkan langkah konkrit:
- Layanan Trauma Healing Masif: Menyediakan tim psikolog industri secara berkelanjutan di area barak dan site untuk mendampingi pekerja yang terpapar peristiwa traumatis.
- Jaminan Keselamatan Holistik: Memastikan rotasi kerja yang humanis bagi pekerja yang mengalami guncangan mental, serta tidak menuntut produktivitas penuh saat situasi keamanan di jalur transportasi belum sepenuhnya steril.
Bagi ribuan pekerja di Mimika, setiap perjalanan menuju area tambang bukan lagi sekadar berangkat kerja, melainkan perjudian bernyawa yang membutuhkan perlindungan nyata—baik untuk fisik maupun mental mereka.


