Makna Pucuk Rebung pada Simbol Daerah Aceh Tamiang

PENJURU.ID | Artikel : Aceh Tamiang – Aceh merupakan sebuah provinsi yang terletak di bagian paling barat Pulau Sumatera di Negara Indonesia. Aceh memiliki begitu banyak tradisi dan warisan nenek moyang yang memiliki ciri khas budaya itu tersendiri. Salah satu ciri khas dari wilayah Aceh adalah makna lambang pucuk rebung yang berasal dari wilayah Aceh Tamiang.

Asal nama Tamiang awalnya hadir dari sebuah legenda “Te-Miyang” atau “Da-Miyang” yang artinya tidak kena gatal atau kebal gatal dari miang bambu. Cerita ini berhubungan dengan cerita tentang sejarah Raja Tamiang. Raja tersebut bernama Pucook Sulooh. Ketika raja tersebut masih bayi, Raja Pucook Sulooh ditemukan dalam rumpun bambu betong oleh seorang raja yang memiliki julukan “Tamiang Pehok”.

Ketika raja tersebut telah dewasa, Raja Pucook Sulooh dinobatkan sebagai Raja Tamiang dengan gelar “Pucook Sulooh Raja Te-Miyang”, yang berarti seorang raja yang ditemukan di rumpun rebong, tetapi tidak bisa merasakan rasa gatal.

Awalnya, daerah Tamiang adalah suatu kerajaan yang pernah mencapai puncak kejayaan dibawah pimpinan seorang Raja yang bernama Muda Sedia. Raja Muda Sedia memerintah kerajaan selama tahun 1330 hingga tahun 1366 M. Pada masa kerajaan ini, wilayah Tamiang dibatasi oleh Sungai Raya atau Selat Malaka di bagian Utara, Besitang di bagian Selatan, Selat Malaka di bagianTimur, dan Gunung Segama ( gunung Bendahara / Wilhelmina Gebergte ) di bagian Barat.

Lambang Daerah Aceh Tamiang

Kabupaten Aceh Tamiang memiliki lambang daerah yang berupa pucuk rebung, bingkai segi lima, tapak sireh, menara minyak, buku, bintang, kapas dan padi, dan dua riak air laut dan tujuh anak tangga menara minyak.

Bingkai segi lima yang ada pada lambang Kabupaten Aceh tamiang memberikan makna kemuliaan dalam kesejahteraan dan kemakmuran. Hal ini karena daerah Aceh Tamiang yang dalam kehidupan bernegara berada dibawah dasar falsafah Pancasila sekaligus kehidupan beragama dengan tuntunan lima rukun islam.

Tepak sireh melambangkan adat yang dimiliki oleh tiga suku perkauman di Tamiang. Suku tersebut yaitu Suku Perkauman Aceh, Suku Perkauman Tamiang, dan Suku Perkauman Gayo.

Kapas dan padi memberikan lambang kehidupan pertanian yang mampu membawa kepada masyarakat pada kemakmuran dalam usaha jika dilakukan dengan gigih.

Menara minyak melambangkan sumber daya hasil bumi berupa minyak dan gas bumi yang dikelola oleh Perusahaan Tambang Minyak Nasional (Pertamina).

Bintang memberikan lambang dari ketuhanan, dimana masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang dalam kehidupannya akan selalu ta’at dan tunduk dari tuntunan syari’at Islam dan selalu berdampingan dengan adat istiadat Aceh Tamiang.

Dua riak air laut dan tujuh anak tangga menara minyak merupakan lambang dari hari lahirnya Kabupaten Aceh Tamiang, yaitu lahir tanggal 2 Juli 2002.

Pucuk rebung memberikan lambang dan sejarah masyarakat Aceh Tamiang yang memiliki kekuatan legendanya sekaligus telah mengikat dalam kehidupan masyarakat sebagai awal dari asal kata Tamiang. Pucuk rebung dapat memberi makna kepada sebuah pertumbuhan yang kokoh dalam persatuan. Hidup masyarakat Tamiang yang berumpun dapat dicerminkan pada kehidupan bambu, dimana yang muda menjadi benteng pelindung mengelilingi yang lebih tua berada ditengah sehingga disebut dengan muda sedia.

Pucuk rebung juga sering dijadikan motif pakaian oleh masyarakat Aceh tamiang. Pucuk rebung juga merupakan motif yang biasa digunakan di kalangan rumpun Melayu seperti Aceh, Minangkabau, Riau, Palembang, hingga Lampung. Pola dari pucuk rebung biasanya di buat dengan berupa segitiga sama kaki dengan pola yang berderet.

Biasanya, masyarakat Aceh tamiang memberikan motif pucuk rebung pada kain songket dengan maksud agar orang yang memakai kain songket tersebut akan selalu mendapatkan keberuntungan dan harapan baik dalam setiap langkah hidupnya. Kain songket merupakan kain tenun tradisional khas Melayu. Seperti layaknya kain tenun, kain songket memiliki ciri khas yang sesuai dengan daerah asal kain songket tersebut. Walaupun kain songket merupakan jenis kain tradisional, namun kain songket juga layak di lestarikan sebagai warisan budaya daerah kita.

Berdasarkan pemahaman sejarah, kain songket yang berasal dari daerah Aceh tamiang memiliki kesamaan dengan kain songket yang berasal dari malaka yang juga memiliki motif rebung. Hal ini berkaitan dengan sejarah mengenai salah seorang raja yang berasal dari daerah Seruway, yaitu Raja Zainal Abidin. Pakaian kebesaran Raja Zainal Abidin hingga saat ini masih dapat dilihat di Istana Seruway. Pakaian tersebut berasal dari Malaka dengan gaya jahitan kerahnya berpola Cina. Pola pucuk rebung yang tertenun dalam pakaian masyarakat Aceh tamiang juga menunjukkan ciri khas kain songket dari orang orang Melayu. Namun hal yang membedakannya, motif kain tenun yang berasal dari daerah Aceh Tamiang memiliki ciri khas tersendiri dengan sisi yang agak jarang dan kaku di bandingkan dengan motif kain songket di daerah lain. Kain songket yang berasal dari daerah Aceh Tamiang ini memiliki motif yang sangat indah nan unik dengan motif pucuk rebung nya.

Motif pucuk rebung ini memberikan estetika yang cantik dan bernilai seni tinggi.
Pucuk rebung merupakan suatu pucuk tunas dari bambu dimana rebung merupakan fase awal dari kehidupan dalam pertumbuhan pohon bambu. Bambu yang telah besar dan dewasa biasa dinamakan dengan istilah betung (batuang). Betung memiliki sifat yang lentur sehingga dapat dijadikan kerajinan tangan. Bambu yang telah tua dinamakan ruyung, terkadang dapat disebut dengan istilah ruyuang. Ruyung biasanya banyak dipakai untuk sesuatu yang kuat atau penyangga seperti tiang, lantai, atau pun dinding rumah. Fase-fase dari kehidupan bambu ini dapat ditarik maknanya pada kehidupan kita sebagai manusia, yaitu agar seseorang bisa berguna seumur hidupnya.
Pucuk rebung merupakan sebuah lambang yang tak dapat lepas dari masyarakat wilayah Aceh Tamiang. Selain sebagai lambang daerah, pucuk rebung memiliki filosofi yang cukup mendalam bagi masyarakat sekitar. Pucuk rebung ini memiliki makna agar orang orang dapat selalu meraih keberuntungan dalam harapan dan cita cita yang mereka miliki. Selain itu, pucuk rebung menggambarkan persatuan dan pertumbuhan yang kokoh di antara sesama masyarakat. Bagi masyarakat daerah Aceh Tamiang, kehidupan dapat di ibaratkan oleh kehidupan bambu. Dimana yang muda akan saling bekerjasama untuk melindungi dan menyayangi orang orang yang lebih tua dan menjadi benteng bagi mereka.

Pos terkait