Kalah dan Berkah Pada Pilkada Kabupaten Pangandaran

Nurzimal Putra Daerah Pangandaran

PENJURU.ID | OPINI – Banyak pepatah yang menyatakan bahwa kalau ingin melihat waktu seorang pemimpin simaklah perilakunya bukan sewaktu dia menang namun sewaktu dia kalah. Dalam ajaran agama keimanan seseorang juga terlihat manakala mendapatkan cobaan dan ujian bukan hanya sekedar dalam waktu mendapatkan nikmat dan kesenangan.

Di Indonesia yang demokrasinya belum mapan benar, karakter dan cara cara pemimpin dalam menyikapi kemenangan atau kekalahan adalah penting. Bayangkan seorang kandidat yang tentu memiliki massa pendukung yang tidak sedikit , kemudian ketika kalah menunjukan ketidakpuasan dan kemarahan yang tidak terkendali, pasti itu akan diikuti dengan aksi-aksi yang demonstratif dari pendukungnya.

Bacaan Lainnya

Setelah itu akan menjalani kampanye yang menguras dana, tenaga dan emosi semua kandidat pemimpin Kabupaten Pangandaran pasti akan terpukul menerima kekalahan. Ada dua kategori dalam keputusan tersebut yaitu ada pemimpin yang begitu sakit hati tidak bisa menerima kenyataan mencari cari kambing hitam dan bahkan menyatakan rakyat yang dianggap salah memilih. Dan ada juga pemimpin menerima kekalahan dengan ikhlas , sportif dan mengambil pelajaran dari kekalahannya untuk masa depan.

Lima tahun berjalan dengan lancar Kabupaten Pangandaran kini sebagai tempat wisata yang dinobatkan begitu besar di daerah Jawa Barat yang memberikan aspek peningkatan sumber ekonomi bagi daerahnya. Maka dari itu mulai tunjukanlah kematangan kepribadian dan kearifan lokal kepada para kandidat bakal calon pemimpin Kabupaten Pangandaran dan bersiaplah baik untuk menang maupun untuk kalah, karena menang atau kalah sebuah bentuk keniscayaan dalam kompetisi. Bagi seorang politisi menang kalah merupakan bagian dari pendidikan dan pendewasaan politik.

Untuk menuju lima tahun kedepannya lagi dan seterusnya siapapun itu pemimpinnya untuk menjadi pemimpin Kabupaten Pangandaran ketika mengalami dalam krisis pemimpin itu harus berada digarda terdepan dan jangan mendewakan kekuasaan yang ada di daerah Kabupaten Pangandaran.

Bukan hanya berpikir lagi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang bahwasannya lebih baik diperbudak oleh rakyat dibandingkan diperbudak oleh kaum kapitalis ataupun partai yang mengusungnya, karena pada dasarnya ketika pemimpin itu terpilih harus teringat kepada rakyat yang telah memilihnya jadi sebuah kewajaran ketika pemimpin yang terpilih diperbudak oleh rakyat bukan diperbudak oleh kaum kapitalis ataupun partai yang mengusungnya. Karena Sebuah aspek kepemimpinan yaitu melihat situasi, kondisi, dan motivasi rakyatnya bukan hanya sekedar pembicaraan semata yang dilakukan pada waktu kampanye.

 

 

(BFN)

Pos terkait