Temanggung||Penjuru.Id – Setelah selama empat dasa warsa tidak bertemu, rasa rindu sendau gurau selama kuliah dulu selalu berkecamuk di angan-angan, ingin segera bertatap muka, gimana wajah-wajahnya di masa sekarang. Tentunya sudah banyak perubahan di raut muka dalam masuk usia enam puluhan tahun.
Pada hari Sabtu, 19 September 2026, kesempatan yang telah dinantikan menjadi kenyataan, harapan untuk bertatap muka terwujud, dalam perasaan di hati, ini siapa? Mungkin nama masih teringat, tapi wajah pasti pada lupa. Apalagi raut yang dulu dikenal dalam kondisi usia muda, wajah belum berkerut, rambut belum beruban, tubuh masih gagah perkasa.
Meskipun sudah berkomunikasi lewat WA group, tentu beda dengan kenyataan fisik masing-masing orangnya.
Menurut Nafiah (59 th), orang yang dituakan dalam group, acara temu kangen ini dipersiapkan dalam waktu tiga bulan, melalui perdebatan yang panjang antara anggota group WA.
“Ide untuk acara temu kangen ini baru muncul setelah pak Nanang gabung dengan group WA, dan banyak anggota yang sepakat untuk mengadakan acara tersebut,” ujar Nafiah.
Wanita yang berprofesi sebagai guru di SMKN di Jogyakarta, terus menghubungi beberapa teman untuk diskusi demi terwujudnya acara tersebut.
“Karena banyak teman-teman mendukung, maka saya sampaikan di group WA untuk penentuan waktu dan tempat acara temu kangen,” sambung Nafiah.
Menurut Nuryono (60 th), bak gayung bersambut, banyak anggota mengusulkan waktu dan tempat acara, termasuk teman-teman yang ada di luar Jogyakarta.
“Dari perdebatan yang panjang, akhirnya mengerucut pada satu tempat, Lokasi di tengah-tengah pulau Jawa, yaitu Temanggung,” kata Nuryono (Sabtu,19:09:26).
“Kebetulan ada teman kita yang berdomisili di Temanggung, yaitu pak Aris dan bu Parwati, pasangan suami istri ini keduanya teman seangkatan,” sambung Nuryono.
Singkat cerita, berkumpulah sekitar 14 orang yang berangkat dari rumah Bambang Haryono, Jln Patangpuluhan Wirobrajan Jogyakarta, dengan mengendarai Elf Long menuju Temanggung, untuk bergabung teman lain yang sudah datang di Temanggung. Perjalanan Jogya Temanggung memakan waktu 3 jam, sampailah di rumah (Aris) salah satu alumni Akt 86 IKIP Jogya.
Apa yang terjadi? Mereka saling tatap muka dengan wajah melongo seakan tidak saling kenal, ini siapa? Saling pelukan dan saling menebak nama dalam hatinya masing-masing.
“Kamu Nanang ya, yang dulu kurus, hitam, gondrong?” celetuk Aswin disambut gelak tawa teman-teman lain.
Akhirnya pecahlah cengkrama diantara mereka, dengan saling menanyakan keadaan dan keluarga masing-masing, ada yang cerita anak cucu mereka. Melontarkan candaan yang dulu sering dikatakan waktu kuliah menambah gayengnya pertemuan itu.
Agus Ariyanto, salah satu anggota dengan pakaian bak ustadz dari Mesir, paling banyak mengalami perubahan penampilan.
“Inilah perjalanan hidup saya, pilihan saya untuk berpenampilan seperti ini merupakan pilihan yang saya jalani. Menurut saya ini sesuai keyakinan saya dalam kehidupan yang saya alami dengan istri saya,” cetus Agus sambil melirik istrinya di samping.
Setelah saling ngobrol beberapa waktu, perjalanan dilanjutkan ke Posong, sebuah obyek wisata di dataran tinggi Temanggung, di perbatasan gunung Sumbing dan gunung Sindoro.
Dengan mengendari Elf dengan penumpang 21 orang, perlahan melaju mengarah ke Posong, dengan waktu tempuh 40 menit. Kendaraan sampai pada arena parker roda 4, rombongan harus berganti dengan ojeg roda 2 dengan melewati jalanan berbatu terjal.
Pertama naik ojek menuju obyek, getaran terjalnya jalan berbatu terasa di badan seperti tergoncang gempa dengan skala 8 SR ditunjang motor per shok yang mati menambah getaran sampai ke kepala, hamper selama 20 menit perjalanan sampai di obyek Wisata Posong. Pandangan terbentang indah di ketinggihan hampir 1000 mpl didukung udara yang sejuk mengobati goncangan badan akibat ojek motor.
Kebetulan sampai obyek pas saatnya makan siang bersama, dengan menu yang menggoda, teman-teman menyantap dengan rasa nikmat, berkumpul dengan teman sejawat di tempat dataran tinggi nan sejuk, menambah nikmatnya makanan yang disantap.
“Capek yang saya rasakan sembuh tatkala makan bersama dengan teman-teman kuliah, serasa kembali ke 40 tahun yang lalu, rasa bahagia bercampu aduk setelah sekian lama ga bertemu,” celetuk Aris Barjun seorang pensiunan BRI.
Beda lagi dengan Ari Sujoko, pria asli Jogya ini, yang menganggap pertemuan ini menambah umur 1 bulan.
“Dengan bahagia bercanda dengan teman-teman seperti ini usia kita tambah 1 bulan,” candanya dengan tertawa yang khas.
Senada dengan Ari, Trisiswi Nugraheni , menyampaikan isi hatinya yang merasa seneng meskipun jauh dari suami.
“Jujur saya ya, berkumpul dengan teman ini membuat aku suka bisa lupa sejenak dengan yang di rumah,”canda ibu yang biasa dipanggil Nining.
Sementara itu, Aris Budiyatomo dan Parwati, selaku tuan rumah menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan teman-teman di rumahnya Temanggung.
“Saya ucapkan terima kasih telah berkenan mengunjungi rumah kami, dan mohon maaf bila dalam penyambutan ada yang kurang, saya bahagia karena bisa berjumpa dengan teman semua,”pungkas Aris dengan nada bergertar sambil meneteskan air mata terharu.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi beberapa obyek wisata, seperti Embung Kledung, Jembatan Kledung, serta mampir ke toko milik Ani Arijani, salah satu alumni Akt 86 yang kebetulan juga domisili di Temanggung.
Tak terasa hari sudah menjelang gelap, rombongan kembali untuk mengantar Pak Ahmad, mas Mafudin, mas Agus dan Keluarga pak Aris menuju rumah pak Aris, selanjutnya rombongan lain Kembali ke arah Jogyakarta.
Dengan terobatinya rasa rindu pada teman dari acara tersebut, membuat rasa capek jadi rasa senang, dengan harapan, entah kapan nanti bisa buat acara lagi untuk reuni yang lebih besar lagi.
Wartawan : Nanang Haryana






