PENJURU.ID | SUKOHARJO — Keyakinan tanpa kedaulatan, kebenaran tanpa kebaikan, perjuangan tanpa tujuan, kesuksesan tanpa kerja keras, kekayaan tanpa sedekah, popularitas tanpa integritas, piagam tanpa dedikasi, gelar tanpa proses, ceramah tanpa ilmu memadai.
Hukum tanpa keadilan, kekuasaan tanpa tanggung jawab, aturan tanpa perikemanusiaan, kedisiplinan tanpa ketegasan, kepemimpinan tanpa teladan, ketokohan tanpa peran, kebangsaan tanpa kiblat, kebudayaan tanpa jati diri, nasionalisme tanpa karakter.
Perang tanpa setrategi, keberanian tanpa akal sehat, politik tanpa nurani, ilmu tanpa guru, retorika tanpa realita, tulisan tanpa etika, pengetahuan tanpa pemahaman, penjelasan tanpa dasar, pemberitaan tanpa fakta, menuduh tanpa bukti, menyebarkan hoaks tanpa merasa berdosa, penyesalan tanpa perubahan berarti.
Persaudaraan tanpa pengorbanan, persahabatan tanpa saling percaya, teman karib namun menusuk dari belakang, beragama namun menuhankan kefanatikan, menggaungkan persatuan namun menolak keragaman, yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan, yang mulia dicacimaki, yang hina dipuja-puja, pembodohan dan adu domba merajalela.
Trah Jawa mulai kehilangan kepribadiannya, DNA Nusantara mulai tidak perduli pada keagungan peradaban warisan Leluhurnya, mengaku ber-Pancasila disisi lain gagal memanusiakan manusia. Yang paling mengenaskan: “Menyerahkan segala urusan kepada yang bukan ahlinya.”
Ini musibah besar sekaligus malapetaka, hati-hati. Kudu tansah eling lan waspada!!!
Penulis: Sri Narendra Kalaseba





