PENJURU.ID | DENPASAR – Kegiatan Penutupan Ashram Hare Krishna Sri Sri Jagadnnatha Gourangga yang berlokasi di Jalan Tukad Balian Denpasar dilakukan oleh beberapa elemen masyarakat ormas keagamaan Hindu Bali untuk menyikapi situasi penganut Sampradaya Non Dresta Bali yang dilarang di Bali.
Bandesa Desa Adat Sidikarya dan Desa Sidikarya belum mengambil sikap persuasif untuk menjaga situasi dan kondisi tetap kondusif terkait hal tersebut.
“Kami hari ini bersinergi dengan beberapa elemen organisasi massa Hindu Bali yang sama sama berjuang untuk memperjuangkan mengeluarkan sampradaya non Hindu Bali sebagai bentuk dukungan terhadap Majelis Dewan Adat Bali (MDA) dalam hal SKB ,” kata Ketua Umum Sandi Murti Idonesia I Gusti Ngurah Nyoman Juniarta saat di konfirmasi Jumat (7/5) di Jl.Tukad Balian Denpasar.
“Kami tetap berkordinasi bersinergi berada di belakang MDA dan PHDI Bali yang sedang di somasi oleh Majelis Ketahanan Umat Krama Nusantara,” jelas Ngurah Juniarta.
“Kami menunggu reaksi pemilik ashram dan dan Bandesa Adat Sidikarya, semoga besok sudah ada langkah tegas dari petinggi Adat setempat”, tegasnya.
Ashram Sri Sri Jagadnnatha Gourangga di Desa Adat Sidikarya memang diperuntukkan sebagai tempat ibadah, berkumpul, hingga melangsungkan upacara versi kepercayaan Sampradaya. Kegiatan beribadahnya pun terlihat rutin dilaksanakan sebulan sekali dan hari-hri tertentu.
Kalau ashramnya khusus untuk tempat ibadah dan upacara versi mereka (Hare Krishna, Red). Pengurus asramnya ada, tapi tinggal di rumah biasa yang lokasinya tak jauh dari ashram,” papar Sitama.
Penutupan Ashram Hare Krishna dihadiri unsur sejumlah Lembaga Sosial Masyraakat (LSM) pemerhati agama, seperti Sandi Murti Indonesia, Yayasan Jaringan Hindu Nusantara, Bramastra dan lainnya agak memanas. Karenanya Bandesa Adat Sidikarya belum hadir dan kegiatan berjalan aman kondusif hingga selesai pada pukul 11.40 Wita.
“Bramastra bersinergi bersatu bersama beberapa elemen masyarakat terkait polemik yang terjadi di Bali khususnya terkait Sampradaya aliran non Deshtra Bali ,” kata I Gusti Ngurah Samadi Ketua Umum Bramastra.
“Kami memperingatkan terlebih dahulu di kegiatan hari ini, karena Bandesa Adatnya belum tampak hadir,” tegasnya.
“Bramastra dan beberapa elemen masyarakat Hindu Bali yang mengajegan adat,tradisi, budaya Hindu Bali melakukan penyetopan kegiatan yang jauh sekali dari Catur Destra Bali, selanjutnya Kami akan bersinergi dengan Bandesa Adat Sidikarya”, paparnya.
” Bramastra sendiri ingin menyadarkan pada masyarakat Hindu Bali khususnya aliran yang tidak sesuai dengan mengunakan Topeng Hindu Bali karena sudah tidak sesuai dengan Destra Bali dan Kami akan menutup semua ashram Hare Krishna.”tutupnya
“Kegiatan hari ini Kami memberikan dukungan kepada MDA dan PHDI yang sedang dilemahkan oleh kelompok yang anti adat dan budaya Hindu Bali.” kata Kantha Adyana Ketua Umum Yayasan Jaringan Hindu Nusantara.
“Saya sebagai Ketua YJHN meminta PHDI pro aktif dan quick respons dalam masalah yang dapat menimbulkan kegaduhan di pulau Bali khususnya,” tegas Kantha Adnyana .
“PHDI harus mengambil sikap tegas keluarkan Hare Krishna dari pengayoman PHDI.”pungkasnya. (Nayaka/Adi)





