Antisipasi Banjir Musim Hujan, Gerakan Gotku Resik Libatkan Warga dan BPBD Kota Probolinggo

PENJURU.ID | Probolinggo – Menghadapi potensi meningkatnya genangan air saat musim penghujan, warga RW 10 Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Probolinggo menggelar kerja bakti melalui Gerakan Gotku Resik, Rabu (4/11/2026).

Aksi peduli lingkungan tersebut dilaksanakan di sepanjang kawasan Patiunus, Jalan KH. Mansyur, dengan melibatkan Lurah Mangunharjo beserta staf, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Ketua RW, para Ketua RT, serta masyarakat setempat.

Kegiatan ini difokuskan pada pembersihan saluran drainase, selokan, dan lingkungan permukiman. Warga bersama unsur pemerintah dan petugas BPBD bergotong royong mengangkat sampah serta endapan lumpur yang berpotensi menghambat aliran air.

Gerakan tersebut menjadi salah satu langkah preventif untuk meminimalkan risiko banjir di kawasan permukiman. Pasalnya, saluran air yang tidak terawat dapat menyebabkan aliran air tersendat, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Probolinggo, Boedi Harjanto, melalui Sekretaris BPBD, Dedy Ristantama, menyampaikan bahwa keterlibatan masyarakat dalam kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari upaya membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana.

“Antisipasi banjir tidak bisa hanya dilakukan ketika air sudah meluap. Perlu ada langkah pencegahan sejak dini, salah satunya dengan memastikan saluran air tetap bersih dan tidak tersumbat sampah maupun endapan lumpur,” ujar Dedy.

Ia menjelaskan, kegiatan kerja bakti seperti Gerakan Gotku Resik memiliki nilai strategis karena mengedepankan keterlibatan langsung masyarakat dalam mengurangi potensi risiko bencana di wilayah masing-masing.

Menurutnya, upaya penanggulangan bencana membutuhkan kesadaran kolektif. Karena itu, masyarakat diharapkan tidak hanya aktif ketika ada kegiatan kerja bakti, tetapi juga membiasakan diri menjaga kebersihan lingkungan dalam aktivitas sehari-hari.

Dedy juga mengajak warga untuk lebih memperhatikan kondisi saluran drainase di sekitar tempat tinggalnya. Dengan perawatan secara rutin, fungsi saluran air dapat tetap terjaga sehingga risiko genangan akibat penyumbatan bisa ditekan.

Senada dengan hal tersebut, Lurah Mangunharjo, Ikrom Wida Utama, menilai Gerakan Gotku Resik menjadi momentum penting untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap persoalan kebersihan lingkungan.

“Kami sangat mengapresiasi kebersamaan seluruh pihak dalam kegiatan ini. Persoalan kebersihan lingkungan, khususnya saluran air, membutuhkan kesadaran dan partisipasi seluruh warga. Jangan sampai kita baru bergerak setelah terjadi genangan atau banjir,” kata Ikrom.

Ia menegaskan, pemerintah kelurahan terus mendorong budaya gotong royong sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman. Menurutnya, keterlibatan warga menjadi faktor utama agar program kebersihan lingkungan dapat berjalan secara berkesinambungan.

Ikrom juga mengingatkan pentingnya kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Saluran air harus dijaga bersama agar tidak berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang pada akhirnya merugikan masyarakat sendiri.

Sementara itu, Ketua RW 10 Kelurahan Mangunharjo, Didik, mengatakan kegiatan kerja bakti tersebut mendapat respons positif dari masyarakat. Ia menyebut keterlibatan warga secara langsung merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan tempat tinggal mereka.

“Melalui Gerakan Gotku Resik ini, kami bersama warga berupaya memastikan saluran air di lingkungan RW 10 tetap bersih. Harapannya, ketika hujan turun, aliran air tidak terganggu oleh sampah maupun lumpur yang menumpuk,” ungkap Didik.

Ia berharap kegiatan semacam ini tidak hanya menjadi agenda sesaat, tetapi dapat terus dilaksanakan secara rutin dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, menjaga kebersihan lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya ketika ada program kerja bakti.

Didik juga mengajak warga untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan selokan di sekitar rumah masing-masing. Sebab, sampah yang dibuang sembarangan dapat menumpuk dan menjadi salah satu penyebab tersumbatnya saluran air.

Selain berorientasi pada pencegahan banjir, kegiatan tersebut sekaligus menjadi wadah mempererat hubungan sosial antarwarga. Kebersamaan antara masyarakat, pemerintah kelurahan, aparat kewilayahan, dan BPBD menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dapat ditangani melalui kolaborasi.

Semangat gotong royong yang terlihat dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kebersihan lingkungan merupakan investasi bersama untuk menciptakan kawasan permukiman yang lebih sehat dan aman.

BPBD Kota Probolinggo bersama pemerintah Kelurahan Mangunharjo pun berharap Gerakan Gotku Resik dapat menjadi pemicu bagi masyarakat untuk lebih aktif melakukan pemeliharaan lingkungan secara mandiri dan berkelanjutan.

Dengan saluran air yang bersih, lingkungan yang terawat, serta partisipasi masyarakat yang terus terjaga, potensi genangan dan banjir di wilayah RW 10 Kelurahan Mangunharjo diharapkan dapat diminimalkan. Langkah sederhana melalui kerja bakti tersebut menjadi wujud nyata kepedulian bersama dalam membangun lingkungan yang lebih tangguh menghadapi musim penghujan.

(Prasojo)

Pos terkait