Amien Rais: Politik Lebensraum China, Pilihan buat Jokowi Terus Maju atau Mundur

  • Whatsapp
Amien Rais, foto: instagram @amienraisofficial

PENJURU.ID| Jakarta – Politisi senior Mohammad Amien Rais selalu konsisten mengkritisi setiap kebijakan pemerintah. Kali ini sang reformis memberikan ultimatum terhadap presiden Joko Widodo atas dominasi politik luar negeri China di Asia Tenggara. Menurutnya, presiden Jokowi harus mewaspadai pengaruh Negeri Tirai Bambu itu karena perlahan akan menguasai Indonesia lewat ekspansi politiknya.

“Dengan memberikan angin kencang buat kebangkitan komunisme, presiden Jokowi mungkin tidak menyadari bahwa RRC sesungguhnya sedang menjalankan politik Lebensraum, yakni politik ekspansionisme untuk secara perlahan menguasai Negara-negara di Asia Tenggara, yakni Filipina, Vietnam, Brunei dan Indonesia serta Taiwan yang dianggap bagian integral wilayah RRC,” kata Amien dalam unggahan video melalui akun intragram @amienraisofficial pada Jum’at (14/8/2020).

Bacaan Lainnya

Tak diragukan lagi, lanjut Amien, presiden RRC Xi Jinping yang juga Sekjen PKC itu diberikan keleluasaan untuk memimpin Negara komunis itu seumur hidup. Tujuannya agar menghegemoni dunia melalui upaya mengidupkan kembali Pax-Sinica (hegemoni Tiongkok atas wilayah Asia Timur). Dan cara yang efektif untuk mencapai hegemoni itu yaitu melalui laut dan darat atau dikenal dengan istilah jalur sutera lewat misi OBOR (one belt one road).

“Tidak perlu diragukan bahwa Xi Jinping merupakan tokoh besar komunisme China dan telah diberi kesempatan memimpin China seumur hidup. Kini ia berusaha sangat keras membangun Pax-Sinica. Xi dan para kameradnya di PKC membayangkan China akan menggenggam supremasi atau hegemoni dunia, dan salah satu cara yang efektif adalah dengan membangun dua jalur Sutera, di darat lewat one belt one road (OBOR).  Mencapai keunggulan dunia lewat supremasi ekonomi. Gagasan ini mula-mula di lontarkan oleh Xi Jinping pada 2013, tetapi pada 2016 nama One Belt One Road Strategy diubah menjadi BRI (Belt Road Initiative),” terangnya.

Kendati demikian, eks guru besar ilmu politik UGM ini menambahkan, kini ambisi China itu mulai melemah dikarenakan pertumbuhan ekonomi dalam negerinya makin mengecil akibat dihantam dua bencana sekaligus, yakni bencana Covid-19 dan banjir bandang. Sehingga dirinya memprediksi ekonomi negera raksasa di kawasan Asia itu akan terus menurun.

“Ambisi China yang direncanakan akan tercapai pada 2049 dengan tercapainya Pax Sinica itu kini mulai melemah, mengapa? Karena pertumbuhan ekonomi China yang makin kecil, bahkan sebelum dilanda Covid-19, BRI direncanakan melewati 68 negara yang penduduknya berjumlah 65% penduduk dunia dan mencakup sekitar 40% produk domestik global pada tahun 2017. GDP (Growth Domestic Produk) China di kwartal kedua tahun 2020 ini anjlok menjadi 3%, sementara pada 2019 masih bertengger di angka 6,1% dengan adanya banjir besar yang melanda tinggi berbagai wilayah China dua minggu yang lalu, maka diperkirakan terus anjlok GDP nya itu menjadi paling 2%. Penurunan GDP China ini kemungkinan besar akan memperlemah tangan jail China,” pungkasnya.

(LA)

Pos terkait