4 Alasan Ilmiah Kenapa Manusia Bisa Lupa

Seberapa sering sih kamu lupa? Kenapa ya kita bisa lupa?

Bagi sebagian orang, lupa adalah suatu penyakit buruk, sedang yang lain menganggapnya sebagai hal yang wajar. Namun, sangat jelas bahwa lupa yang terlalu sering akan sangat mengganggu kehidupan kita.

Pada dasarnya, dalam mengingat suatu hal, otak kita harus melewati proses pengkodean informasi yang masuk ke dalam otak (encoding), proses penyimpanan informasi (storage), dan barulah terjadi proses pengambilan informasi di dalam otak kita (retrieval).

Menurut Model Tiga-Tahap oleh Richard Atkinson & Richard Shiffrin[1], proses pembentukan informasi yang akan kita ingat, akan melalui tiga tahapan memori. Pertama, Sensory Memory, bertugas untuk merekam informasi yang akan diingat secara sekilas. Selanjutnya, informasi akan diteruskan ke dalam Short-term Memory atau Working Memory. Pada tahap ini, informasi yang masuk akan diberikan kode khusus untuk dipahami. Apabila informasi yang telah dikodekan mengalami pengulangan / dilatih terus menerus, maka informasi tersebut dapat masuk menuju Long-term Memory. Dimana, informasi-informasi yang berhasil masuk ke dalam Long-term Memory, dapat diingat jauh lebih lama. Disebut Working Memory karena, pada tahap ini kita tidak hanya memproses masuk informasi dari luar ke dalam diri. Tetapi, kita akan memproses informasi yang masuk, mencocokkan dengan informasi yang sudah ada di dalam otak, membuat keputusan, dan juga tahap untuk mengingat informasi-informasi di dalam otak kita.

Daya ingat kita dipengaruhi oleh banyak faktor. Lupa, secara umum terjadi saat kita gagal memanggil kembali memori yang pernah kita simpan sebelumnya.

Dikutip dari Myers & Dewall (2015), terdapat 4 alasan mengapa kita bisa lupa, mari simak penjelasan berikut!

1. Encoding Failure (Kegagalan Pengkodean)
Encoding (pengkodean) adalah hal terpenting dalam pemrosesan informasi. Dalam hal ini, atensi sangat berperan penting. Kegagalan dalam mengingat, biasanya terjadi karena kegagalan pengkodean. Jika kita tidak ada keinginan untuk mengingatnya, maka proses atensi tidak digunakan. Misalnya, di saat kita bermain handphone sedang guru sedang menjelaskan materi. Nah! ketika tidak ada atensi, otak tidak memproses informasi dengan baik, dan tidak terjadi pengkodekan. Sehingga jelas saja kita tidak akan bisa mengingatnya, karena tidak ada informasi apapun yang tersimpan di dalam otak kita.

2. Storage Decay (Pembusukan Memori)
Sering tidak mendengar kata “Udahlah nanti juga lupa” atau “Nanti juga lupa seiring berjalannya waktu”?. Hal ini betul adanya. Sebuah informasi yang telah berhasil dikodekan dan disimpan, jika tidak terus diulang atau diingat dalam waktu dekat, maka memori tersebut dapat memudar dan hilang dari waktu ke waktu (membusuk) – bahkan memori yang sudah tersimpan di long-term memory kita. Misalnya, saat kita duduk untuk mendengarkan materi dikelas. Jika tidak kita ulang atau tidak kita gunakan sehari-hari maka materi itu akan berangsur-angsur menghilang.

3. Retrieval Failure (Kegagalan dalam Mengingat)
Seringkali, kita lupa bukan karena memori yang memudar, tapi karena kegagalan kita dalam mengambil memori yang sudah tersimpan. Seperti yang telah dijelaskan di atas, kita menyimpan apa yang penting untuk kita dan biasa kita latih di dalam long-term memory kita. Sedangkan proses pengambilan memori, terjadi di working memory. Kegagalan ini dapat terjadi akibat tercampurnya memori baru dan memori lama. Padahal, kita memerlukan isyrat-isyarat atau pemicu yang sama seperti saat kita menyimpan memori itu, untuk mengingat. Tercampur atau kurangnya pemicu untuk memori yang akan kita ingat, membuat kita menjadi lupa.

4. Motivated Forgetting (Lupa Bermotivasi)
Sigmund Freud berpendapat bahwa sistem memori kita dapat menyensor informasi kita dengan sendiri. Freud mengusulkan bahwa ketika terdapat informasi atau memori yang tidak kita inginkan, otak kita akan membentuk pertahanan dengan menekan kenangan yang menyakitkan atau yang tidak dapat diterima untuk melindungi konsep diri kita dan untuk meminimalkan kecemasan. Singkatnya, kita bisa lupa karena suatu memori tersebut terlalu traumatis buat kita ingat. Misalnya, pengalaman kita saat kecil melihat pertikaian orang tua.

Lantas, mengapa kenangan tentang mantan selalu kita ingat?

Hal ini dikarenakan seluruh proses memori kita, akan berkaitan dengan “Emosi”. Emosi yang ada pada peristiwa, akan menggerakan hormon yang memberikan sinyal pada otak bahwa “Sesuatu yang penting telah terjadi!”. Hingga akhirnya, otak akan meningkatkan aktivasinya untuk membentuk memori.

Bahkan, otak akan “Membakar” peristiwa-peristiwa lain didalam otak yang tidak memiliki arti. Sehingga, peristiwa dengan emosi lebih yang hanya akan diproses dan tersimpan jauh lebih lama, seolah memiliki ruang khusus.

Begitu pula dengan kenangan-kenangan kita bersama mantan. Disaat belum menjadi mantan, emosi bahagia yang menyelimuti, membuat peristiwa-peristiwa itu tersimpan khusus. Ketika putus, peristiwa ini membuat kita memiliki emosi sedih, marah, kecewa yang sangat besar.

Akibatnya, peristiwa putus ini akan kita ingat selalu, bahkan terkait dengan memori perasaan sakit dan sedih yang kita rasakan saat itu. Ditambah lagi, banyak tempat atau benda yang mungkin memiliki kenangan bersama dengan mantan. Pemicu ini lah yang membangkitkan ingatan baik atau buruk kita terhadap mantan dan membuatnya semakin sulit lupa.

Meski Freud mengusulkan bentuk pertahanan untuk melupakan (Motivated Forgetting), tetapi bentuk ini akan lebih terkait pada peristiwa yang tidak secara natural kita inginkan, bukan terkait dengan peristiwa yang emosional.

Oleh karena itu, untuk meredakan ingatan kita tentang mantan pacar, sebaiknya kita mencoba merubah emosi-emosi negatif atau positif yang berlebih menjadi emosi yang lebih netral. Meski memori itu tidak akan hilang sepenuhnya, setidaknya kita hanya akan sekedar teringat bahwa “ada peristiwa” tersebut di dalam kehidupan kita dan tidak akan terganggu dengan itu semua. Mungkin bisa dengan mencari aktivitas yang lebih berkesan ? Jadi kita bisa lupa karena ada memori lain yang jauh lebih berkesan buat kita.

Daftar Pustaka
Myers, David G & Dewall, C. Nathatan. 2015. Psychology in Modules 11th Ed. USA: Worth Publishers.

 

Penulis : Sonia Katerina & Dina Aulia

Pos terkait