PENJURU.ID | Karanganyar – Team Ganesha melakukan kajian panjang terkait sejarah berdirinya Kerajaan Pajang. Untuk mengetahui berdirinya Kerajaan Pajang. Team Ganesha pada tahun 2021 melaksanakan kegiatan yang mewakili sebagian besar para pecinta sejarah di nusantara ini.
“Pada awal tergabungnya Team Ganesha adalah sebuah gagasan setelah datang melihat tapak jejak Kerajaan Pajang dan melihat bangunan Kerajaan Kartosuro di wilayah Kartosuro,” kata Soekarno Ajie saat di konfirmasi penjuru.id di kediamannya dibilangan Karanganyar pada Minggu, (25/04).
Sukarno Aji menjelaskan saat melihat bentuk petilasan Kerajaan Pajang yang sangat jauh dari pandangan kami terhadap Sejarah Keraton Pajang untuk bangunan yang dibentuk oleh kelompok menjadi Kasultanan Pajang lalu kami tergerak untuk melakukan penelusuran jejak Kerajaan Pajang dengan membentuk Team Ganesha untuk melakukan pelurusan sejarah sesuai dengan aslinya.
“Karena Kerajaan Pajang merurut Team Ganesha adalah Cikal Bakal Keraton Surakarta Hadiningrat, dengan Mangkunegaran, Keraton Yogyakarta Hadiningrat bersama Paku Alaman adalah dua kerajaan yang masih berdiri hingga saat ini,” tegasnya.
“Kami membentuk Team Ganesha yang dimotori oleh Sukarno Adji, Agus Haryanto. Roni Anggoro untuk menelusuri jejak Kerajaan Pajang ini. Terbentuk Kerajaan Pajang yang dahulunya Kadipaten Pajang”,imbuhnya.
Setelah diketahui bahwa Putrinya mengandung dengan Jaka Tingkir, dan juga atas keberhasilnya Jaka Tingkir membunuh Kebo Danu. Akhirnya Jaka Tingkir dinikahkan oleh Sultan Trengono dengan Putri Nyimas kambang/Ratu Mas Cepaka, juga dihadiahkan Kadipaten Pajang dan diberi Gelar Adipati Hadiwijaya.
Kadipaten Pajang
Setelah menjadi Adipati Pajang maka dari sini cikal bakalnya Kerajaan Pajang. Diawali dengan kejadian yang tertulis (didalam kisah Jaka Tingkir) hingga terjadinya keinginan Ratu Kalinyamat agar Adipati Pajang membunuh Arya Penangsang dari Jipang Panolan sebagai Raja Kerajaan Demak.
Lalu Adipati pajang Hadiwijaya mengadakan sayembara Apabila bisa membenuh Arya Penangsang maka akan diberikan Pati dan Mataram sebagai hadiahnya. Sayembara tersebut di terima Ki Ageng Pemanahan dan Putranya yang remaja Danang Sutowijaya serta Ki Panjawi.
Kemudian Danang Sutowijoyo yg berhasil membunuh dan menewaskan Aryo Penangsang dengan tombak Kyai Pleret maka untuk menyiasati hadiahnya Mataram dan Pati, dilaporkan peristiwa terbunuhnya Aryo Penangsang adalah Ki Ageng Pemanahan dan Ki Panjawi yang telah membunuh Arya Penangsang.
Kerajaan Demak Dipndahkan ke Pajang
Peristiwa terbunuhnya Aryo Penangsang membuat Kalinyamat senang dan memberikan hadiah semua hartanya dan jepara kepada Ki Ageng Pamanahan namun ditolaknya karna sudah mendapat hadiah dari Adipati Hadiwijaya berupa pati dan mataram maka hadiah kalinyamat disarankan diberikan ke Adipati Hadiwijaya saja. Ratu Kalinyamat menerima dan memberikan kepada Adipati Pajang.
Pada kesempatan ini Kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang sehingga Kerajaan Pajang dengan Sultan Hadiwijaya sebagai Rajanya maka Kerajaan Demak berubah menjadi Kerajaan Pajang dengan Rajanya Sultan Hadiwijaya tengelamlah Kerajaan Demak dengan munculnya kerajaan baru itu menjadi Kerajaan Pajang.
Kerajaan Pajang
Pajang terlihat sebagai kerajaan pertama yang muncul di pedalaman Jawa setelah runtuhnya Kerajaan Islam di daerah Pasisir. Menurut naskah babad, Andayaningrat gugur di tangan Sunan Ngundu saat terjadinya perang antara Majapahit dan Demak.
Ia kemudian digantikan oleh putranya, yang bernama Raden Kebo Kenanga, bergelar Ki Ageng Pengging.
Sejak saat itu Pengging menjadi daerah bawahan Kerajaan Demak.
Beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging pergi meninggalkan Demak sampe pada pengamuknya kebo Danu
Kebo Kenongo atau yang disebut Ki Ageng Pengging adalah salah satu punggawa di Kasultanan Demak Bintoro di karenakan antara Penging dengan Demak Bintoro jaraknya jauh maka di berikan tempat tinggal kepada Kebo Kenongo beserta sang istri yang bernama Martinjung/ Rukmini.
Istri Kebo Kenongo atau Martinjung adalah wanita yg sangat cantik, saking cantikanya membuat banyak orang terpesona akan kecantikanya tidak luput dari perhatian sang Sultan Trenggono. Secara diam diam ternyata sang Sultan menyimpan rasa kepada Martinjung.
Pada suatu hari paseban di Kasultanan Demak Bintoro membahas mengenai masih banyaknya para pengikut Majapahit yang memberontak dan masih memeluk agama Hindu maka di butuhkan berbagai cara agar bisa memeluk Agama Islam.
Muncul beberapa usulan dari para wali dan para punggawa kasultanan, Salah satu usulan juga muncul dari Sunan Kudus agar kawulo Demak Bintoro bisa tunduk dan patuh kepada Sultan diberikan suatu syareat (syarat).
Syaratnya adalah dengan tumbal Pari Rondo Laweyan yang berambut, maka di utuslah Kebo Kenongo untuk mencari syarat Pari Rondo Laweyan yang berambut, segera Kebo Kenongo kembali ke pondokan untuk berpamitan kepada sang istri.
Kebo Kenongo dan Martinjung sudah menikah beberapa tahun tetapi belum dikaruniai anak kemudian Kebo Kenongo meninggalkan sang istri untuk tugas yang diperintahkan oleh Sultan Trenggono.
Kepergian Kebo Kenongo ini dimanfaatkan oleh Sultan Trenggono untuk mendekati Martinjung hingga akhirnya Martinjung mengandung hasil dari hasrat sang Sultan Trenggono.
Perjalanan Ki Kebo Kenongo sudah berlangsung 8 bulan belum menemukan apa yang dimaksud dengan Pari Rondo Laweyan Mowo Rekmo.
Kemudian Kebo Kenongo berniat melakukan ritual Kumkum untuk menemukan petunjuk dimana keberadaan syarat yang dimaksud di saat di tepi sungai (Sungai Opak) ditemui oleh Sunan Kalijaga, Kebo Kenongo diberi tahu bahwa Pari Rondo Laweyan Mowo Rekmo itu tidak ada kemudian Kebo Kenongo diminta pulang kembali ke Pengging dikatakan bahwa Pari Rondo Laweyan yang berambut sudah ada di Pengging tidak lain dan tidak bukan adalah sang istrinya (Matinjung/Rukmini).
Sesampai dirumah Kebo Kenongo sangat terpukul melihat istri yg sangat disayangi sedang hamil Tua, kemudian sang istri menceritakan apa yang terjadi setelah kepergian Kebo Kenongo bahwa jabang bayi yang di kandung itu dalah hasil hubungan dengan Sang Sultan.
Sang sultan Trenggono menjanjikan anak yang dikandung Martinjung kelak akan menjadi penerus kerajaan Demak.
Martinjung merasa bersalah dan berdosa dia rela mati setelah melahirkan si jabang bayi, kemudian Kebo Kenongo berniat pergi ke Demak Bintoro untuk membalas sakit hatinya. Sebelum sampe di Demak Bintoro bertemu kembali dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Kalijaga memperingatkan agar tidak membalas dendam dan anjuran itupun diikuti oleh Kebo Kenongo hingga sampe ada mengamuknya kerbau di alun-alun Kasultanan Demak Bintoro (Kebo Danu).
Setelah kepergian Kebo Kenongo kemudian Martinjung melahirkan si bayi di saat ada sebuah pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Sabdo Bawono (Ki Angeng Tingkir) di Pengging dimana desa tempat tinggal Kebo Kenongo dan pada saat pagelaran wayang sedang berlangsung terlahir bayi dari rahim Martinjung kemudian di bawa ke tempat berlangsungnya pagelaran wayang tersebut.
Sudah menjadi tradisi bahwa ketika dalang sedang mendalang kemudian di daerah tempat menggelar wayang ada kelahiran bayi maka anak yang terlahir tadi menjadi anak angkat dari Ki dalang, setelah melahirkan martinjung maninggal Kunduran.
Setelah dipangkuan sang dalang, bayi tersebut diberi nama Karebet dikarenakan saat Pentas Wayang malam hari itu ada suara suara dari salah satu wayang ketika di mainkan terkena angin krebet krebet.
Kemudian anak tersebut dirawat oleh Nyai Rondo Ki Ageng Tingkir dikarenakan setelah pagelaran wayang di Pengging beberapa hari kemudian Ki Ageng Tingkir meninggal dunia.
Jaka tingkir diasuh dan dirawat oleh Nyi Ageng Tingkir hingga menjadi perjaka yang tampan ulet dan prigel, pada suatu hari bertemu dengan Sunan Kali jaga, Jaka tingkir diberikan wawasan agar merubah nasib untuk pergi ke Demak Bintoro menemui adik dari Nyi Ageng Tingkir yang berada di Demak sebagai penunggu surau atau masjid .
Jaka Tingkir lalu pergi ke Demak dan bertemu dengan pamanya. Jaka Tingkir membantu sang paman di Masjid Agung Demak. Dialun- alun Demak ada pendadaran prajurit pada kesempatan itu Jaka tinggkir mengikuti gladi
barang siapa bisa mengalahkan tetunggul parajurit maka di berhak menjadi lurah prajurit.
Jaka Tingkir berhasil mengalahkan tetungule prajurit yg bernama Dadung ngawuk kemudian di hadapkan kepada Probosemi . Probo semi adalah Demang di Demak bintoro dan bersamaan dengan itu Probosemi memerintahkan Jaka Tinggkir mengirimkan surat kepada putri Kedataon Demak bintoro yg bernama Nyimas Kambang (Cempoko).
Diisaat itulah pandangan pertama Nyimas Kambang jatuh hati kepada Jaka tingkir
berlangsungnya waktu akhirnya diketahui oleh Probosemi saat Jaka tingkir sedang berada di Kaputren dilaporkanlah kepada sang Sultan Trenggono .
Sutan Trenggono marah besar kepada Jaka Tingkir hingga di usir dari kerjaan Demak Bintoro, kemudian Jaka tingkir hendak kembali Ke Tingkir diperjalanan Jaka Tingkir sangat kecewa dan memutuskan untuk mencari kedamain diri, akhirnya memutuskan untuk pergi ke suatu desa di Majasto ada seorang sesepuh yg terkenal bisa mengayomi dan membimbing pemuda pemuda di sana yang bernama Ki Ageng Butuh singkat cerita ternyata Ki Ageng butuh adalah saudara tunggal guru dengan Kebo Kenongo ketika berguru dengan Syehk Siti Jenar.
oleh Ki Ageng Butuh di berikan bimbing hingga akhirnya Ki ageng Butuh menpertemukan dengan Ki Ageng Banyu Biru
Ki Ageng Banyubiru juga salah satu kakak seperguruan Kebo Kenongo dan Ki Ageng Butuh setelah di berikan ilmu Kanuragan dan dianggap sudah mumpuni maka di berikanlah pusaka Sadak yang pada akirnya bisa
menaklukan Kebo Danu .
Setelah dianggap cukup maka Jaka Tingkir di perintahkan oleh Ki Ageng Banyubiru untuk kembali ke Demak Bintoro dikarenakan ada ontran ontran di Demak Bintoro karena pengamuknya Kebo Danu, kemudian Jaka Tingkir pergi mengkitui sayembara yang di umuman oleh sang Sultan.
Jaka Tingkir di temani oleh 3 orang siswa dari Ki Ageng Banyubiru melakukan perjalan melalui sungai bengawan sesampainya di kedung srengenge bertemu dengn seekor buaya sehingga terjadi gangguan yang akhirnya siluman buaya tersebut bisa dikalahkan dan berjanji mengatarkan JakaTingkir sampai Demak Bintoro yang diusung oleh 40 buaya. tembang (sigro milir)
Sesampainya Demak Bintoro Jaka Tingkir lalu bisa menaklukan Kebo Danu yang mengamuk saat disayembarakan oleh sang Sultan siapa yang mampu mengalahkan Kebo Danu maka akan dinikahkan dengan Putri kedaton Nyimas Ratu Kambang (Cempoko) dan akan diberikan Gelar Kasultanan, ia diangkat sebagai menantu Trenggana, dan menjadi Bupati Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya.
Sepeninggal Trenggana tahun 1546, selanjutnya Sunan Prawoto naik takhta. Namun Sultan Prawoto kemudian tewas dibunuh sepupunya, yaitu Arya Penangsang Bupati Jipang Panolang tahun 1547.
Arya Penangsang juga berusaha membunuh Hadiwijaya namun gagal,dengan dukungan Ratu Kaliyamat (Bupati Jepara dan Puteri Trenggana), Hadiwijaya dan para pengikutnya berhasil mengalahkan Arya Penangsang. Hadiwijaya selanjutnya merebut takhta Demak lalu mendirikan Kerajaan Pajang.
Dalam memahami sejarah, tim ganesha mulai melakukan kajian ilmiah dari sejarah itu sendiri. Kebanyakan tulisan sejarah terkadang membinggungkan ketika kita mengikuti sejarah dengan membaca tulisan sejarah dari Google yang selalu menjadi patokan pelaku sejarah dalam memaknainya.
“Sehingga kita sebagai pewaris dari leluhur Nusantara tidak banyak memahami kebenarannya, maka dari itu Team Ganesha dalam melakukan kajian sejarah dengan bukti dari sebuah sejarah itu sendiri bukan dengan melakukan tapi dengan membaca dari Google yang menurut Team Ganesha belum tentu benar karrna banyak pembelokan sejarah yang telah terjadi, misalnya sebuah peristiwa pasti ada sebab dan akibat yg bisa kita kaji dan telusuri”, jelas Sukarno Aji.
Lanjut Sukarno Aji mengatakan seperti Rekontruksi Jejak Sejarah Pajang bisa kita awali dari yang sebenarnya terjadi di wilayah kita tentunya yang bisa kita telusuri dari setiap kajian dan kita lakukan pembuktian dari hasil kajian tersebut untuk menarik benang merah kisah yang telah banyak beredar dan berkembang menjadi kebenaran sejarah itu sendiri.
Kebenaran dari benang merah Kerajaan Pajang yang kita baru kaji bersama Team Ganesha adalah suatu tindakan untuk menelusurinya dalam membuat perubahan sejarah yang telah terjadi sebagai wujud dan bentuk kita untuk memberikan pengertian agar dipelajari dengan tujuan kita melakukan kajian tersebut.
Menurut pendapat kita bahwa cerita di kisah sejarah kadang ada yg perlu kita cermati dan teliti setiap tulisannya sehingga mengarah pada pembenaran bukan kebenaran sejarah itu sendiri.
Meskipun sulit dalam melakukan kajian dari sebuah peristiwa tapi tim menduga ada hal yang perlu diluruskan dari sebuah peristiwa sejarah “Kerajaan Pajang”.
Seperti terjadi peristiwa ini diawali dari tulisan sejarah yang kita pelajari pada akhirnya melihat semua peristiwa dari yang kita baca selama ini yang menjadi patokan kebenarannya adalah “Pararaton” dan “Negarakertama” mengenai cerita dari Jaka Sengara ayah dari Ki Ageng Pengging dan terakhir yang sedang dikaji adalah Mas Karebet/Joko Tingkir /Hadiwijaya. Sebagai pendiri dari Kerajaan Panjang yang akan kita bedah dan kaji tersebut.
Silsilah Keturunan Andayaningrat
Andayaningrat bernama asli Jaka Sengara dari Pengging, menurut sejarah Ia merupakan penculik serta pembunuh dari putri Brawijaya V.
Jaka Sengara dinikahkan dengan putri dari Brawijaya V dan mendapat Gelar Andayaningrat Ki Ageng Pengging Sepuh dan permaisurinya Ratu Pambayun memiliki 3 putra yaitu :
1. Kebo Kanigoro
2. Kebo Kenanga
3. Kebo Amiluhur
Ketika putranya tidak dapat memiliki keturunan artinya Andayaningrat tidak mempunyai garis keturunan sampai kepada anak-anaknya dan tidak ada penerusnya lagi.
Tetapi dari tulisan sejarah hanya Kebo Kenanga yang memiliki putra Tunggal yaitu “Mas Karebet” dan menjadi alasan Raja Kerajaan Demak menjadikan Mas Karebet sebagai saudara perjuangan.
Semoga dengan kebersamaan dan persatuan serta kesatuan kita bersama berbagi untuk apa yang sedang kami lakukan untuk kebaikan semuanya. Di Kerajaan Pajang sendiri sebenarnya adalah cikal bakal dari Kemerdekaan Republik Indonesia disini kita akan berbicara dengan dilandasi sebuah tujuan untuk kebenaran sejarah ini,” pungkasnya.
(Adi/Red)





